<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-25280484</id><updated>2012-02-11T09:25:52.513-08:00</updated><category term='Revolusi'/><category term='Reformasi'/><category term='BEM'/><category term='Greenpeace'/><category term='Mogok Makan'/><category term='Penebangan Liar'/><category term='Penangkapan'/><category term='BBM'/><category term='Gerakan Mahasiswa'/><category term='Editorial Media'/><category term='Artikel'/><category term='Aliansi'/><category term='TDL'/><category term='Orde Baru'/><category term='Demonstrasi'/><category term='Daerah'/><category term='Berita'/><category term='PMKRI'/><category term='Soeharto'/><title type='text'>Gerakan Mahasiswa</title><subtitle type='html'>Kumpulan Tulisan dan Berita tentang Gerakan Mahasiswa</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>23</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25280484.post-8669716347626687739</id><published>2006-12-12T20:39:00.000-08:00</published><updated>2006-12-11T20:43:37.083-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penebangan Liar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Greenpeace'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penangkapan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Demonstrasi'/><title type='text'>23 Aktivis Greenpeace Dibebaskan</title><content type='html'>&lt;span class="textreporter"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;M. Rizal Maslan &lt;/span&gt;- detikcom&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;     &lt;strong&gt;Jakarta&lt;/strong&gt; - 23 Aktivis Greenpeace yang sempat ditahan polisi setelah melakukan aksi unjuk rasa di Departemen Kehutanan (Dephut), akhirnya dibebaskan. Namun harus lapor Senin-Kamis sampai batas waktu yang belum ditentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mereka dibebaskan tadi pukul 03.30 WIB, tapi harus wajib lapor sebanyak 2 kali dalam satu minggu," kata Media Kampanye Greenpeace, Ann Sjamsu kepada &lt;b&gt;detikcom&lt;/b&gt;, Selasa (12/12/2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, 23 aktivis itu termasuk Ketua Juru Kampanye Hutan Greenpeace wilayah Asia Tenggara, Hasporo ditahan saat melakukan pemblokiran pintu masuk Dephut di Gedung Manggala Wanabhakti, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Senin (11/12/2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23 Aktivis itu semalaman diperiksa dan ditahan di ruang Reserse dan Kriminal Umum, Polda Metro Jaya, di Jalan Sudirman, Jakarta. Mereka dituding telah melanggar Pasal 335 KUHP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tadi pagi pemeriksaannya dianggap selesai oleh penyidik polisi. Mereka juga masih menunggu langkah selajutnya, apa yang akan dilakukan pelapor," jelas Ann.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Greenpeace sendiri kemarin melakukan aksi unjuk rasa untuk menuntut agar Dephut mencabut semua izin penebangan kayu hutan dan tidak mengeluarkan izin HPH baru. Alasannya, kerusakan hutan di Indonesia sudah sangat kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilayah hutan alam di Indonesia hilang sebanyak 72 persen akibat penebangan kayu industri berskala besar dan penebangan kayu liar. Untuk tahun 2005, Dephut memperkirakan kerusakan hutan telah mencapai 2,8 juta hektar setiap tahunnya. Seharusnya pemerintah bertindak tegas untuk mencegahnya, yaitu dengan mencabut izin HPH. &lt;span style=";font-family:'MS Sans Serif',Geneva,sans-serif;font-size:78%;"  &gt;&lt;b&gt;&lt;b&gt;(zal/sss)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/12/tgl/12/time/103322/idnews/719028/idkanal/10"&gt;Sumber&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Blog ini dikerjakan oleh Anick HT, arek Ciputat yang melanglang buana di dunia maya.&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25280484-8669716347626687739?l=gerakanmahasiswa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/feeds/8669716347626687739/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25280484&amp;postID=8669716347626687739&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/8669716347626687739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/8669716347626687739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/2006/12/23-aktivis-greenpeace-dibebaskan.html' title='23 Aktivis Greenpeace Dibebaskan'/><author><name>admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25280484.post-6642837250624415308</id><published>2006-12-12T20:27:00.000-08:00</published><updated>2006-12-11T20:30:24.879-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penebangan Liar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Greenpeace'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Demonstrasi'/><title type='text'>Greenpeace Minta 23 Aktivisnya Dibebaskan</title><content type='html'>&lt;span class="textreporter"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; M. Rizal Maslan&lt;/span&gt; - detikcom&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;     &lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Jakarta&lt;/strong&gt; - Dianggap melakukan perbuatan tidak menyenangkan, 23 Aktivis Greenpeace ditahan polisi saat melakukan unjuk rasa di Departemen Kehutanan. Greenpeace meminta mereka segera dibebaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dimana letak keadilan, jika mereka yang berusaha melindungi hutan demi generasi mendatang justru ditahan, sedangkan pembunuh hutan kita tetap meneruskan praktik pengrusakan tanpa takut dijerat hukum?" tandas juru kampanye hutan Greenpeace Asia Tenggara Hapsoro seperti rilis yang diterima &lt;b&gt;detikcom&lt;/b&gt;, Senin (11/12/2006) malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hapsoro menuntut agar pemerintah segera menghentikan penganiayaan terhadap pihak-pihak yang berjuang mempertahankan hutan. Ia juga meminta semua izin penebangan hutan yang sudah ada dan tidak mengeluarkan izin baru untuk hak penebangan hutan (HPH).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk diketahui, Senin pagi sejumlah aktivis Greepeace melakukan unjuk rasa dengan cara memblokir pintu masuk Dephut dengan kayu dan rantai. Mereka memdesak Dephut untuk mencabut izin HPH yang diistilahkan sebagai pembunuhan hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Greenpeace menilai kerusakan hutan di Indonesia sangat drastis. Indonesia telah kehilangan 72 persen wilayah hutan alam dan 40 persen tutupan hutannya hancur. Hal ini akibat penebangan kayu industri bersekala besar dan penebangan liar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dephut bertanggungjawab atas kerusakan hutan Indonesia dengan memberikan izin operasi bagi HPH yang kenyataannya merupakan izin membunuh hutan kita," tegas Hapsoro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambahkannya, tahun 2005 Dephut memperkirakan kerusakan hutan telah mencapai 2,8 juta hektar setiap tahunnya. Seharusnya pemerintah bertindak tegas untuk mencegahnya, yaitu dengan mencabut izin HPH.&lt;span style=";font-family:'MS Sans Serif',Geneva,sans-serif;font-size:78%;"  &gt;&lt;b&gt;&lt;b&gt;(zal/zal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/12/tgl/12/time/050005/idnews/718856/idkanal/10"&gt;Sumber&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Blog ini dikerjakan oleh Anick HT, arek Ciputat yang melanglang buana di dunia maya.&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25280484-6642837250624415308?l=gerakanmahasiswa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/feeds/6642837250624415308/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25280484&amp;postID=6642837250624415308&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/6642837250624415308'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/6642837250624415308'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/2006/12/greenpeace-minta-23-aktivisnya.html' title='Greenpeace Minta 23 Aktivisnya Dibebaskan'/><author><name>admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25280484.post-6674819084986924451</id><published>2006-11-29T03:22:00.000-08:00</published><updated>2006-11-29T03:30:40.087-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gerakan Mahasiswa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Revolusi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>TEOLOGI PEMBEBASAN dan GERAKAN MAHASISWA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Oleh Herwindo&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 2pt; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Gerakan mahasiswa pada era rezim diktator Soeharto hingga saat ini, tidak sedikit pula yang memberikan label bahwa gerakan liberal mulai mengembang. Stigmatisasi kaum radikal mulai menjamur pada kalangan bawah (masyarakat biasa) dan menebarkan wahyu pemberontakan, juga hal yang sempat menjadi mitos terbesar dalam setiap gerakan mahasiswa. Namun tidak kalah banyaknya opini, bahwa mahasiswa Indonesia yang radikal dan progressiv dari berbagai lingkungan sosial serta lintas kultur mulai memainkan perannya, fungsi sosialnya melalui gerakan-gerakan pembebasan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 2pt; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Linkungan sosial di Indonesia mayoritas bangsa Indonesia yang religiusitasnya tinggi, menjadikan gerakan mahasiswa dengan misi pembebasannya dari penindasan totaliter Soeharto mendapatkan stereotip positif. Khususnya bagi umat Islam. Terideologisasi oleh teologi pembebasan. Tetapi di sini tidak berupaya untuk meng-klaim, bahwa gerakan penggusuran simbol orde baru (Soeharto) yang represif itu merupakan hasil kesadaran umat Islam yang menjadi mayoritas di Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 2pt; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Namun bila berbicara formasi sosial yang menindas dari rezim Soeharto, berekses lebih pada pemeluk Islam dan membentuk bola salju atas pegerakan pembebasan yang digulirkan oleh intelektual muda Indonesia merupakan bentuk geneologis dari &lt;i style=""&gt;violence&lt;/i&gt; yang dilakukan negara (state). Adanya sosial gap, kaya-miskin dan tumbuhnya konflik horisontal adalah, anak kandung dari kebijakan pemerintah maupun negara yang timpang. Tidak adanya pemerataan kesejahteraan sosial.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 2pt; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kemiskinan absolut yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bersumber pada minimnya pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan relatif yang merupakan akibat pertumbuhan ekonomi, menjadi abstraksi sosial yang nyata di Indonesia. Melalui “ideologi” pembangunan nasional, rezim Soeharto membangun kemiskinan dan krisis multi dimensional hingga sekarang. Kemiskinan adalah, sesuatu bisa (racun) disatu sisi dan memberi madu pada sisi lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 2pt; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Monopoli, kolusi, korupsi dan nepotisme sedari sang diktator Soeharto sampai saat ini merupakan komoditas yang surplus. Relasinya dengan tekstual teologi pembebasan yang bersinggungan dengan wacana agama sangat jelas yaitu, pembebasan aspek atau dimensi sosial dari teologi pembebasan melarang keras adanya eksploitasi dan manipulasi diberbagai bidang, baik secara fisik maupun psikis oleh dan/atau siapapun.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 2pt; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bentangan relevansi dalam tulisan ini diberikan dapatlah disisipkan contoh seperti, dalam bidang ekonomi praktek riba dan monopoli yang mengedepankan nilai lebih dilarang keras &lt;b style=""&gt;(Qs. Al Baqarah 275-278)&lt;/b&gt;. Segala bentuk zakat, infaq dan sedekah merupakan sugesti yang baik dan benar agar manusia tidak teralienasi atas dirinya dari lingkungan sekitarnya dan tidak mengadakan penimbunan harta yang mengakibatkan surplus yang pada akhirnya secara langsung mengeksploitasi manusia lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 2pt; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hal lainnya yang dapat dijadikan pijakan identifikasi nilai-nilai teologi pembebasan yaitu, manusia memiliki hak untuk hidup, manusia memiliki hak untuk bereproduksi, manusia memiliki hak untuk berpikir bebas dan manusia memiliki hak untuk mendapatkan keadilan. Empat pointer ini merupakan nilai-nilai teologi pembebasan dalam ajaran agama Islam yang mungkin juga merupakan ajaran agama-agama lain di dunia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 2pt; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ada atau tidaknya korelasi antara pergerakan kaum intelektual muda atau mahasiswa dengan teologi pembebasan masih perlu dicari validitasnya dan kebenarannya. Namun jikalau berbicara humanitas, yang lekat juga dengan ajaran agama yang menjadi nilai-nilai teologi pembebasan dari pergerakan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pembebasan untuk menciptakan perubahan sosial, yang dilancarkan mahasiswa bersama rakyat mungkin bukanlah hubungan yang insidental pula.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 2pt; line-height: 100%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Intinya perubahan harus tetap ada, apapun alasannya dan seperti apa perubahan yang menjadi kebutuhan mahasiswa ? Perubahan yang mendasar, Revolusi Sosial !!!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/frontnasional/teologi_pembebasan_dan_gerakan_m.htm"&gt;Sumber&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Blog ini dikerjakan oleh Anick HT, arek Ciputat yang melanglang buana di dunia maya.&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25280484-6674819084986924451?l=gerakanmahasiswa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/feeds/6674819084986924451/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25280484&amp;postID=6674819084986924451&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/6674819084986924451'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/6674819084986924451'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/2006/11/teologi-pembebasan-dan-gerakan.html' title='TEOLOGI PEMBEBASAN dan GERAKAN MAHASISWA'/><author><name>admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25280484.post-5322982810817437761</id><published>2006-11-29T02:50:00.000-08:00</published><updated>2006-11-29T03:15:44.468-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gerakan Mahasiswa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Gerakan Mahasiswa Revolusioner: Teori dan Praktek</title><content type='html'>&lt;h2 align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Oleh: Ernest Mandel&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/h2&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pengantar&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoPlainText" align="left"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pada  tahun 1968, seorang Marxist dari Belgia, Ernest  Mandel berbicara  di   depan 33 perguruan tinggi di Amerika  Serikat  dan Kanada, dari  Harvard ke Berkeley dan dari Montreal ke Vancouver. Lebih  dari 600 orang  memadati Education Auditorium di  New  York University  pada  tanggal  21  September  1968  untuk  menghadiri "Majelis  Internasional Gerakan Mahasiswa Revolusioner". Presenta­si  Mandel di  tempat itu dipandang sebagai kejadian yang  sangat menonjol oleh majelis  dan salah satu saat penting  dari  seluruh perjalanannya.  Pidato   dan beberapa kutipan dari  diskusi  yang mengikutinya menjadi  dua bagian pertama dari pamflet ini.&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;  &lt;/i&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pidato   Mandel  adalah polemik yang  sangat  hebat  terhadap  kecenderungan "aktivisme" dan "spontanisme", yang belakangan   ini muncul  di  kalangan  kaum radikal di dunia  Barat.   Ia kemudian berbicara  mengenai konsepsi Marxis tentang integrasi  yang  tidak terpisahkan  antara teori dan praktek.  Selama  diskusi,   Mandel menjawab sejumlah pertanyaan yang kontroversial di kalangan kaum  radikal  dengan  argumen  panjang lebar.  Beberapa  di  antaranya berbicara tentang azas sosial ekonomi dari Uni Sovyet,  "Revolusi  Kebudayaan"  di  Cina, perlunya dibentuk sebuah  partai  Leninis, dorongan moral lawan dorongan material, dan banyak hal lainnya.&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;  &lt;/i&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bagian   ketiga  pamflet  ini adalah  pidato  yang  diberikan  Mandel  pada  Seminar  Ilmu dan Kesejahteraan yang diadakan   di Universitas Leiden, Negeri Belanda pada tahun 1970, ketika sedang  dilakukan perayaan 70 tahun universitas tersebut. Mandel  berpen­dapat  bahwa kebutuhan kapitalisme saat ini akan tenaga kerja yang terlatih dalam  jumlah besar merangsang ekspansi universitas  yang cepat  dan  menghasilkan  "proletarianisasi"  tenaga  intelektual, yang  tunduk  kepada tuntutan-tuntutan kapitalis dan tidak  berhu­bungan dengan bakat  perorangan atau kebutuhan manusia.&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;  &lt;/i&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Makin   terasingnya  tenaga  kerja  intelektual  ini  sedikit  banyak  menggerakkan perlawanan mahasiswa yang, walaupun  tidak  menduduki posisi sebagai pelopor kelas buruh, dapat menjadi  picu peledak   di dalam masyarakat luas. Menurutnya mahasiswa  memiliki kewajiban  menerjemahkan pengetahuan teoretis, yang mereka peroleh di universitas, ke dalam  kritik-kritik  yang  radikal terhadap keadaan masyarakat  sekarang dan tentunya relevan dengan mayoritas penduduk.  Mahasiswa harus  berjuang di dalam universitas  dan  di balik  itu  untuk  masyarakat yang  menempatkan pendidikan untuk rakyat di depan  penumpukan barang.&lt;o:p&gt;   &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;i&gt;    &lt;/i&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;hr /&gt; &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;   BAB I&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt; Gerakan Mahasiswa Revolusioner:Teori dan Praktek&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt; &lt;o:p&gt;   &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Rudi  Dutshcke, pemimpin mahasiswa Berlin dan sejumlah  tokoh mahasiswa  lainnya  di Eropa, telah menjadikan  konsep  menyatunya teori dan praktek (teori  dan praktek yang revolusioner  tentunya) sebagai gagasan sentral aktivitas  mereka. Ini bukan pilihan  yang sewenang-wenang.  Persatuan teori dan  praktek ini dapat  dibilang pelajaran  yang paling berharga dari  rekaman sejarah yang  diukir oleh  revolusi-revolusi yang telah  berlalu di Eropa, Amerika  dan bagian dunia lainnya&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Tradisi   historis yang mengandung gagasan ini  dimulai  dari Babeuf  melalui Hegel dan sampai ke Marx. Penaklukan ideologis ini berarti bahwa  pembebasan manusia harus diarahkan pada usaha  yang sadar  untuk  merombak tatanan masyarakat, untuk mengatasi  sebuah keadaan  di mana  manusia didominasi oleh kekuatan ekonomi  pasar yang  buta   dan mulai menggurat nasib dengan  tangannya  sendiri. Aksi   pembebasan  yang sadar ini tidak  dapat dijalankan  secara  efektif,  dan  tentunya tidak dapat berhasil,  jika  orang   belum menyadari dan mengenal lingkungan sosial tempatnya hidup, mengen­al   kekuatan  sosial yang harus dihadapinya, dan  kondisi  sosial  ekonomi yang umum dari gerakan pembebasan itu.&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sama  seperti persatuan antara teori dan  praktek  merupakan penuntun  yang mendasar bagi setiap gerakan pembebasan saat  ini, begitu  pula Marxisme mengajarkan bahwa revolusi,  revolusi yang sadar,  hanya dapat berhasil jika orang mengerti azas  masyarakat tempatnya hidup, dan mengerti kekuatan pendorong yang menggerak­kan perkembangan sosial ekonomi masyarakat tersebut. Dengan  kata lain,  jika ia tidak mengerti kekuatan yang menggerakkan  evolusi sosial, ia tidak akan sanggup mengubah evolusi itu menjadi sebuah revolusi.  Ini  adalah konsepsi utama yang diberikan  Marxisme kepada gerakan mahasiswa revolusioner di Eropa.&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Kita   akan coba melihat bahwa kedua konsep  itu,  menyatunya teori dan  praktek, serta sebuah pemahaman Marxis terhadap kondisi obyektif masyarakat,  yang telah ada jauh sebelum gerakan mahasis­wa  di Eropa lahir, ditemukan  dan disatukan kembali  dalam  aksi-aksi perjuangan mahasiswa Eropa,  sebagai hasil dari pengalamannya sendiri.&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Gerakan   mahasiswa mulai bermunculan di mana-mana  dan  di Amerika  Serikat  pun tidak berbedasebagai perlawanan  terhadap kondisi langsung yang dialami  mahasiswa di dalam lembaga akademis mereka, di universitas dan sekolah tinggi.  Aspek ini sangat jelas di  dunia  Barat tempat kita hidup,  walaupun  keadaannya  sangat berbeda di negara-negara berkembang. Di sana,  banyak kekuatan dan keadaan  lain yang mendorong anak muda di universitas  atau non-universitas untuk bangkit. Tapi selama dua dekade terakhir, anak  muda yang masuk ke universitas di dunia Barat tidak menemukan  di  lingkungan rumah, kondisi keluarga atau masyarakat lokalnya alasan-alasan yang  mendesak untuk melakukan perlawanan sosial.&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Tentunya  ada beberapa perkecualian. Komunitas kulit hitam di Amerika  Serikat  termasuk di dalam perkecualian itu;  para  buruh imigran  yang   dibayar  rendah di Eropa Barat  juga termasuk  di dalamnya.  Bagaimanapun, di kebanyakan negara-negara Barat,  maha­siswa yang berasal  dari lingkungan proletariat yang miskin masih menjadi minoritas yang sangat  kecil. Mayoritas mahasiswa saat ini berasal dari lingkungan borjuis kecil atau  menengah atau golongan penerima  gaji  atau upah yang mendapat bayaran   lumayan.  Ketika memasuki  universitas mereka secara umum  tidak   disiapkan  oleh hidup  yang mereka jalani untuk sampai pada  titik pemahaman yang jelas dan  lengkap  tentang  alasan-alasan   perlunya  perlawanan sosial.  Mereka  baru akan  memahaminya ketika  berada  di dalam kerangka  universitas. Di  sini aku tidak mengacu kepada sejumlah perkecualian  atau  golongan  kecil  elemen-elemen  yang  memiliki pengetahuan  politik  yang memadai, tapi kepada  massa  mahasiswa secara keseluruhan yang  berhadapan dengan sejumlah kondisi,  yang membimbing mereka pada jalan  perlawanan&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Singkatnya,   ini  sudah mencakup  organisasi,  struktur  dan  kurikulum  universitas  yang amat tidak memadai dan  serangkaian  fakta  material, sosial dan politik yang dialami  dalam kerangka  universitas borjuis, yang semakin tidak dapat ditahan oleh keban­yakan  mahasiswa.  Menarik untuk dicatat bahwa para teoretisi dan pendidik  borjuis yang  berusaha memahami perlawanan  mahasiswa, harus  memasukkan  sejumlah  pernyataan di dalam  analisis mereka terhadap  lingkungan mahasiswa,  yang telah lama  mereka  enyahkan dari analisis umum terhadap  masyarakat.&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Beberapa   hari  yang lalu, ketika berada di  Toronto,  salah satu  pendidik Kanada yang terkenal memberikan kuliah umum tentang sebab-sebab  terjadinya perlawanan mahasiswa. Menurutnya,  alasan-alasan perlawanan  itu "secara mendasar bersifat material.  Bukan berarti bahwa kondisi  hidup mereka tidak memuaskan; bukan  karena mereka  diperlakukan   buruh seperti buruh abad XIX.  Tapi  karena secara sosial kita  menciptakan sejenis proletariat di universitas yang tidak  berhak  berpartisipasi  dalam  menentukan kurikulum, tidak  berhak,  setidaknya untuk ikut menentukan kehidupan  mereka sendiri  selama  empat, lima atau enam tahun yang mereka habiskan di universitas."Sekalipun  aku tidak dapat menerima definisi yang  non-Marxis tentang proletariat di  atas, aku berpikir bahwa pengajar  borjuis ini  sebagian  telah  menelusuri salah satu akar dari perlawanan mahasiswa.  Struktur  universitas borjuis hanyalah  cerminan  dari struktur  hirarki   yang umum dalam masyarakat  borjuis;  keduanya tidak dapat  diterima oleh mahasiswa, bahkan oleh tingkat kesadar­an sosial yang sementara  ini masih rendah. Kiranya terlalu berle­bihan kalau saat ini juga kita coba  membahas akar-akar psikologis dan moral dari gejala itu. Di beberapa negara di  Eropa Barat, dan mungkin juga di Amerika Serikat, masyarakat borjuis seperti   yang berkembang selama generasi terakhir ini, selama 25 tahun terakhir  telah menghantam banyak elemen di dalam keluarga borjuis. Sebagai anak muda,  para mahasiswa pembangkang diajarkan pertama-tama oleh pengalaman  langsung  untuk mempertanyakan semua bentuk wewenang, dimulai dengan wewenang orang  tuanya.&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Hal  ini paling terasa di negara seperti Jerman sekarang ini. Jika kalian tahu  sesuatu tentang kehidupan di Jerman, atau mempe­lajari cerminannya di dalam  kesusastraan Jerman, maka kalian akan tahu  bahwa  sampai Perang  Dunia II,  wewenang  paternal  paling sedikit  dipertanyakan   di negara itu.  Kepatuhan  anak  terhadap orang tua telah  mendarah daging dalam proses penciptaan masyara­kat (fabric of society).  Anak-anak muda Jerman kemudian mengalami rangkaian pengalaman pahit yang dimulai  dengan  adanya  generasi orang  tua  di Jerman yang  menerima Nazisme,  mendukung  Perang Dingin, dan hidup nyaman dengan  asumsi bahwa "kapitalisme rakyat" (disebut  juga ekonomi pasar  yang sosial), tidak akan  menghadapi resesi,  krisis dan masalah  sosial. Kegagalan yang beruntun  dari dua  atau tiga generasi orang  tua seperti itu  kini menghasilkan rasa  jijik  di kalangan anak  muda terhadap  wewenang orang  tua mereka.  Perasaan ini membuat  anak-anak tersebut,  saat  memasuki universitas,  tidak menerima  setiap bentuk wewenang begitu  saja, tanpa perlawanan.&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Mereka   pertama-tama berhadapan dengan wewenang  para  dosen dan  lembaga-lembaga universitas yang paling tidak dalam  bidang ilmu  sosialnyata tidak berhubungan dengan realitas. Pelajaran yang mereka peroleh  tidak memberikan analisis ilmiah yang  obyek­tif  tentang apa yang  sedang terjadi di dunia atau negara-negara Barat lainnya. Tantangan  terhadap wewenang akademis dari  lembaga inilah  yang kemudian cepat  bergeser menjadi  tantangan terhadap isi pendidikannya.Sebagai tambahan, di  Eropa kondisi material untuk  universi­tas  masih sangat kurang.  Terlalu penuh. Ribuan mahasiswa  harus mendengar  dosen-dosen berbicara  melalui  sound  system. Mereka tidak  dapat  berbicara  dengan dosen-dosen  itu  atau  sedikitnya berhubungan, bertukar  pikiran yang normal atau dialog.  Perumahan dan  makanan juga buruk.  Faktor-faktor pendukung lainnya  makin menajamkan  kekuatan  pemberontakan  mahasiswa.  Tapi,  perlu aku tekanan bahwa dorongan utama untuk  melakukan pemberontakan  akan tetap ada, sekalipun persoalan-persoalan di  atas telah dibenahi. Struktur  otoriter  dari universitas dan   substansi  yang  sangat lemah  dari  pendidikan,  paling tidak dalam bidang  ilmu  sosial, lebih menjadi penyebab  ketimbang kondisi material di atas.&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Inilah   alasan mengapa usaha-usaha mengadakan  reformasi  di universitas,   yang disorongkan oleh sayap liberal dalam  keadaan-keadaan yang  berbeda dalam masyarakat neo-kapitalis barat mungkin menemui kegagalan.  Reformasi ini tidak akan  mencapai  tujuannya karena  tidak  menyentuh persoalan dasar dari pemberontakan  maha­siswa.  Mereka   tidak berusaha menekan  sebab-sebab  keterasingan mahasiswa, dan  sekalipun melakukannya, mereka hanya akan membuat mahasiswa makin terasing.&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Lalu  apa tujuan reformasi di universitas seperti yang diaju­kan  oleh kaum  reformis liberal di dunia barat? Dalam  kenyataan, rancangan  reformasi  itu tidak lain untuk  meluruskan  organisasi universitas agar sesuai  dengan kepentingan ekonomi  neo-kapitalis dan  masyarakat  neo-kapitalis.  Tuan-tuan itu  mengatakan: tentu sangat disayangkan  adanya  proletariat akademis;  sayang  sekali begitu  banyak  orang   yang meninggalkan  universitas  dan tidak berhasil  mendapat   pekerjaan. Ini  akan  menimbulkan  ketegangan sosial dan  ledakan sosial.&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Bagaimana  caranya mengatasi persoalan ini? Kita akan  membe­nahinya  dengan  reorganisasi universitas dan membagi-bagi  tempat belajar yang ada sesuatu  dengan kebutuhan ekonomi  neo-kapitalis. Di  tempat yang memerlukan  100.000 insinyur akan lebih baik  jika dikirim 100.000  insinyur  daripada 50.000  orang  sosiolog atau 20.000 filsuf yang tidak  akan mendapat pekerjaan yang layak.  Hal seperti inilah yang akan  menghentikan pemberontakan mahasiswa.Di bawah ini adalah suatu usaha menempatkan   fungsi  universitas pada  posisi subordinat terhadap kebutuhan  langsung dari  ekonomi neo-kapitalis  dan masyarakat. Hal ini akan  menggerakkan ketera­singan mahasiswa yang makin besar. Jika reformasi-reformasi   itu dilakukan maka mahasiswa tidak akan menemukan struktur universi­tas   dan pendidikan yang sesuai dengan keinginan  mereka. Mereka  bahkan tidak diizinkan memilih karir, bidang studi, dan  disiplin ilmu yang  mereka kehendaki dan berhubungan dengan  keahlian  dan kebutuhan   mereka. Mereka akan dipaksa menerima pekerjaan,  disi­plin ilmu  dan bidang studi yang berhubungan  dengan kepentingan penguasa  masyarakat   kapitalis,  dan  tidak berhubungan  dengan kebutuhan   mereka sebagai manusia. Jadi dengan reformasi di  uni­versitas,  tingkat alienasi yang lebih tinggi pun akan terjadi. Aku tidak mengatakan bahwa  kita harus mengabaikan semua reformasi di dalam universitas. Penting dicari  beberapa slogan transisional untuk masalah-masalah universitas, sama seperti  kaum Marxis  coba mencari  slogan-slogan  transisional dalam   gerakan  sosial  lain dalam sektor apapun. Misalnya, aku tidak  mengerti kenapa slogan "student power"  tidak dapat  diangkat  di dalam lingkup universitas.  Dalam  masyarakat luas  slogan   ini memang dihindari karena artinya bahwa  sebuah minoritas  kecil  menempatkan dirinya sebagai  pemimpin  mayoritas masyarakat. Tapi di  dalam universitas slogan "student power" ini, atau  slogan lain  yang sejurus dengan ide "self-management"  oleh massa mahasiswa,  jelas punya arti dan valid.&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Tapi   di sinipun aku akan hati-hati karena banyak  persoalan yang  membuat   universitas berbeda dari  pabrik atau  komunitas produktif  lainnya. Tidak benar, seperti dikatakan sebagian teore­tisi SDS Amerika, bahwa  mahasiswa itu sama dengan buruh. Kebanya­kan  mahasiswa memang  akan  menjadi buruh  atau  sudah setengah buruh.  Mereka dapat  dibandingkan dengan orang  yang  magang  di pabrik karena  kedudukan mereka sama --dari sudut kerja intelektu­al dengan  orang  magang  di pabrik-- dari  sudut  kerja  manual. Mereka  memiliki  peranan sosal dan tempat transisional yang  khas dalam  masyarakat.   Karena itu kita  harus hati-hati  merumuskan slogan  tentang transisi ini.&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Bagaimanapun,  kita tidak perlu memperpanjang perdebatan  ini sekarang.  Mari  kita  terima saja gagasan "student  power"  atau "student   control" sebagai slogan transisional di dalam kerangka universitas  borjuis. Tapi sudah jelas bahwa realisasi slogan  ini yang  tidak akan  mungkin bertahan untuk jangka waktu yang lama, tidak  akan  mengubah akar-akar alienasi mahasiswa karena  mereka tidak terletak di  dalam universitas itu sendiri, melainkan dalam masyarakat secara keseluruhan.  Dan kita tidak akan sanggup mengu­bah  sebuah sektor kecil dalam  masyarakat borjuis, dalam hal  ini universitas  borjuis,  dan  berpikir bahwa  masalah  sosial dapat diatasi  di segmen  tertentu tanpa mengubah masalah  sosial  dalam masyarakat sebagai  keseluruhan.Selama kapitalisme masih ada, maka terus akan ada kerja yang  terasing,  baik  itu kerja manual maupun kerja  intelektual.   Dan karena itu tetap akan ada mahasiswa yang terasing, seperti apapun  aksi-aksi kita menghantam kemapanan dalam lingkup universitas.&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sekali   lagi, ini bukan observasi teoretis yang  jatuh  dari langit.   Ini  adalah pelajaran dari pengalaman praktek.  Gerakan  mahasiswa Eropa, paling tidak sayap revolusionernya, telah  mela­lui   pengalaman ini di seluruh negara-negara Eropa.  Dalam  garis  besar,  gerakan  mahasiswa dimulai dengan  isyu-isyu  kampus   dan dengan  cepat mulai  bergerak  keluar  batas-batas  universitas. Gerakan  itu mulai menanggapi masalah-masalah sosial dan   politik yang tidak langsung berhubungan dengan apa yang terjadi di  dalam  universitas. Apa yang terjadi di Kolumbia di mana masalah  penin­dasan   komunitas  kulit hitam diangkat  oleh  sejumlah  mahasiswa  pemberontak mirip dengan apa yang terjadi dalam gerakan mahasiswa Eropa  Barat,   paling tidak di kalangan elemen  yang  maju,  yang paling   peka terhadap masalah-masalah yang  dihadapi  orang-orang paling  tertindas dalam sistem kapitalis dunia.&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Mereka   terlibat  dalam  berbagai  aksi  solidaritas  dengan  perjuangan  pembebasan revolusioner di  negara-negara  berkembang  seperti  Kuba,  Vietnam dan bagian-bagian  tertindas lainnya    Dunia Ketiga. Identifikasi bagian-bagian yang paling sadar  dalam  gerakan  mahasiswa di Prancis dengan revolusi Aljazair, dan perjuangan   pembebasan Aljazair dari imperialisme Prancis memainkan peranan besar. Ini  mungkin kerangka pertama di mana  diferensiasi politik  yang nyata  terjadi di kalangan gerakan  mahasiswa  kiri. Kalangan mahasiswa  yang sama kemudian akan mengambil  tempat  di depan  dalam  perjuangan mempertahankan revolusi Vietnamm  melawan perang agresi  imperialisme Amerika.Di Jerman, simpati kepada orang-orang terjajah dimulai   dari titik yang unik. Gerakan protes mahasiswa yang besar dipicu  oleh  aksi  solidaritas dengan buruh, petani dan mahasiswa dari sebuah negara   Dunia Ketiga lainnya, yaitu Iran, saat Shah Iran  berkun­jung ke  Berlin.&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Para  mahasiswa  pelopor tidak  sekadar  mengidentifikasikan diri  mereka  dengan perjuangan di Aljazair, Kuba  dan  Vietnam: mereka memperlihatkan simpati kepada perjuangan pembebabasan dari apa yang disebut Dunia Ketiga secara keseluruhan. Perkembangannya dimulai dari sini. Di Prancis, Jerman, Italia --dan proses  yang sama sedang berlangsung di Inggris-- tidak akan mungkin  memulai aksi  yang  revolusioner tanpa analisis teori tentang  asas dari imperialisme, kolonialisme, dan kekuatan-kekuatan yang  mendorong eksploitasi Dunia Ketiga dengan imperialisme, dan di sisi  lain, kekuatan yang mendorong perjuangan pembebasan massa yang  revolu­sioner menentang imperialisme.Melalui  analisis  tentang  kolonialisme  dan imperialisme kekuatan gerakan mahasiswa Eropa yang paling maju dan  terorgani­sir kembali kepada titik di mana Marxisme dimulai, yakni analisis tentang  masyarakat kapitalis dan sistem kapitalis  internasional di  mana  kita hidup. Jika kita tidak memahami sistem  ini,  kita tidak akan dapat memahami alasan dilakukannya perang kolonial dan gerakan pembebasan di negeri jajahan. Kita juga tidak akan dapat mengerti  kenapa kita harus mengikatkan  diri kepada kekuatan-kekuatan ini di tingkat dunia.Di  Jerman misalnya, proses ini terjadi dalam  waktu  kurang dari enam bulan. Gerakan mahasiswa dimulai dengan mempertanyakan struktur  universitas  yang otoriter, dan  terus menuju masalah imperialisme  dan keadaan Dunia Ketiga, dan dengan menghubungkan diri dengan gerakan pembebasan maja timbul kebutuhan menganalisis kembali neo-kapitalisme di tingkat dunia dan di negeri  di mana mahasiswa-mahasiswa  Jerman itu bergerak. Mereka  kembali kepada titik awal analisis Marxis tentang masyarakat di mana kita hidup untuk  memahami  alasan-alasan terdalam dari masalah  sosial  dan perlawanan.&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" align="left"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Kesatuan  Teori dan Aksi&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Dalam  proses keseluruhan kesatuan teori dan aksi yang  dina­mis, teori kadang  ada di depan aksi dan sewaktu-waktu aksi tampil di  depan teori.  Bagaimanapun, pada setiap titik  keharusan per­juangan mendesak para  aktivis untuk memantapkan kesatuan ini pada tingkat yang lebih tinggi.Untuk  memahami proses yang dinamis ini kita harus  menyadari bahwa  mempertentangkan  aksi langsung dengan studi yang  mendalam itu sepenuhnya keliru. Saya  tersentak ketika mengikuti Konferensi Sarjana Sosialis dan pertemuan lainnya  yang saya ikuti di Amerika selama dua minggu terakhir, melihat bagaimana  pemisahan teori dan praktek terus dipertahankan. Saya seperti sedang mengikuti  perde­batan  di  antara orang-orang tuli, di mana  sebagian pengunjung mengatakan, "yang  penting  aksi! Tidak perlu   yang  lain,  yang penting  aksi!"  sementara   di pihak lain  ada yang mengatakan, "Tidak,  sebelum bisa  aksi, kita harus tahu apa yang  dikerjakan. Duduk, belajar, dan tulis buku."  (tepuk tangan)&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Jawaban   yang jelas dari pengalaman sejarah gerakan  revolu­sioner, bukan  hanya dari periode Marxis tapi bahkan dari  periode pra-Marxis, adalah  kenyataan bahwa keduanya tidak dapat dipisah­kan (tepuk tangan) Aksi tanpa  teori tidak akan efisien atau tidak akan  berhasil  melakukan  perubahan yang mendasar, atau seperti saya  katakan sebelumnya,  kita tidak dapat  membebaskan manusia tanpa sadar. Di pihak lain, teori  tanpa aksi tidak akan  mendapat watak ilmiah yang sejati karena tidak ada  jalan lain untuk mengu­ji teori kecuali melalui aksi.&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Setiap   bentuk  teori yang tidak diuji  melalui  aksi  bukan  teori yang sahih, dan dengan sendirinya menjadi teori yang  tidak berguna   dari  sudut pandang pembebasan manusia.  (tepuk tangan) Hanya   melalui usaha terus menerus memajukan keduanya  pada  saat  bersamaan,  tanpa pemisahan kerja, maka kesatuan teori dan  aksi  dapat dimantapkan, sehingga gerakan revolusioner tersebut, apapun asal usul  maupun tujuan sosialnya, dapat mencapai hasilnya. Dalam hubungannya dengan  pemisahan kerja, ada satu hal  lain yang  membuat  saya tersentak,  dan benar-benar menyentak  karena diajukan  dalam  satu pertemuan  orang-orang  sosialis. Pemisahan teori dan aksi yang sudah begitu  buruk, kini diberi satu  dimensi baru  dalam gerakan sosialis ketika  dikatakan: di satu pihak  ada para  aktivis, orang-orang awam yang  kerja kasar. Di  pihak  lain adalah elit yang kerjanya berpikir. Jika  elit ini terlibat  dalam aksi demonstrasi,  maka mereka tidak akan  punya  waktu  berpikir atau  menulis  buku, dan dengan  begitu maka ada  elemen berharga dalam perjuangan yang akan hilang.&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Saya   katakan bahwa setiap pernyataan yang  menyebut  adanya pemisahan  kerja manual dan kerja pikiran di dalam gerakan revolu­sioner,  yang  memisahkan barisan aksi yang kerja kasar dan  elit yang  kerja pikiran,  secara mendasar bukan  pernyataan  sosialis. Pernyataan  itu  bertentangan dengan salah satu tujuan utama  dari gerakan sosialis, yang  ingin mencapai penghapusan pemisahan kerja manual dan intelektual (tepuk tangan)  bukan hanya dalam organisa­si tapi, lebih penting lagi, dalam masyarakat secara  keseluruhan. Orang-orang  sosialis  revolusioner pada 50 atau 100   tahun  yang lalu  belum  dapat  melihat hal ini dengan  jelas,  seperti  kita sekarang ini, saat sudah ada kemungkinan  obyektif untuk  mencapai tujuan itu. Kita sudah memasuki satu proses  teknologi dan  pendi­dikan yang memungkinkan tercapainya hal itu. Salah  satu  pelajaran berharga yang harus kita  ambil  dari kemunduran   Revolusi Rusia, adalah jika pemisahan  antara  kerja manual dan kerja intelektual dipertahankan pada masyarakat  yang sedang  dalam transisi dari kapitalisme menuju sosialisme  dalam bentuk   lembaga, maka hasilnya pasti meningkatkan birokrasi  dan menciptakan  ketimpangan baru dan bentuk-bentuk penindasan manusia yang tidak sesuai dengan  kemakmuran sosialis. (tepuk tangan)&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Jadi  kita harus mulai dengan menghapus sebisa mungkin setiap gagasan  tentang  pemisahan kerja manual dan kerja  pikiran  dalam gerakan  revolusioner.  Kita harus bertahan bahwa tidak akan ada teoretisi  yang  baik jika  tidak terlibat dalam aksi,  dan  tidak akan ada aktivis yang baik jika  tidak dapat menerima,  memperkuat dan memajukan teori. (tepuk tangan)&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Gerakan  mahasiswa  Eropa  telah mencoba  mencapai  hal  ini sampai  tingkat tertentu di Jerman, Prancis dan Italia.  Di  sana muncul pemimpin-pemimpin mahasiswa agitator yang juga dapat, jika diperlukan, membangun barikade dan bertempur  mempertahankannya, dan pada saat yang dapat menulis artikel bahkan buku teoretis dan berdiskusi  dengan sosiolog terkemuka, ahli politik  dan  ekonomi dan  mengalahkan mereka dalam bidang ilmu mereka sendiri.  (tepuk tangan) Hal ini makin memperkuat keyakinan bukan  hanya  tentang masa depan gerakan mahasiswa tapi juga tentang masa ketika orang-orang ini sudah berhenti menjadi mahasiswa, dan harus berjuang di bidang lain.&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" align="left"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Perlunya  Organisasi Revolusioner&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt; &lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sekarang  saya ingin berbicara tentang aspek lain dari kesat­uan  teori dan aksi  yang sudah menjadi perdebatan dalam  gerakan mahasiswa  Eropa  dan  Amerika Utara. Saya  secara  pribadi yakin bahwa  tanpa organisasi  yang revolusioner, bukan  suatu  formasi yang  longgar  tapi  sebuah organisasi yang  serius  dan permanen sifatnya,  maka  kesatuan teori dan praktek tidak  akan bertahan lama. (tepuk tangan)&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Ada   dua alasan. Yang pertama berhubungan dengan  asas  dari  mahasiswa  sendiri.  Status kemahasiswaan, hanya  berlaku  untuk  jangka  waktu yang singkat, tidak seperti buruh. Ia bisa menetap di  universitas selama empat, lima, enam tahun, dan tidak ada yang dapat  memperkirakan  apa yang terjadi  setelah ia  meninggalkan universitas. Pada  kesempatan ini saya sekaligus  ingin menjawab salah satu argumen demagogis  yang telah digunakan sejumlah pemim­pin  partai-partai komunis di Eropa   yang  menentang  perlawanan mahasiswa. Dengan nada sinis mereka  mengatakan: "Siapa mahasiswa-mahasiswa itu? Hari ini mereka berontak, besok  mereka akan menja­di bos yang menindas kita. Kita tidak perlu memperhitungkan  aksi-aksi mereka dengan serius."&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Ini  adalah argumen yang tolol karena tidak  mempertimbangkan transformasi  revolusioner dari peranan lulusan universitas sekar­ang  ini. Jika mereka  melihat angka-angka statistik, maka mereka akan  tahu  bahwa hanya  sebagian kecil dari  lulusan  universitas yang  bisa  menjadi  kapitalis atau agen-agen langsung  dari  para kapitalis  ini. Apa  yang mereka khawatirkan mungkin saja  menjadi kenyataan  jika  jumlah   lulusan itu hanya 10.000,  15.000  atau 20.000 orang dalam  satu tahun. Tapi sekarang ada satu juta, empat juta,  lima  juta  mahasiswa, dan tidak  mungkin kebanyakan  dari mereka  akan   menjadi kapitalis atau  manejer  perusahaan karena tidak  ada lowongan sebanyak itu untuk mereka.&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Argumen   demagogis  ini ada  benarnya.  Lingkungan  akademis  memang  memiliki konsekuensi tertentu terhadap tingkat  kesadaran  sosial  dan aktivitas politik seorang mahasiswa. Selama ia  tetap di   universitas, maka lingkungannya mendukung aktivitas  politik. Ketika  ia meninggalkan universitas, lingkungan ini tidak ada lagi di sekelilingnya, dan  ia makin mudah ditekan oleh  ideologi  dan kepentingan borjuasi atau  borjuasi kecil (petty-bourgeoisie). Ada ancaman bahwa ia akan melibatkan dirinya  dalam lingkungan  sosial yang  baru  ini, apapun bentuknya.   Ada  kemungkinan  terjadinya proses  mundur ke posisi  intelektual reformis atau liberal  kiri yang tidak lagi berhubungan dengan  aktivitas revolusioner.&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Penting  untuk mempelajari sejarah SDS Jerman, yang dalam hal ini  adalah  gerakan  mahasiswa revolusioner yang  paling  tua  di Eropa.  Setelah  dikeluarkan dari kalangan Sosial Demokrat  Jerman sembilan tahun yang lalu  satu generasi mahasiswa SDS yang militan meninggalkan  universitas. Setelah  beberapa tahun, dengan  tidak adanya organisasi revolusioner,  kebanyakan  orang-orang  militan ini, terlepas dari keinginan mereka  untuk tetap teguh dan menjadi aktivis  sosialis,  tidak  aktif  lagi dalam  politik  dari  sudut pandang revolusioner. Jadi,  untuk memelihara kelanjutan aktivitas revolusioner  ini,  kita harus  punya organisasi yang lebih luas jangkauannya  dari organisasi  mahasiswa biasa, sebuah  organisasi di mana mahasiswa dan bukan mahasiswa  dapat bekerja sama.Dan ada alasan yang lebih penting lagi, di balik kepentingan  kita memiliki  satu organisasi partai. Karena  tanpa  organisasi  semacam itu, tidak akan dapat dicapai kesatuan aksi dengan  kelas buruh   industri,  dalam pengertian yang  paling  umum sekalipun.  Sebagai  Marxis,  saya tetap yakin bahwa tanpa aksi  kelas  buruh  tidak  akan mungkin masyarakat borjuis ini ditumbangkan  dan  itu  berarti  tidak mungkin juga dibangun masyarakat sosialis.  (tepuk  tangan)&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Di  sini sekali lagi kita lihat bagaimana pengalaman  gerakan mahasiswa,  pertama   di Jerman, lalu Prancis dan Italia,  sudah berhasil  mencapai   kesimpulan teoretis tersebut  dalam praktek. Diskusi  yang   sama  tentang relevan atau tidaknya  kelas  buruh industri   bagi  aksi revolusioner dilakukan setahun  atau  bahkan  enam bulan yang lalu di negara-negara seperti Jerman dan Italia.Masalah  ini   ditempatkan  dalam praktek  bukan  hanya oleh  peristiwa revolusioner selama Mei-Juni 1968 di Prancis, tapi juga oleh aksi  bersama mahasiswa di Turin dengan buruh Fiat di Italia. Ini  juga  diperjelas dengan usaha-usaha sadar  dari  SDS  Jerman untuk  melibatkan bagian dari kelas buruh di dalam agitasi mereka di  luar  universitas menentang perusahaan penerbit Springer dan kampanyenya dalam  mencegah diberlakukannya undang-undang  darurat yang akan mencegah  kebebasan sipil.&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Pengalaman   seperti  ini mengajarkan  gerakan  mahasiswa  di Eropa   Barat bahwa mereka harus menemukan jembatan  dengan  kelas buruh  industri. Masalah ini memiliki sejumlah aspek yang  berbeda dengan  tingkatan yang berbeda pula. Ada masalah programatik  yang tidak dapat saya  jabarkan sekarang. Hal yang diungkapkan di  sini adalah bagaimana mahasiswa  dapat mendekati buruh, bukan  sebagai guru,  karena buruh tentunya  menolak hubungan seperti itu,  tapi dengan cara masuk ke dalam lapangan  kepentingan yang sama. Terutama diuraikan masalah organisasi partai. Selain   penga­laman  kalah beberapa kali untuk membangun kolaborasi di   tingkat rendahan dalam aksi-aksi langsung antara sejumlah kecil mahasiswa  dan  sejumlah  kecil buruh, setelah tiga  sampai  delapan   bulan, persekutuan itu akan hilang. Bahkan jika kalian memulai lagi dari  awal,  dan  saat keseimbangan sudah tercapai, maka  sedikit   saja yang tersisa.&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Kegunaan  organisasi revolusioner yang permanen adalah  untuk menyediakan integrasi  timbal balik antara mahasiswa dan  perjuan­gan  kelas buruh oleh para  pelopornya secara terus menerus.  Ini bukan sekadar kesinambungan  yang sederhana  dalam  batas  waktu tertentu,  tapi sebuah  kelanjutan ruang antara kelompok-kelompok sosial  yang berbeda yang  memiliki tujuan sosialis  revolusioner yang sama.Kita  harus kritis   melihat apakah  integrasi  seperti  ini memang mungkin  secara obyektif. Melihat pengalaman  di  Prancis, Italia,  dan   sejumlah negara Eropa Barat  lainnya,  maka  dengan mudah   kita bisa bilang ya. Dan garis inipun dapat  dipertahankan di Amerika  Serikat. Dengan alasan-alasan historis yang juga tidak dapat  saya  uraikan  sekarang, sebuah situasi  khusus muncul  di Amerika Serikat di mana  mayoritas kelas buruh, yakni kelas buruh kulit putih, belum menerima gagasan  sosialis tentang aksi revolu­sioner. Ini fakta yang tidak dapat ditandingi. &lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Tentu   saja  hal ini dengan cepat  dapat  berubah.  Sejumlah  orang  berpendapat seperti itu di Prancis, hanya beberapa  minggu  sebelum  tanggal 10 Mei 1968. Namun, bahkan di  Amerika Serikat, ada   minoritas  dalam kelas buruh industri  yang  penting,   yaitu buruh  kulit hitam. Tak seorangpun bisa mengatakan bahwa  setelah  dua  tahun terakhir mereka tidak dapat menerima gagasan  sosialis atau   tidak mampu menjalankan aksi revolusioner. Di  sini paling tidak   ada kemungkinan langsung terjadinya kesatuan antara  teori dan  praktek di sebagian kalangan kelas buruh.&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sebagai   tambahan, kiranya penting untuk menganalisa  kecen­derungan sosial  dan ekonomi yang dalam jangka panjang akan  meng­guncang  ketidakpedulian   politik yang platen  dan konservatisme kelas buruh kulit putih.  Pelajaran dari Jerman dengan  lingkungan yang  sangat mirip  membuktikan bahwa hal  itu  mungkin terjadi. Beberapa  tahun  lalu di kalangan kelas buruh di Jerman  mengendap stabilitas,  konservatisme,   dan integrasi  masyarakat  kapitalis yang tidak terguncang,   sama seperti Amerika  Serikat  di  mata banyak orang  sekarang ini. Hal ini sudah mulai berubah. Kasus ini memperlihatkan bahwa  pergeseran kecil di dalam perimbangan kekua­tan, yaitu penurunan tingkat  ekonomi, dan serangan dari pengusaha terhadap  struktur serikat buruh  tradisional dan  hak-hak  dapat menciptakan ketegangan sosial yang  mampu mengubah banyak hal.&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Tugas  saya di sini tidak lebih dari memberi informasi kepada kalian tentang  masalah-masalah perjuangan kelas kalian  sementara tugas kalian adalah  menyadari bahwa kalian harus bergabung dengan buruh.  Saya hanya akan  menunjukkan satu di antara sekian  banyak saluran tempat  kesadaran  sosialis  dan  aktivitas revolusioner dapat menghubungkan  mahasiswa  dan buruh,  seperti  ditunjukkan bukan  hanya  oleh Eropa  Barat tapi juga oleh  Jepang. Rangkaian penghubung  ini adalah pemuda  dari kalangan kelas buruh.  Sebagai konsekuensi dari perubahan teknologi  selama beberapa tahun terak­hir  yang  mempengaruhi struktur kelas  buruh,  sistem pendidikan borjuis tidak dapat mempersiapkan buruh-buruh  muda, atau sebagian dari  buruh muda ini, untuk memainkan peran baru dalam   teknologi yang  telah  berubah  bahkan dari sudut pandang  para kapitalis sendiri. Amerika Serikat adalah contoh yang jelas tentang   kehan­curan  total dari pendidikan bagi buruh muda berkulit hitam   yang tingkat  penganggurannya  sama tinggi seperti tingkat   rata-rata pengangguran seluruh kelas buruh di masa depresi.  Kenyataan  ini memperlihatkan  apa yang tengah terjadi di kalangan  pemuda  kulit hitam negeri itu. Ini hanyalah ekspresi dari kecenderungan  umum yang mendikte kepekaan ekstrem terhadap segala sesuatu yang terjadi di  kalangan muda.  Kebusukan dan kemacetan sistem sosial sekarang  ini   jelas menunjukkan ketidakberpihakan para penguasanya kepada kaum  muda.  Para penguasa Prancis selama peristiwa Mei tidak  membeda-bedakan antara   mahasiswa, pegawai dan buruh muda. Mereka memperlakukan semuanya sebagai  musuh.Contoh  kongkret  dari ini adalah insiden  di Flins  ketika  terjadi demonstrasi besar. Setelah seorang anak sekolah  dibunuh oleh   polisi muncul kegelisahan besar. Polisi bergerak masuk  dan mulai  memerika para demonstran, memerika kartu identitas  orang-orang  yang   lewat. Setiap orang yang berusia di bawah 30 tahun ditangkap karena  dianggap potensial sebagai pemberontak,  sebagai orang yang akan bergerak  menghantam polisi. (tepuk tangan)&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Jika   kalian  secara  seksama  membaca  buku-buku  sekarang,  industri  film dan bentuk-bentuk refleksi kenyataan  sosial  yang  lain di dalam suprastruktur budaya selama lima atau sepuluh tahun terakhir,   kalian akan lihat bahwa di samping  semua  pembicaraan yang  palsu tentang kenakalan remaja, kaum borjuis telah menggam­barkan jenis  pemuda yang dihasilkan sistemnya dan juga  semangat memberontak  dari   kaum muda. Ini tidak terbatas  bagi mahasiswa atau  kelompok   minoritas seperti orang kulit  hitam  di  Amerika Serikat.  Ini juga berlaku bagi buruh-buruh muda.Kiranya perlu dipelajari apa yang ada  lingkungan buruh-buruh muda karena perjuangan memenangkan mereka kepada  kesadaran sosia­lis, kepada gagasan-gagasan revolusi sosialis kelihatannya   pent­ing  bagi  negeri-negeri Barat selama  sepuluh  sampai   limabelas tahun mendatang.  Jika kita berhasil mengangkat kaum  muda   yang terbaik menjadi sosialis revolusioner --saya  pikir  ini   sudah mulai dilakukan di negeri-negeri Eropa Barat-- kita  bisa  yakin tentang kemajuan  gerakan kita. Jika kemungkinan ini lepas   dan kebanyakan  orang muda berpihak ke kalangan ekstrem kanan,  maka  kita  akan kalah dalam perjuangan yang menentukan dan akan  masuk ke   dalam liang kubur bersama sosialis Eropa dan gerakan revolusioner  di tahun 1930-an.&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Persatuan   teori dan praktek juga berarti bahwa  serangkaian gagasan  kunci   dari gerakan sosialis  dan tradisi revolusioner telah  ditemukan  kembali sekarang. Aku tahu bahwa sebagian orang dalam  gerakan mahasiswa  di Amerika  Serikat  ingin  menciptakan sesuatu  yang  sama  sekali baru. Aku sepenuh hati  setuju dengan setiap  usulan yang  menginginkan sesuatu yang lebih baik,  karena apa  yang  telah  dicapai oleh generasi-generasi  sebelumnya  juga kurang  meyakinkan  dari  sudut  pandang  pembangunan  masyarakat sosialis. Tapi  penting juga aku utarakan peringatan. Jika  kalian menyangka  sedang  menciptakan sesuatu yang baru, yang  sebenarnya sedang  dilakukan  adalah mundur ke masa lalu  yang  jauh  lebih terbelakang dari  masa lalu Marxisme.&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Semua gagasan baru yang dimajukan dalam gerakan mahasiswa di Eropa selama tiga atau empat tahun terakhir, dan menjadi  populer di  kalangan mahasiswa Amerika Serikat, sebenarnya sudah  sangat tua umurnya. Alasannya sangat sederhana. Kecenderungan logis dari evolusi  sosial dan kecenderungan kritik  sosialis dikembangkan dalam  jalur  para pemikir besar abad 18 dan  19. Terlepas  dari kalian  suka atau tidak, hal itu memang benar, dan berlaku  bagi ilmu sosial sekaligus ilmu alam yang rangkaian hukumnya  dicipta­kan  di masa lalu. Jika kalian ingin mengembangkan  kecenderungan baru,  kalian harus maju dari landasan yang merupakan hasil  ter­baik dari generasi-generasi sebelumnya. Keinginan  untuk  senantiasa menciptakan sesuatu  yang baru hanyalah  satu  aspek  awal dari radikalisme  mahasiswa.  Ketika gerakan  sudah  berkembang menjadi besar dan  bisa  memobilisasi massa yang besar maka yang akan terjadi adalah sebaliknya seperti ditunjukkan para sosiologis Prancis ketika melihat kejadian bulan Mei 1968. Saat itu massa mahasiswa revolusioner yang  luas ber­juang  menemukan kembali tradisi sejarah dan  akar-akar historis mereka. Mereka  seharusnya sadar bahwa mereka akan lebih  kuat  jika mengatakan: perjuangan kami adalah perpanjangan dari  perjuangan untuk kebebasan yang dimulai 150 tahun lalu, atau  bahkan  2.000 tahun  lalu  ketika budak-budak  pertama memberontak   terhadap tuannya. Ini akan jauh lebih meyakinkan daripada mengatakan: kami melakukan sesuatu yang sama sekali baru yang terputus dari sejar­ah  dan  terisolasi dari keseluruhan masa lalu seakan masa  lalu tidak  pernah mengajarkan apa-apa kepada kita dan tidak ada  yang dapat kita pelajari dari itu. (tepuk tangan)&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Masalah  ini akhirnya akan membawa aktivis mahasiswa  kembali pada beberapa konsep  historis dasar dari sosialisme dan Marxisme. Kita  telah melihat bagaimana  gerakan mahasiswa di Prancis,  Jer­man,  Italia dan sekarang Inggris  kembali kepada  gagasan-gagasan revolusi  sosialis dan demokrasi buruh.  Bagi  seseorang  seperti saya, sangat menggembirakan melihat bagaimana  gerakan revolusion­er  Prancis mempertahankan hak kebebasan berbicara,   dan menghu­bungkannya dengan  tradisi terbaik  dari  sosialisme.   Pertemuan kalian sekarang ini juga memperbarui kembali tradisi internasion­alisme   dari  sosialisme lama dan Marxisme ketika kalian  bilang  bahwa perlawanan mahasiswa bersifat mendunia dan  bahwa  gerakan  mahasiswa itu bersifat internasional. Ini adalah internasionalisme yang sama,  dengan akar-akar dan tujuan yang sama seperti internasionalisme dari sosialisme,   sama seperti  internasionalisme  dari kelas  buruh.  Masalah-masalah internasional  yang  dihadapi adalah masalah  solidaritas   dengan kawan-kawan kita di Meksiko, Argentina dan Brasil yang  memimpin  perjuangan  besar,  yang  mengangkat revolusi  Amerika   Latin  ke tingkat lebih tinggi setelah menderita kekalahan karena   kepemim­pinan  yang buruh, reaksi internal dan represi imperialis   selama tahun-tahun belakangan ini. Kita harus menyanjung kekuatan  maha­siswa-mahasiswa  Mexico. (tepuk tangan) Dalam beberapa hari mereka telah mengubah situasi politik  secara mendasar di negeri itu  dan membuang topeng demokrasi palsu  yang dipasang pemerintah  Mexico untuk  menerima  jutaan dolar  dari penonton-penonton  Olimpiade. Sekarang setiap orang yang  menonton Olimpiade akan tahu bahwa  ia telah mengunjungi  negeri di  mana para  pemimpin  serikat  buruh kereta apinya ditahan  bertahun-tahun setelah masa tahanan  mereka berakhir; negeri di mana banyak  pemimpin politik  kalangan  kiri dipenjara  bertahun-tahun tanpa   pengadilan,  di  mana pemimpin mahasiswa  dan ribuan milisi  mahasiswa ditahan di  penjara  tanpa landasan  hukum. Protes  mereka yang heroik  memiliki konsekuensi bagi  masa depan politik  Meksiko dan perjuangan kelas  di  negeri itu. (tepuk tangan)&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-indent: 36pt;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Penting   juga kiranya mengutarakan beberapa patah kata  ten­tang  mahasiswa  tahanan di negeri-negeri semi kolonial  lainnya, yang  tidak pernah  dibicarakan orang, seperti pemimpin mahasiswa Kongo yang telah ditahan selama  hampir satu tahun karena  mengor­ganisir sebuah demonstrasi kecil  menentang perang Vietnam ketika wakil presiden Humphrey bertandang ke sana.  Kita tidak boleh lupa bahwa pemimpin-pemimpin mahasiswa Tunisia yang ditahan  selama dua belas tahun dengan alasan yang sama, memimpin sebuah demonstrasi.  Duabelas tahun di penjara! Kita harus menyadarkan masyarakat agar kejahatan  penindas seperti ini tidak akan terlupakan.&lt;o:p&gt;  &lt;/o:p&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="left"&gt;  &lt;span style="font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Akhirnya, kita tidak boleh lupa perjuangan melawan  intervensi  Amerika   Serikat di Vietnam, yang  tetap menjadi  perjuangan utama  di  dunia sekarang ini. Dengan dimulainya negosiasi itu  di Paris,  tidak   berarti bahwa tidak ada yang  dapat  kita  lakukan untuk  membantu perjuangan kawan-kawan kita di Vietnam. Untuk itu, saya  mengajak  kalian ikut dalam aksi dunia yang  dimulai  oleh gerakan mahasiswa  Jepang, Zengakuren, Federasi Mahasiswa  Revolu­sioner Inggris bersama  dengan Kampanye Solidaritas Vietnam,  dan Komite Mobilisasi Mahasiswa di  sini. Ini adalah Minggu  Solidaritas  untuk revolusi Vietnam, dari  tanggal 21 sampai  27  Oktober. Minggu  ini ratusan ribu  mahasiswa, buruh muda  dan  revolusioner muda  akan turun ke  jalan bersamaan untuk mencapai  tujuan-tujuan yang  diajukan  kawan-kawan Vietnam! Perlihatkan pada dunia  bahwa di  Amerika  Serikat   ada ratusan ribu  orang  yang menginginkan penarikan  kembali  pasukan Amerika dari Vietnam. Itu  pasti  akan berhasil. (terputus  oleh tepuk tangan)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;div align="center"&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://www.marxists.org/indonesia/archive/mandel/001.htm"&gt;Sumber&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Blog ini dikerjakan oleh Anick HT, arek Ciputat yang melanglang buana di dunia maya.&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25280484-5322982810817437761?l=gerakanmahasiswa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/feeds/5322982810817437761/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25280484&amp;postID=5322982810817437761&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/5322982810817437761'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/5322982810817437761'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/2006/11/gerakan-mahasiswa-revolusioner-teori.html' title='Gerakan Mahasiswa Revolusioner: Teori dan Praktek'/><author><name>admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25280484.post-6757006327436507889</id><published>2006-11-29T02:42:00.000-08:00</published><updated>2006-11-29T02:48:08.582-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Demonstrasi'/><title type='text'>Aksi Penolakan Kenaikan Harga BBM</title><content type='html'>Aksi demonstrasi mahasiswa menolak kenaikan harga BBM terus terjadi sampai hari Sabtu [1/10]. Di Jakarta, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Forum Kota dan beberapa elemen lainnya kembali melakukan aksi di Jl. Diponegoro depan kampus UKI.&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;Menyusul bentrokan satu hari sebelumnya, penjagaan aksi yang dilakukan aparat kepolisian terlihat sangat berlebihan. Terlihat puluhan polisi anti huru hara, beberapa mobil tahanan dan 1 mobil water canon bersiaga di sekitar lokasi demonstrasi. Mahasiswa tetap melakukan aksi sambil berorasi di jalan.&lt;br /&gt;Sampai sore hari aksi berjalan tertib, sampai seluruh peserta aksi membubarkan aksi mereka di Kampus STTJ, Tugu Proklamasi. Tidak lama setelah mahasiswa membubarkan diri, aparat kepolisian tiba-tiba merangsek masuk ke dalam kampus. Sebagian mahasiswa lari ke arah Jl. Diponegoro dan Jl. Salemba. Tarik menarik antara mahasiswa polisi berlangsung sangat singkat.&lt;br /&gt;Terlihat polisi menyita berbagai atribut aksi, seperti boneka orang-orangan, spanduk, poster-poster, dll. Dan terlihat beberapa mahasiswa ditangkap dan langsung dimasukan ke dalam mobil tahanan. Tidak jelas apa alasan polisi menyerbu ke dalam kampus STTJ dan melakukan penyitaan serta penangkapan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Aksi di berbagai daerah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain di Jakarta, aksi unjuk rasa juga digelar di berbagai kota lainnya, di antaranya, Bandung, Cirebon, Cianjur, Bogor, Tangerang, Banten, Sidoarjo, Lamongan, Yogyakarta, Tuban, Purbolinggo, Jombang, Surabaya, Denpasar, Jambi, Medan, Nias, Banjarmasin, Pontianak, Samarinda, Bontang, Kutai Kertanegara, Balikpapan, Tarakan, Palangkaraya, Nunukan, Makasar, Palu, Palopo, Flores, Papua, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Palu, Sulawesi Tengah, aksi unjuk rasa diwarnai bentrok aparat dengan mahasiswa. Bentrokan berawal ketika sebagian dari peserta aksi yang sedang berorasi di Kantor DPRD Sulteng tiba-tiba berbalik haluan dan menuju SPBU 74-0801 di Jalan Pramuka, Palu, sekitar 500 meter dari Kantor DPRD Sulteng. Sebagian tetap berorasi sambil meminta anggota Dewan berdialog menjadi kesal sebab tuntutan mereka tak dikabulkan.&lt;br /&gt;Kondisi ini membuat situasi jadi panas. Para demonstran berteriak-teriak dan mulai mendorong pagar betis aparat. Aparat langsung melepas tembakan peringatan ke udara untuk membubarkan aksi tersebut. Mahasiswa pun mundur sambil melakukan perlawanan. Tercatat empat mahasiswa, yakni Wahyu, Darius, Andri, dan Karim dan tiga polisi luka-luka menyusul bentrokan.&lt;br /&gt;Di Semarang, Jawa Tengah, demonstrasi berlangsung di sepanjang ruas jalan protokol dan terkonsentrasi depan air mancur di Jalan Pahlawan. Pengunjuk rasa dari aliansi masyarakat miskin ini juga sempat menunaikan salat ghaib. Mereka juga membakar patung jenazah "Susilo Bambang Yudhoyono" yang terbungkus kain mori sebagai simbol matinya hati pemimpin bangsa. Saat pembakaran berlangsung, polisi berusaha mematikan api. Meski demikian, tak terjadi bentrokan fisik antara kedua belah pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Mataram, Nusatenggara Barat ratusan melampiaskan kemarahan dengan menghentikan kendaraan dinas pemerintah daerah dan menggembosi bannya. Menurut mereka, seharusnya pemerintah yang paling pertama dan pantas merasakan dampak kenaikan harga BBM, bukan rakyat. Demonstran nyaris bentrok dengan polisi yang berupaya menghentikan aksi penggembosan ban kendaraan dinas. Polisi akhirnya bisa membebaskan sejumlah mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demonstrasi juga digelar puluhan mahasiswa. Aksi diwarnai dengan pembakaran ban bekas serta mendobrak gerbang Kompleks Gedung Sate yang merupakan kompleks gedung pemerintahan daerah dan DPRD. Mereka tak bisa mendekati kantor gubernur, karena dihadang puluhan polisi. Mahasiswa kemudian mundur dan kembali berorasi di jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kupang, NTT, ratusan mahasiswa berhasil menduduki RRI sekitar 30 menit dan menyiarkan penolakan mereka terhadap kenaikan harga BBM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pemogokan Angkutan Umum masih berlanjut&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ribuan sopir angkutan kota di Manado, Sulawesi Utara, sejak Sabtu (1/10) pagi, mogok kerja. Para sopir memarkir kendaraan mereka di pinggir jalan, seperti di kawasan Pal Dua, Miangas, dan Jalan Boulevard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kendari, Sulawesi Tenggara. Ratusan sopir angkot mogok beroperasi. Mereka memarkir kendaraan di sepanjang Jalan Raya Abu Nawas, Kendari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Terminal Kartosuro, Solo, Jawa Tengah, sejak pagi para awak bus menurunkan paksa ratusan penumpang yang akan masuk atau meninggalkan Surakarta. Menurut mereka kenaikan harga solar menyebabkan setoran sulit terpenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Bogor, Jawa Barat. Beberapa angkot menggelar mogok. Diantaranya adalah angkot trayek 07 Warung Jambu-Merdeka dan 08 Citeureup-Pasar Anyar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu di Jakarta sebagian angkot dan mikrolet di terminal Kampung Melayu dan Ciputat juga terlihat masih tetap melakukan aksi mogok.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;01-10-2005, 22:06&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://jakarta.indymedia.org/newswire.php?story_id=417"&gt;Sumber&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Blog ini dikerjakan oleh Anick HT, arek Ciputat yang melanglang buana di dunia maya.&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25280484-6757006327436507889?l=gerakanmahasiswa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/feeds/6757006327436507889/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25280484&amp;postID=6757006327436507889&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/6757006327436507889'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/6757006327436507889'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/2006/11/aksi-penolakan-kenaikan-harga-bbm.html' title='Aksi Penolakan Kenaikan Harga BBM'/><author><name>admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25280484.post-2178837976865697516</id><published>2006-11-09T08:27:00.000-08:00</published><updated>2006-12-11T08:31:37.980-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aliansi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PMKRI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daerah'/><title type='text'>Aliansi Gerakan Mahasiswa Akan Follow Up Hasil Dialog Terbuka</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;small&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;Gunungsitoli, WASPADA Online&lt;/span&gt;&lt;/small&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;"&gt;Aliansi pergerakan mahasiswa akan mem follow up dialog terbuka yang mereka lakukan bersama BRR Perwakilan Nias, pada 31 Oktober 2006 lalu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;"&gt;“Salah satunya, mempertanyakan sejauhmana tindak lanjut 6 poin hasil rekomendasi yang telah disepakati bersama,” sebut Sekretaris DPC GRI Nias, Yusman Zendrato, Rabu (8/11) didampingi Presiden Mahasiswa STIE Pembnas Nias, Yohanes Giawa, Ketua Presidium PMKRI CC Nias, Yohanes Bu’ulolo dan Koordinator Eksekutif KS Lini Nias, Anugrah N. Hia di Sekretariat GRI Nias Jl. Yos Sudarso Gunungsitoli. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;"&gt;Yusman Zendrato mengungkapkan, tujuan mem follow up dialog terbuka merupakan itikad baik menyatukan persepsi agar proses pelaksanaan rehabilitasi rekonstruksi berjalan lebih baik sesuai harapan bersama. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;"&gt;Namun, ketika hasil rekomendasi hanya untuk menenangkan kontrol elemen gerakan di Nias, maka alternatif terakhir yang akan dilakukan melakukan aksi massa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;"&gt;Presiden Mahasiswa STIE Pembnas Nias, Yohannes Giawa menambahkan, hasil rekomendasi yang telah ditandatangani bersama bukan hanya lips service. “Kita mendesak BRR tidak menghalalkan pelanggaran, penyalahgunaan wewenang serta pengerjaan proyek bermasalah, yang dapat menjadi petaka baru buat masyarakat Nias ke depan,” tandasnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;"&gt;Sehubungan itu, aliansi gerakan mahasiswa ini mendesak penegak hukum lebih serius menangani dan menyelesaikan semua penyelewengan yang terjadi dalam proses rehabilitasi rekonstruksi, dan berharap penegak hukum komitmen terhadap kasus-kasus yang sedang ditangani &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;"&gt;Adapun hasil rekomedasi dialog terbuka itu, pembentukan otoritas BRR Nias, pembentukan otoritas kontrol legislatif, mengakuratkan seluruh data penerima bantuan 2007 untuk melaksanakan pembangunan rumah tahun anggaran 2007, segera direkonstruksi dan direhabilitasi orang-orang di BRR, koordinasi lebih diarahkan sebagai koordinasi institusi dengan institusi, serta mendesak Polres Nias dan Kejaksaan Gunungsitoli mengusut tuntas oknum BRR Nias yang terindikasi praktek KKN.&lt;b&gt;&lt;i&gt;(cbj)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;  (sn)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;a href="http://www.waspada.co.id/berita/sumut/artikel.php?article_id=80640"&gt;Sumber&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Blog ini dikerjakan oleh Anick HT, arek Ciputat yang melanglang buana di dunia maya.&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25280484-2178837976865697516?l=gerakanmahasiswa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/feeds/2178837976865697516/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25280484&amp;postID=2178837976865697516&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/2178837976865697516'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/2178837976865697516'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/2006/11/aliansi-gerakan-mahasiswa-akan-follow.html' title='Aliansi Gerakan Mahasiswa Akan Follow Up Hasil Dialog Terbuka'/><author><name>admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25280484.post-114491374533638138</id><published>2006-04-13T00:33:00.000-07:00</published><updated>2006-04-13T00:35:45.350-07:00</updated><title type='text'>Mungkinkah Mahasiswa Bersatu (Kembali)?</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.detik.com/kolom/200101/2001125-212453.shtml"&gt;http://www.detik.com/kolom/200101/2001125-212453.shtml&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="mailto:a_perd@lycos.com"&gt;Penulis: Aditya Perdana *&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;detikcom - Maraknya aksi mahasiswa yang menuntut Presiden Abdurrahman Wahid untuk mundur dari kursi kepresidenan akhir-akhir ini membawa romantika pergerakan mahasiswa tahun 1998 ketika menjatuhkan rezim Orde Baru. Tema besar yang dibawakan hampir sama yaitu mengkritisi pemerintahan yang belum berada di jalur demokrasi sesungguhnya. Namun kondisi gerakan mahasiswa saat ini jauh berbeda dengan keadaan 3 tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dahulu mereka mampu bersatu dalam kekuatan besar yang bernama mahasiswa karena mempunyai musuh bersama yang dianggap layak dijatuhkan, mempunyai keinginan merubah bangsa ini agar lebih demokratis, atau menganggap rezim yang ada sudah selayaknya digantikan dengan kekuatan rakyat yang sesungguhnya. Tetapi sekarang, keadaan telah berubah. Lalu, bagaimana dengan peta gerakan mahasiswa serta kondisi yang saat ini membutuhkan kesatuan gerak mahasiswa dalam mengkritisi pemerintahan, akan menjadi pertanyaan di tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca Mei 1998, gerakan mahasiswa seakan tercerai berai. Euforia kemenangan atas kejatuhan Suharto begitu besar yang akibatnya banyak elemen mahasiswa lupa diri dan hanya menyerahkan begitu saja kepada elit-elit politik. Seterusnya, penentangan terhadap diadakan atau tidak Sidang Istimewa November 1998 adalah bukti awal bahwa gerakan mahasiswa, walau belum kelihatan secara detail, akan terpolarisasi menjadi dua kutub. Dan yang menjadi realitas adalah menjamurnya elemen gerakan mahasiswa baik di dalam atau di luar kampus menambah keyakinan akan polarisasi itu. Hingga saat ini, polarisasi tersebut semakin kuat dan menjadi sulit disatukan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua fase utama di mana gerakan mahasiswa semakin terpolarisasi, yang mungkin lebih disebabkan faktor ideologisnya untuk membawa arah dan tujuan gerakan itu. Pertama, fase antara Mei 1998 hingga berlangsungnya Pemilu bahkan ditarik lebih jauh lagi naiknya Gus Dur sebagai presiden. Pada fase ini, mahasiswa dihadapkan berbagai persoalan awal bangsa setelah reformasi berhasil digulirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidang Istimewa MPR menjadi perdebatan yang hebat hingga konflik fisik yang menimbulkan banyak korban. Kondisi ini disebabkan oleh dua kekuatan yang menginginkan dibentuknya semacam Komite Rakyat tanpa memperdulikan jalur konstitusional dan membentuk presidium bagi pemerintahan transisi. Sementara di sisi yang berseberangan menginginkan ada jalur konstitusional lewat mekanisme Sidang Istimewa untuk mengeluarkan mandat kepada presiden baru yaitu Habibie untuk mengadakan pemilu paling lambat tahun 1999 untuk memilih presiden dan wakil rakyat yang baru. Peristiwa itu diiringi dengan aksi besar-besaran dan mengakibatkan tragedi Semanggi dengan aparat yang ganas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, RUU PKB yang rencananya akan dilegalkan oleh pemerintahan Habibie menambah korban keganasan militer. Sebenarnya, penolakan mahasiswa terhadap RUU ini telah gencar dilakukan tetapi kekuatan negara masih mampu menjatuhkan gerakan rakyat. Bahkan akhirnya penilaian mahasiswa tentang keberadaan RUU ini ditanggapi beragam pula karena melihat dari sisi yang berbeda tetapi mampunyai satu visi yang sama, RUU PKB tidak layak dilegalkan jika belum ada perubahan secara signifikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polarisasi gerakan mahasiswa bisa dilihat secara general yiatu gerakan mahasiswa yang terus konsisten akan beberapa isu utama reformasi seperti cabut dwifungsi TNI, adili Soeharto dan kroninya, dan sebagainya. Dan gerakan ini diwakili oleh elemen mahasiswa ekstra-kampus yang lebih bersifat sosialis dalam pergerakan yaitu Forkot, Forbes, LMND dan sebagainya.&lt;br /&gt;Sementara gerakan mahasiswa berikutnya lebih peduli kepada persoalan bangsa terutama jalannya pemerintahan dalam menjalankan amanah reformasi yang telah disepakati dalam Enam Visi Reformasi. Elemen ini diwakili oleh badan atau organisasi intra-kampus seperti Senat Mahasiswa, Badan Eksekutif Mahasiswa universitas di Jawa atau bahkan Indonesia (seperti JMI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, gerakan mahasiswa yang tergabung dalam HMI, KAMMI, GKMNI,PMII atau yang lainnya dapat dimasukkan ke dalam kategori yang di atas secara masing-masing (seperti HMI lebih cocok ke tipikal kedua bersama KAMMI, sedangkan GKMNI dan PMII lebih cocok tipikal pertama), karena mereka pada umumnya tidak secara fokus gerakannya, hanya dapat menyikapi keadaan bangsa secara temporer dan beberapa isu saja. Dan kadangkala elemen mahasiswa ini ada sangkut pautnya dengan beberapa partai, sehingga pergerakan mereka seringkali diidentikkan dengan kepentingan partai tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua adalah fase setelah Gus Dur naik menjadi presiden hingga saat ini. Polarasasi yang disebutkan di atas semakin tajam adanya. Bahkan penyatuan untuk beraksi dalam satu momen yang sama enggan untuk dilakukan. Sehingga, aksi mahasiswa dalam setahun belakangan ini membawa agenda-agenda yang berbeda-beda. Seperti, agenda yang dibawa oleh Forkot untuk pengadilan Suharto atau agenda permasalahan amandemen UUD 45 yang diangkat oleh gerakan mahasiswa yang berasal dari lembaga formal pada Sidang Tahunan MPR adalah cermin perbedaan agenda yang dibawa oleh mahasiswa saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun diakui bahwa keduanya sangat setuju dengan isu yang diangkat, hanya saja pola gerakan dan metodenya berbeda. Bahkan, layaknya kekuatan politik, hingga kini, tambahan polarisasi gerakan mahasiswa, di mana ada kelompok mahasiswa yang telah mempunyai bargaining politik dengan pemerintahan sekarang untuk mengambil keuntungan tertentu dalam label mahasiswanya. Entah itu keuntungan materi atau usaha memberi dukungan penuh terhadap pemerintahan ini. Contoh dalam kasus terakhir ini (kasus Buloggate yang menghebohkan), kenapa mahasiswa tidak mampu membuktikan diri untuk menyatukan kekuatan lagi dikala isu yang kuat saat ini adalah maraknya KKN gaya baru yang dimunculkan rezim sekarang. Sedangkan isu ini telah disepakati untuk diberantas oleh seluruh elemen masyarakat termasuk mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, kalau beranjak dalam pola pikir bahwa apa pun bentuk polarisasi gerakan mahasiswa asalkan mempunyai isu bersama yang dimunculkan, saya pikir akan kembali menyatukan sebuah kekuatan massa yang telah hilang itu. Ternyata hal itu disayangkan karena ada indikasi yang telah saya sebutkan di atas bahwa sebagian kekuatan mahasiswa takluk akan kekuatan materi yang ditawarkan oleh penguasa rezim. Ditambah pula, lihainya penguasa dengan mengambil jalur kekuatan massa serta dukungan yang pro terhadapnya sehingga keyakinan saya bahwa sebagian kelompok mahasiswa berada dalam jalur ini adalah benar adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengungkap kebenaran dalam koridor moralitas ditambah dengan kekuatan intelektualitas adalah ciri khas mahasiswa. Kalaupun akhirnya ada kelompok mahasiswa yang melenceng dari hal ini, saya khawatir integritas mereka yang diharapkan sebagai kader pimpinan bangsa ini sangat jauh dari harapan rakyat untuk sekedar berbicara kejujuran saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, saya sebenarnya berada dalam kalangan orang yang pesimistis untuk sekedar melihat saja bahwa kekuatan mahasiswa tidak akan mampu lagi menyatukan diri. Karena ada setidaknya tiga alasan, pertama, jika saja kekuatan moral mampu dibeli, maka tidak akan pernah ada lagi kebenaran yang diungkapnya. Kedua, mahasiswa yang tetap berada dalam koridor intelektual dan moralitas, sesungguhnya adalah pejuang-pejuang yang rela berkorban demi rakyatnya sehingga ketiga, penyatuan itu takkan mungkin terlaksana dengan dua kondisi mahasiswa yang sudah berbeda itu karena masing-masing telah terkooptasi dengan egonya yang sangat sulit dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, saya termasuk orang yang optimis jika melihat ternyata masih banyak mahasiswa yang mau berjuang di jalan mencari kebenaran tanpa pamrih. Ketika melihat kenyataan bahwa respon mahasiswa terhadap kasus Buloggate sangat beragam, sesungguhnya saya melihatnya dalam pola pikir seperti di atas.@&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Penulis adalah mahasiswa FISIP UI jurusan Ilmu Politik, aktivis Lingkar Studi Dialektika dan pengurus BEM UI bidang Sosial Politik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Blog ini dikerjakan oleh Anick HT, arek Ciputat yang melanglang buana di dunia maya.&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25280484-114491374533638138?l=gerakanmahasiswa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/feeds/114491374533638138/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25280484&amp;postID=114491374533638138&amp;isPopup=true' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/114491374533638138'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/114491374533638138'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/2006/04/mungkinkah-mahasiswa-bersatu-kembali.html' title='Mungkinkah Mahasiswa Bersatu (Kembali)?'/><author><name>admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25280484.post-114450496761584418</id><published>2006-04-08T06:34:00.000-07:00</published><updated>2006-04-08T07:02:47.680-07:00</updated><title type='text'>Gerakan Mahasiswa dan Organisasi Kemahasiswaan Era 1990-an</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;a href="http://www.isnet.org/archive-milis/archive95/dec95/0158.html"&gt;http://www.isnet.org/archive-milis/archive95/dec95/0158.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh &lt;strong&gt;Fadli Zon&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebuah gerakan mahasiswa tidak akan lahir dalam situasi vakum. Dinamisasi merupakan syarat yang tak bisa dihindarkan ketika mahasiswa menuntut kembali peran politiknya dalam interaksi politik nasional. Relevansi mempertanyakan peran mahasiswa Indonesia memang tepat pada waktunya, saat depolitisasi hampir mencapai titik jenuh. Situasi yang berubah ditandai menaiknya tuntutan demokratisasi dan hak-hak asasi manusia mempercepat pergeseran-pergeseran kekuasaan di tingkat elit serta mempertinggi kesadaran rakyat pada umumnya tentang what's going on in this country.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Titik jenuh depolitisasi kampus memang harus terjadi. Lebih dari sepuluh tahun mahasiswa berada dalam penjara ketidakterlibatan politik yang menyebabkan putusnya akar gerakan mahasiswa sebelum nya. Keadaan ini merupakan konsekuensi logis dari kekalahan-kekalahan beruntun gerakan mahasiswa sejak 1970-an. Bermula dari gerakan moral menuju gerakan politik, gerakan mahasiswa 1970-an ditunggangi pertarungan elit. Gerakan mahasiswa1966 yang telah menjadi mitos gerakan mahasiswa Indonesia hingga kini dianggap berhasil memenangkan pertarungan, yang sebenarnya telah didisain oleh Angkatan Darat. Sebagai ujung tombak kemenangan, demikian Angkatan 1966 sering diidentifikasi, mereka telah masuk dalam grand design elit yang menang. Akibatnya ketika Orde Lama tumbang dan Orde Baru masuk dalam pentaspolitik Indonesia, tidak ada alternatif disain yang ditawarkan gerakan mahasiswa, suatu bukti bahwa mahasiswa hanya menjadi alat dan mediatorpeople's power. Ketika kemenangan tiba, mahasiswa disingkirkan dan berusaha direduksi kekuatan politiknya. Hanya saja, hal yang tak bisa dipungkiri dari Angkatan 1966 adalah kemenangannya memilih partner politik yang kuat, yang tidak berhasil pada 1974 dan seterusnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Puing-puing gerakan mahasiswa yang ditinggalkan atas kekalahan gerakan mahasiswa 1978 menjadi klimaks legitimasi pemerintah untuk memberangus bibit-bibit baru gerakan mahasiswa. Putuslah sudah perjuangan politik mahasiswa secara nasional yang membawa isu-isu substansial mengenai strategi pembangunan dan persoalan negara secara makro. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Angkatan 1980-an mencoba menyambung getaran-getaran yang masih tersisa dari kehancuran gerakan mahasiswa itu. Upaya-upaya sistematis dari pemerintah untuk mereduksi kekuatan politik mahasiswa makin gencar dengan proyek Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK), penempatan rektor sebagai penguasa tunggal di kampus, dan berbagai bentuk campur tangan korporatis yang takhentinya memerintahkan mahasiswa untuk menjadikan kampus sebagai tempat belajar. Sendi-sendi politik mahasiswa dipatahkan dengan tesis pendidikan sebagai pemenuhan tekno struktur pembangunan. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tak terhindarkan lagi, peran lembaga intra kampus yang dulu dimotori DewanMahasiswa (DM) hapus sudah. Pereduksian politik ini berhasil dan akibatnya menyurut pula peran lembaga ekstra universitas. Organisasi kemahasiswaan seperti HMI, GMNI, GMKI, PMKRI, PMII semakin kurang laku di kalangan mahasiswa. Angkatan 1980-an mencoba memajukan tesis baru berupa kelompok studi yang menurut mereka sebagai warming up menuju proses yang akhirnya memunculkan situasi anomik. Mereka lebih memilih menunggu momentum ketimbang menciptakan momentum, sehingga dalam proses sejarahnya yang tidak ditunjang kaderisasi, kelompok studi-kelompok studi yang semula menjamur akhirnya lenyap perlahan-lahan. Aktor-aktornya menjadi elit individual dan jauh dari basis massa. Di sisi lain kelompok demokrasi jalanan atau parlemen jalanan memuntahkan isu-isu populis lokal dan berharap suatu saat isu-isu lokal itu akan menjadi isu nasional. Tetapi demokrasi jalanan inipun tidak kuatstaminanya. Sedangkan LSM cenderung lebih akomodatif terhadap kegiatan aksi dan refleksi, tetapi peran mahasiswa di lembaga ini relatif terbatas dibanding peran mantan-mantan aktivis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada beberapa kekurangan-kekurangan Angkatan 1980-an. Pertama, ketiadaan kaderisasi. Kelompok studi maupun demokrasi jalanan dimotori oleh orang yangitu-itu juga. Kedua, ketiadaan basis massa. Situasi massa memang tidak mendukung, proyek depolitisasi berhasil, tindakan represif mengancam setiapgerakan mahasiswa yang membawa isu-isu substansial. Ketiga, disakumulasi kekuatan mahasiswa. Menyadari pereduksian politik yang berakibat posisimahasiswa berada di jalur peripheral, pinggiran, mestinya kekuatan-kekuatansporadis mahasiswa melakukan akumulasi, saling bergandeng tangan. Tetapiyang terjadi adalah saling menuduh dan saling menghakimi antara kelompok studi dan demokrasi jalanan. Bahkan sesama demokrasi jalanan pun terjadi kleim-mengkleim tentang sebuah move. Ada semacam arogansi, sayangnya arogansi ini lahir dari kaum pinggiran yang makin dimarjinalisasi sehingga kekuatan gerakan mahasiswa 1980-an mengalami disakumulasi kekuatan, power disaccumulation. Bisa dibayangkan jika sebuah kelompok marjinal yang makinmarjinal, ingin "menggoyang" center yang makin menguat. Hasilnya adalah kegagalan Angkatan 1980-an. Angkatan Baru&lt;br /&gt;Membangun sebuah gerakan mahasiswa baru, gerakan mahasiswa 1990-an, bukan hal mudah. Puing-puing gerakan mahasiswa sebelumnya masih membayang-bayangi. Adalah satu keberanian menggulirkan diskursus gerakan mahasiswa 1990-an di tengah kehancuran politik mahasiswa. Bahkan istilah gerakan mahasiswa1990-an adalah nama yang mendahului sejarah. Seringkali angka-angka 1908,1928, 1945, 1966, 1974, 1978, lahir setelah terjadi, post factum. Angka-angka itu pun erat kaitannya dengan sebuah momentum. Bisakah gerakan mahasiswa 1990-an menciptakan momentum ketimbang menunggu momentum, karena memang momentum tidak akan datang dari langit. Kare nanya agenda gerakan mahasiswa 1990-an haruslah menghela sejarah, bukan menunggu masa krisis maupun momentum yang dihela oleh elit-elit politik yang bertikai.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pesimisme kemungkinan terbangunnya suatu kekuatan baru mahasiswa memang ada. Pertama, aksi-aksi mahasiswa sekarang hanya merupakan bentuk gagah-gagahan dan "menapaktilas" Angkatan 1966. Aksi-aksi itu masih dilingkupi romantisme Angkatan 1966 yang ikut mendongkel Orde Lama. Kedua, aksi-aksi mahasiswasekarang kurang dibekali landasan konsepsional yang matang serta peta politik, ekonomi, yang akurat. Hal ini merupakan dampak NKK yang mengisolasikan mahasiswa dari politik dan persoalan kemasyarakatan. Ketiga,aksi-aksi lebih banyak mengandalkan liputan media massa ketimbang berdiri otonom. Keempat, aksi-aksi bersifat sporadis, temporer dan reaktif, tidakmembangun isu dari bawah. Sementara isu yang dimunculkan juga bersifatsesaat tidak perubahan mendasar. Kelima, dampak NKK masih terasa dan proyekdepolitisasi kampus masih diterapkan. Kebanyakan mahasiswa menjadi asing terhadap persoalan-persoalan bangsanya sendiri. Keenam, gerakan mahasiswa sendiri terpecah belah dalam banyak faksi mewakili kepentingan yang bervariasi dengan strategi gerakan yang juga beragam. Ketujuh, ormas kepemudaan dan ormas kemahasiswaan kurang berperan dan semakin tidak kritis terhadap ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Sehingga, kehadiran aksi-aksi sulit diharapkan menjadi pressure group bagi pemerintah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di samping pesimisme itu ada faktor eksternal dan internal yang mendukung optimisme. Faktor eksternal adalah faktor di luar dunia kemahasiswaan atau gerakan mahasiswa yaitu perubahan cuaca politik. Cuaca politik di era1990-an mengalami kemajuan terutama dengan dibukanya keran keterbukaan oleh pemerintah, meskipun belum pada tahap yang diharapkan. Kuatnya isu demokrasi dan hak asasi manusia di dunia internasional telah membawa perhatian pemerintah untuk lebih arif menyelesaikan persoalan-persoalan pemerintah dengan rakyat seperti kasus tanah, upah buruh, monopoli, dan seterusnya. Terjadi pula perubahan power block, blok kekuasaan, dalam konstalasi pemerintahan Orde Baru. Arief Budiman menyebut ini sebagai realiansi, dari Soeharto-Katolik-CSIS-Ali Murtopo ke Soeharto-Islam-ICMI-Habibie yang dipicuUU Peradilan Agama tahun 1989. Berturut-turut Islam, yang selama dua dekade Orde Baru ditempatkan sebagai ekstrem kanan, mendapat akomodasi politik seperti dengan kehadiran ICMI, CIDES, BMI, penghapusan pelarangan jilbab, penghapusan SDSB, dan seterusnya. Meskipun akomodasi politik Islam ini masih bersifat artifisial, namun ia telah membawa kegairahan baru di kalangan umat Islam yang selama ini marjinal dalam politik Indonesia. Hal ini merupakan harapan baru bagi upaya demokratisasi di Indonesia. Tanpa keterlibatan mayoritas, tidak mungkin tercipta demokrasi di Indonesia. Karenanya Islam di Indonesia harus mendorong demokratisasi. Ini merupakan suatu revolution from above yang menjadi blessing in disguise bagi demokratisasi di Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Faktor internal adalah faktor dalam dunia kemahasiswaan sendiri. Perlahan-lahan, kesadaran politik mahasiswa mulai kembali meskipun belum pada derajat memahami politik itu. Kepedulian terhadap nasib rakyat yang tertindas masih hadir dan makin hidup. Hal ini tecermin dalam banyak kasus seperti pembelaan terhadap kasus tanah, upah buruh, dan seterusnya. Meskipun pembelaan itu masih dalam kerangka "reaktif" namun masih ada harapan. Contoh yang menarik adalah kasus SDSB tahun 1993. Angkatan 1990-an berhasil menggelindingkan bola salju SDSB sehingga isu lokal populis ini dengan akseleratif menjadi isu nasional yang tak terelakkan dan akumulatif.Menghadapi itu, pemerintah mau tak mau harus mencabut SDSB. Meskipun kemenangan ini kecil, bahkan pemerintah dan ABRI mendapat citra baik dalampencabutan SDSB ini, tetapi tak bisa disangkal bahwa pupusnya SDSB telah menjadi platform dan legitimasi bahwa gerakan mahasiswa masih ada, dan demonstrasi sebagai jalan akhir ketika dialog macet, masih efektif digunakan. Ini merupakan stepping stone bagi gerakan mahasiswa 1990-an. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kasus SDSB merupakan fenomena menarik melihat gerakan mahasiswa 1990-an. Sebagai sebuah batu loncatan, hapusnya SDSB harus dilihat secara optimistik bahwa dalam isu-isu tertentu akan terjadi konsolidasi yang begitu kuat menghadapi policy pemerintah yang tidak dikehendaki rakyat. Argumentasi relijius dan ekonomis ternyata cukup kuat untuk mendongkel sebuah kebijakan.Terjadilah the unity of action dari berbagai kelompok mahasiswa mulai dari kelompok mahasiswa yang bernafaskan kelompok studi, parlemen jalanan atau demokrasi jalanan, aktivis lembaga mahasiswa SMPT, aktivis ekstra kampus,OKP berbasis mahasiswa dan kelompok mahasiswa relijius. Bahkan dalam perkembangannya, ketika aksi-aksi anti SDSB telah meluas, pihak-pihak tertentu yang semula tidak concern soal SDSB, mungkin juga mendukung SDSB,secara mengejutkan berusaha ikut membonceng dengan niatan berbeda. Keberhasilan gerakan mahasiswa dalam isu SDSB harus diakui tertolong oleh power block politik yang ada. Pemerintah tidak mau berhadapan dengan Islam, hanya untuk mempertahankan SDSB.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Fenomena Baru Gerakan Mahasiswa&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hadirnya argumentasi relijius sebenarnya merupakan salah satu fenomena baru1990-an. Paling tidak ada tiga fenomena baru gerakan mahasiswa 1990-an yang sejauh ini dapat dicatat yaitu fenomena relijius, kesadaran internasional dan kecenderungan konvergensi aksi-refleksi.&lt;br /&gt;Fenomena relijius yang ditandai menguatnya unsur relijiusitas dalam aktivitas kemahasiswaan sebagai reaksi atas pencepatan sekularisme ke arahstagnan dan arus umum revival of faith di masyarakat telah melahirkan sebuahkelompok baru: kelompok mahasiswa relijius. Faktor lain yang memunculkan kelompok ini adalah ketidakmampuan organisasi-organisasi ekstra kampus menjawab tantangan zaman karena memang telah surut akibat depolitisasi kampus. Kalau dulu HMI, PMKRI, GMNI, PMII dan organisasi sejenis memiliki basis di kampus, maka sekarang akar organisasi ekstra itu tercerabut dikampus dan makin tidak populer. Berbeda dengan kelompok studi atau demokrasijalanan di tahun 1980-an maka kelompok mahasiswa relijius menempatkan tema-tema politik setelah tema-tema ideologis sehingga mereka tidak secara eksplisit menyatakan sikap terhadap perkembangan sosial politik diIndonesia. Bagi mereka, proses terpenting adalah pembinaan diri terus-menerus sehingga dalam proses itu mereka benar-benar survive lalu keluar sebagai manusia yang mampu menjawab tantangan dunia sekelilingnya.Dalam kalimat yang lebih pendek sebut saja tarbiyatul qoblal jama'ah, pendidikan yang terus-menerus sebelum membentuk society. Jadi, mereka mempunyai kesadaran politik tetapi lebih memilih membina diri pribadi mereka dahulu ketimbang terlibat dalam isu-isu politik. Hanya dalam isu-isu tertentu saja mereka terlibat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagi kelompok mahasiswa relijius persoalannya adalah tidak kondusifnya lingkungan bagi penerapan keberagamaan mereka, termasuk tidak akomodatifnya sistem yang ada. Untuk itu perlu dibentuk suatu masyarakat yang lebihagamis baik secara keimanan maupun budi pekerti, tingkah laku, sehingga terjadi kesatuan penerapan antara iman, amal dan ilmu. Pengertian keberagamaan yang umum didekonstruksi sedemikian rupa dengan semangat purifikasi. Sebagai konsekuensi pembinaan ke dalam, terjadi pembatasan yang agak transparan antara kelompok mahasiswa relijius dengan kelompok-kelompokmahasiswa pada umumnya. Pada derajat tertentu pembatasan itu mengarah padaekslusivisme sehingga mendukung pengkotakan mereka sebagai kaum"fundamentalis." Namun tentu saja derajat itu berbeda-beda. Dalam prosesberikutnya bahkan sebagian kelompok mahasiswa relijius lebih tanggap terhadap perubahan tanpa emosional.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Basis kelompok mahasiswa relijius termasuk yang paling kuat di antara kelompok-kelompok mahasiswa lainnya. Mereka hadir di jantung-jantungfakultas universitas baik negeri maupun swasta dan mempunyai network yang terbina rapi. Komitmen mereka yang kuat atas perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan tampaknya akan mempunyai peran penting di tahun-tahun mendatang. Apalagi jika komitmen itu menyatu dengan nafas zaman ini yang diidentifikasi sebagai masa tuntutan demokratisasi dan pemenuhan hak-hakasasi manusia.&lt;br /&gt;Sementara fenomena kesadaran internasional lahir karena globalisasi informasi yang cepat, menguatnya diskursus demokrasi dan hak-hak asasi manusia dan kesadaran perlunya menggandeng kekuatan internasional dalam pemenuhan demokrasi dan hak-hak azasi manusia itu. Selain itu mungkin pula karena apatisme terhadap perjuangan isu lokal yang hampir selalu gagal. Hal menarik dari kesadaran internasional ini adalah kaitannya dengan kesadaranrelijius. Munculnya advokasi-advokasi masalah Bosnia-Herzegovina-Serbia, Perang Teluk, Irak-Amerika, PLO-Israel, Aljazair dan Somalia, tidak lepasdari persoalan solidaritas agama.&lt;br /&gt;Sedangkan kecenderungan konvergensi aksi-refleksi tampak dalamkelompok-kelompok mahasiswa yang ada. Pada dasarnya intelektualitas atau kecendekiawanan tetap harus menjadi pegangan. Masalah cara, apakah dialog, lobi, mimbar bebas atau unjuk rasa bukanlah persoalan intelektualitas. Intelektualitas itu ditentukan substansi yang disampaikan dikaitkan dengan argumentasi yang berdasar kuat dan mempunyai konsep yang jelas. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada Angkatan 1980-an, berbenturannya kelompok studi dan demokrasi jalanan selain perbedaan ideologi, juga perbedaan persepsi pendekatan gerakan.Kelompok studi dan LSM cenderung tidak apriori terhadap pemerintah dengan memajukan persoalan-persoalan yang bersifat transformatif dan korektif seperti pengembangan isu demokrasi dan hak-hak asasi manusia. Sedangkan demokrasi jalanan memilih pembatasan yang tegas, non kooperatif dengan pemerintah dalam bentuk komite-komite aksi yang pragmatis berdasar isu lokaltertentu dengan harapan melibatkan gerakan rakyat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Senat Mahasiswa dan Dewan Mahasiswa&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lembaga kemahasiswaan SMPT (Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi) merupakan bagian penting dari fenomena 1990-an. Berlakunya SMPT ini berdasarkan SK Mendikbud Fuad Hassan No. 0457/U/1990 sekaligus mengakhiri NKK/BKK. Walau demikian dampak buruk NKK/BKK dalam aktivitas kemahasiswaan masih tampakjelas hingga kini. Ketika itu Fuad menegaskan bahwa pembentukan senat pada fakultas dan universitas tidak ada kaitannya dengan DM (Dewan Mahasiswa)yang telah diberangus.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Semula beberapa perguruan tinggi menolak konsep SMPT ini termasuk ForumKomunikasi SM-BPM Universitas Indonesia. Berikut adalah sejumlah alasanpenolakan terhadap SMPT. Pertama, SMPT tidak mengakar ke mahasiswa umumnya,tidak populis. Kedua, hubungan SMPT dengan lembaga-lembaga mahasiswa lainseperti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) hanya bersifat koordinatif sehingga suara tidak menyatu, mudah terpecah belah. Ketiga, adanya peluang menjadikan SMPT sebagai wadah permainan elit mahasiswa belaka. Keempat, tidak diakuinya fungsi legislatif mahasiswa yang seharusnya menjalankan fungsi kontrolterhadap eksekutif. Kelima, SMPT tidak mandiri, tidak otonom, dan tidak independen karena berada di bawah kekuasaan rektorat yang berhak ikut campurdalam persoalan SMPT. SMPT dianggap sebagai upaya kooptasi birokrat kampus. Sebagian lagi menilai SMPT adalah perpanjangan NKK/BKK yang berubah bentuk. Keenam, ada pula yang menilai SMPT harus ditolak karena pemberian pihaklain, bukan dari mahasiswa untuk mahasiswa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sejumlah alasan tersebut telah diungkapkan pada awal tahun 1990-an. Darisinilah aktivis mahasiswa intrakampus terbelah kembali. Namun, sebagianbesar kampus-kampus di Indonesia akhirnya menerima SMPT dengan beberapacatatan. Alasan utama penerimaan SMPT itu adalah adanya celah dalam pasal 16ayat 2 dari SK Mendikbud yang menyatakan bahwa petunjuk teknis pelaksanaan keputusan ditetapkan oleh masing-masing perguruan tinggi. Dengan modal ini, aturan main SMPT ditentukan oleh institusi perguruan tinggi masing-masing. Aktivis intrakampus akhirnya bermain diantara celah-celah yang hasilnyadapat dilihat dengan keberadaan SMPT dewasa ini. SMPT-SMPT itu menjadiberagam strukturnya. SM UGM, misalnya, mempunyai kongres yang membawahi SMPT, UKM dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) secara sejajar. Ada mekanisme legislatif-eksekutif. SM UI mengambil celah melalui pemisahan tugas antara Ketua Umum SMPT, yang bertindak sebagai legislatif, dan Ketua Harian SMPT,sebagai eksekutif. Pola pemilihan di SM UI mengalami berbagai perubahan.Dalam usianya yang masih muda itu, tampaklah SMPT mulai kelihatan berperan dalam berbagai isu lokal maupun nasional. SM UGM yang memajukan soal lembaga kepresidenan, SM UI yang mengusulkan rancangan GBHN adalah contoh gerakan yang strategis dilakukan SMPT pada awal berdirinya. SMPT-SMPT jugamengedepankan persoalan korupsi dan kolusi, mengajukan proposal perlunyapembatasan monopoli dan seterusnya. Selain itu, sebagian pimpinan SMPTterlibat dalam pengorganisasian komite-komite mengetengahkan isu-isu tertentu yang tidak bisa membawa nama lembaga. Termasuk dalam kasus SDSB, pimpinan-pimpinan SMPT aktif memimpin massa mahasiswa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perlu diakui, ada beberapa kesulitan untuk membawa nama SMPT dalam melakukan gerakan. Untuk melakukan dialog, mimbar bebas di kampus, atau membuat pernyataan tampaknya masih memungkinkan dilakukan. Tetapi melakukan unjuk rasa dengan membawa SMPT agaknya masih riskan. Inilah yang dialami SM UIbeberapa waktu lalu ketika berdemonstrasi SDSB membawa nama SMPT. Pihakrektorat dengan tegas menyatakan tindakan itu bersalah karena tidak ada izin pimpinan untuk membawa nama almamater, meskipun yang dibawa adalah nama SM, bukan universitas secara keseluruhan. Untuk unjuk rasa membawa nama almamater harus ada izin, dan tentu saja tidak akan mendapat izin. SM UIakhirnya mendapat peringatan terakhir dari rektorat secara sepihak. Dalam argumentasi rektorat, cara-cara dan prosedur birokrasi lebih pentingketimbang substansi yang dibawakan. Sehingga bagi SMPT, perjuangan demokratisasi kampus agaknya akan mengalami masa-masa yang berat. Hal ini bisa dipahami karena membawa nama lembaga formal melawan lembaga pemerintah,misalnya, akan meminta konsekuensi politis tertentu. Bagi pemerintah iniadalah trauma dewan mahasiswa di tahun 1970-an. Gerakan yang lahir dari tubuh institusi formal, organisasi intra kampus, jauh lebih berbahaya ketimbang komite-komite aksi yang insidental dan sporadis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada akhir tahun 1994 setelah Kongres IV mahasiswa UGM muncul DewanMahasiswa (DM) yang dianggap sebagai alternatif SMPT. Nama "DM" dipinjam dari Dewan Mahasiswa yang ada pada 1970-an, yang dibekukan tahun 1978. Upaya sosialisasi DM dilakukan di berbagai kota agar terwujud DM-DM di kota lain.Aktivis DM mengemukakan gagasan-gagasan dan kritik-kritik tajam terhadap SMPT yang sebagian besar teah disadari oleh aktivis SMPT ketika menerima SMPT. DM mendefinisikan dirinya sebagai antitesa terhadap kelemahan-kelemahan SMPT. Pertama, DM mengkleim mempunyai basis massa dan memang dikehendaki oleh mahasiswa, tidak seperti SMPT yang elitis dan menggantung ke atas. Kedua, lembaga DM mempunyai otonomi penuh, independensi yang tidak bisa dicampuri rektorat, tidak seperti SMPT yang bertanggungjawab pada rektorat. Hubungan DM bersifat sejajar dengan rektorat. Dan seterusnya. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kepedulian masalah otonomi, independensi, dan berbagai kelemahan SMPT itusebenarnya juga merupakan kepedulian aktivis-aktivis SMPT. Di kalangan SMPT, perjuangan untuk memperbaiki diri yang berhubungan dengan kelemahan itutetap ada. Persoalannya apakah DM menjadi alternatif? Saya justru melihatkehadiran DM dalam situasi sekarang malah memecah belah mahasiswa dan tidakstrate gis. DM harus berhadapan dengan aktivis-aktivis SMPT yang sebetulnya mempunyai concern yang sama. Polarisasi persoalan lembaga akhirnya mengarah pada perbedaan ideologi perjuangan. Harus diakui, mayoritas aktivis SMPT di Indonesia adalah aktivis mahasiswa Islam. Lucunya, aktivis DM sebelumnya juga duduk di SMPT dan menerima SMPT itu. DM ternyata tidak diterima mayoritas mahasiswa. Karenanya DM juga menjadi lembaga elitis yang menjadi tempat bermain elit-elit aktivisnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Beberapa gagasan DM yang patut didukung adalah semangatnya untuk melakukanperubahan. Tetapi, menurut saya, koreksi terhadap SK Mendikbud No.0457/U/1990 seharusnya dilakukan oleh SMPT sebagai badan yang telah diakui.Agenda yang perlu dilakukan SMPT adalah demokratisasi kampus antara laindalam bentuk sharing administration. Segala keputusan universitas yangmenyangkut kepentingan mahasiswa harus mengikutsertakan sikap dan pandanganmahasiswa. Karena mahasiswa adalah bagian paling vital dalam universitas maka mahasiswa perlu diminta pendapatnya karena itu adalah hak mahasiswa. Mahasiswa juga berhak ikut menentukan dekan dan rektor, biaya SPP,pengelolaan kampus seperti asrama mahasiswa, dan seterusnya. Kesejahteraan mahasiswa adalah kunci program SMPT selain pengabdian masyarakat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Menaikkan Posisi Tawar&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam posisi tawar mahasiswa yang lemah dewasa ini, belum saatnya menentukan partner politik atau memutuskan pilihan-pilihan grand design politik tertentu. Gerakan mahasiswa sekarang belum lagi menjadi agent of socialchange, sebaliknya menjadi gerakan peripherial, pinggiran. Agenda yang diperlukan adalah penyatuan kelompok-kelompok pinggiran mahasiswa dalamsuatu konsolidasi secara nasional.Hal ini dibutuhkan untuk pengembalian posisi tawar yang menyurut. Karenanya, dalam posisi tawar yang lemah, agendagerakan mahasiswa mesti berpihak memilih misi transformatif dan misi korektif. Misi transformatif menekankan pada gerakan penyadaran sosial politik dan penularan gagasan-gagasan demokrasi dan hak-hak azasi manusia. Sedangkan misi korektif menitikberatkan pada koreksi berbagai kebijakan atau sikap dan tindakan yang tidak menguntungkan rakyat banyak. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Diangkatnya isu-isu lokal populis dengan harapan dapat menjadi isu nasional nampaknya masih bisa diandalkan. Pilihan isu-isu mikro memang sesuai dengankondisi gerakan mahasiswa yang lemah. Dalam tahap ini diharapkan terjadi konsolidasi secara bertahap untuk mengembalikan nafas gerakan mahasiswa yangtelah surut akibat depolitisasi kampus. Untuk merajut jaringan secara nasional itu paling tidak dibutuhkan beberapa prinsip. Pertama, perlunya semangat dialog tanpa apriori antarkelompok mahasiswa. Melalui dialog tanpa apriori dapat diketahui kekuatan dan kelemahan masing-masing pihak serta menghindari perasaan curiga atau rasa permusuhan akibat berbedanya pendekatan gerakan. Kedua, kedewasaan berpolitik antaraktivis yang berbeda ideologi dan pendekatan gerakan. Ketiga, konsolidasi berjalan bertahap dan berkesinambungan melalui isu-isu tertentu dengan target "jangka panjang," sehingga terhindar situasi gerakan yang prematur.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Fadli Zon&lt;/strong&gt;, Mahasiswa Program Studi Rusia UI, aktivis, wartawan.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Blog ini dikerjakan oleh Anick HT, arek Ciputat yang melanglang buana di dunia maya.&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25280484-114450496761584418?l=gerakanmahasiswa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/feeds/114450496761584418/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25280484&amp;postID=114450496761584418&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/114450496761584418'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/114450496761584418'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/2006/04/gerakan-mahasiswa-dan-organisasi.html' title='Gerakan Mahasiswa dan Organisasi Kemahasiswaan Era 1990-an'/><author><name>admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25280484.post-114450286857007378</id><published>2006-04-08T06:25:00.000-07:00</published><updated>2006-04-08T06:28:35.703-07:00</updated><title type='text'>Format Gerakan Mahasiswa Pasca Reformasi</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.habibie.net/2001/Indonesia/"&gt;http://www.habibie.net/2001/Indonesia/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;activities/other/2001/dil/malang_okt30.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang, 30 Oktober 2000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu peran yang sangat penting dalam proses perubahan politik di Indonesia adalah peran mahasiswa dengan gerakan mahasiswanya. Perjalanan panjang Gerakan mahasiswa mencapai puncaknya pada mei 1998 dengan indikasi turunnya kekuatan otoriter dibawah kepemimpinan Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan yang mengesankan ini tampaknya tidak dibarengi oleh kesiapan jangka panjang gerakan mahasiswa. Sejumlah pihak menganggap turunnya Soeharto pada Mei 1998 sebenarnya diluar prediksi semula. Soeharto terlalu cepat turun sementara konsolidasi gerakan mahasiswa sebenarnya masih amburadul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca reformasi 1998 tampak terlihat bagaimana masih amburadulnya konsolidasi gerakan mahasiswa. Gerakan mahasiswa tahap selanjutnya mengalami krisis identitas. Perbedaan visi yang muncul pada gerakan mahasiswa seringkali mengarah pada persoalan friksi-friksi yang sifatnya teknis. Kenyataan demikian menyebabkan friksi-friksi gerakan mahasiswa kehilangan arah dan bentuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehilangan arah dan bentuk format gerakan ini menyebabkan sejumlah gerakan mahasiswa harus melakukan konsolidasi internal organisasi. Konsolidasi internal ini sebagai upaya untuk mencariu format baru gerakan mahasiswa dalam konstalasi politik yang baru pula. Disamping itu konsolidasi internal ditujukan agar gerakan mahasiwa harus lebih intropeksi diri terhadap apa yang dilakukan. Upaya konsolidasi internal ini bukan berarti menegasikan dinamika politik sekitar. Tetapi konsolidasi internal ini agar lebih tepat baik secara strategis dan taktis untuk melakukan gerakan kedepan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal reformasi terjadi konsolidasi massif melawan simbol-simbol kekeuasaan otoriter yaitu Soeharto. Perkembangan selanjutnya, gerakan mahasiswa lebih disibukkan oleh kondisi internal organisasi, tanpa melihat nilai-nilai apa yang telah digulirkan pada awal-awal reformasi yaitu untuk melakukan perubahan yang sangat mendasar yang dihadapi oleh rakyat. Artinya disini ada satu otokritik bagi elemen gerakan mahasiswa yaitu penyebaran-penyebaran yang dilakukan bukan pada masifikasi gerakan. Gerakan Mahasiswa tidak menjadi sebuah inklusifitas gerak tetapi menjadi eklusifitas gerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini terjadi karena mahasiswa tidak mempunyai konsistensi orientasi dari kondisi otoriter ke kondisi leberalisme politik. Seharusnya mahasiswa harus terus konsisten dengan orientasinya bahwa saat ini kalau dalam tataran opini tidak sampai muncul dalam konstalasi politik bukan berarti gerakan mahasiswa harus mengendap, akan tetapi ditengah pengendapan itu harus ada konsolidasi ditingkatan grasroot yaitu konsolidasi masyarakat sipil yang solid.&lt;br /&gt;Agenda gerakan mahasiswa kedepan adalah ruang gerak mahasiswa harus lebih reaktif dalam mensikapi kondisi sosial masyarakat. Mahasiswa tidak perlu terjebak dalam konstalasi politik nasional sementara ia harus kehilangan jati dirinya sebagai mahasiswa. Perjuangan kedepan adalah bagaimana membangun kekuatan sosial masyarakat dengan melakukan kerja bareng bersama-sama rakyat. Hal ini menginggat bahwa salah satu hal yang menyebabkan terpecahnya konsolidasi gerakan mahasiswa adalah terjebak dalam arus politik nasional yang sebenarnya jauh dari kegiatan mahasiswa. Untuk itu salah satu perekat dari keberlanjutan gerakan mahasiswa adalah membangun kekuatan bersama-sama rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Penulis: unidentified&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Blog ini dikerjakan oleh Anick HT, arek Ciputat yang melanglang buana di dunia maya.&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25280484-114450286857007378?l=gerakanmahasiswa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/feeds/114450286857007378/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25280484&amp;postID=114450286857007378&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/114450286857007378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/114450286857007378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/2006/04/format-gerakan-mahasiswa-pasca.html' title='Format Gerakan Mahasiswa Pasca Reformasi'/><author><name>admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25280484.post-114450222466456417</id><published>2006-04-08T06:08:00.000-07:00</published><updated>2006-04-08T06:17:04.670-07:00</updated><title type='text'>Analisis singkat sejarah gerakan mahasiswa Indonesia 1966-2001</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.sosialista.org/081801_09_pelopor.html"&gt;http://www.sosialista.org/081801_09_pelopor.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PELOPOR DAN PENGAWAL REVOLUSI DEMOKRASI:GERAKAN MAHASISWA SEBAGAI GERAKAN POLITIK NILAI&lt;br /&gt;oleh : M. Fadjroel Rahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DUA TAHAP REVOLUSI DEMOKRASI DAN PERAN OPOSISI ADHOC&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak revolusi mei 1998 adalah penggulingan Jenderal Besar (purn) Soeharto, didahului oleh pendudukan gedung DPR/MPR oleh mahasiswa Indonesia. Namun, revolusi mei 1998 hanyalah awal dari tahap pertama (first strage) revolusi demokrasi yang dipelopori gerakan mahasiswa. Tahap pertama revolusi demokrasi ini merupakan tahap pembongkaran kesadaran massa dan mahasiswa terhadap struktur ekonomi, politik, sosial dan budaya yang menindas atau eksploitatif. Proses pembentukkan tahap pertama revolusi demokrasi ini berlangsung sepanjang sejarah rezim Orde baru (ditandai sejumlah "puncak" perlawanan gerakan mahasiswa 1974, 1987,1989, dan 1998). Peran oposisi adhoc gerakan mahasiswa merupakan peran historis yang dipaksakan secara struktural oleh rezim Orde baru yang menjalankan satu jenis faasisme baru yaitu fasisme pembangunan (developmental fascism). Peran ini menjadi permanen sepanjang sejarah rezim Orde baru karena diberangusnya semua kekuatan oposisi formal (dalam kondisi demokrasi merupakan peran partai politik) dan ditundukkannya masuarakat sipil secara korporatis-fasistis, maupun melalui kekerasan terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran oposisi adhoc ini kembali dijalankan gerakan mahasiswa dibawah rezim Abdurrahman Wahid karena; Pertama: agenda reformasi total tidak dilaksanakan oleh semua lembaga politik baik legislatif, eksekutif maupun yudikatif; kedua: tidak ada satupun partai politik yang menegaskan kekuatan politik oposisional dan memperjuangkan pelaksanaan agenda reformasi total tanpa kompromi politik dengan rezim Orde baru; ketiga: semua partai politik peserta pemilu 1999 (48 parpol) adalah legitimator UU pemilu yang cacat demokrasi karena mensyahkan keberadaan TNI/POLRI di legislatif (DPR/MPR, DPRD I dan DPRD II) dan keikutsertaan partai Golongan Karya dalam pemilu tanpa pertanggungjawaban hukum terhadap kejahatan politik, ekonomi dan HAM sepanjang 32 tahun rezim Orde baru. Dengan demikian semua partai politik berkhianat terhadap agenda reformasi total dan revolusi demokrasi, karena menjadi kolaborator politik rezim Orde baru .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap pertama revolusi demokrasi ini berawal pada tergulingnya Jenderal Besar (purn) Soeharto da berakhir pada pelaksanaan seluruh agenda reformasi total. Bila seluruh agenda reformasi total dijalankan maka terbentuklah demarkasi politik demokrasi/reformasi total terhadap politik anti-demokrasi/anti reformasi total. Oleh karena agenda reformasi total belum dijalankan hingga rezim Abdurrahman Wahid sekarang, maka gerakan mahasiswapun terus menerus menjalankan oposisi adhoc-nya. Dapat dicatat dengan sejumlah "puncak lain" selain Mei 1998 (pendudukan DPR/MPR dan penggulingan Soeharto), November 1998 (Semanggi I, penolakan terhadap SI MPR), September 1999 (Semanggi II, Penolakan terhadap UU Penanggulangan Keadaan Bahaya), Oktober 1999 (Penolakan terhadap Habibie dan Wiranto), Januari 2001 hingga sekarang (tuntutan terhadap penurunan Abdurrahman Wahid serta pembubaran dan pengadilan Partai Golkar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam skala waktu,tidak dapat ditetapkan kapan tahap pertama revolusi demokrasi atau pelaksanaan agenda reformasi total berakhir. Bukan tidak mungkin, bahkan rezim berikutnyapun yang berasal dari pemilu 1999 yang cacat demokrasi, bila Abdurrahman Wahid mengundurkan diri, tidak akan mampu dan mau menyelesaikan tahap pertama revolusi demokrasi tersebut. Tetapi secara teoritis, tahap kedua (second stage) dari revolusi demokrasi dapat diawali bila semua agenda reformasi total sudah dijalankan. Tahap kedua ini merupakan tahap pembongkaran struktur ekonomi, politik, sosial dan budaya yang menindas atau eksploitatif. Pada tahap keduainilah pemantapan dan pengembangan demokrasi dijalankan melalui proses konsolidasi dan pendalaman demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GERAKAN POLITIK NILAI VERSUS GERAKAN POLITIK KEKUASAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah gerakan mahasiswa bebas kepentingan politik? Tentu tidak, karena kepentingan pertama dan terutama yang diperjuangkannya adalah nilai-nilai (values) atau sistem nilai (values system) yang sifatnya universal seperti keadilan sosial, kebebasan, kemanusiaan, demokrasi dan solidaritas kepada rakyat yang tertindas. Karena itu oposisi adhoc gerakan mahasiswa di Indonesia merupakan gerakan politik nilai (values political movement) dan bukan gerakan politik kekuasaan (power political movement) yang merupakan fungsi dasar partai politik.Nilai-nilai universal tersebut juga hidup dalam konteks kesejarahan suatu gerakan mahasiswa. Gerakan mahasiswa di Indonesia menterjemahkan nilai-nilai tersebut dalam konteks politik kontemporer Indonesia dalam bentuk agenda reformasi total sekarang ini berupa:&lt;br /&gt;1. Amandemen UUD '45 menjadi konstitusi demokrasi,&lt;br /&gt;2. Pencabutan Dwifungsi ABRI (TNI/Polri) atau penghapusan peran politik, bisnis dan teritorial TNI/Polri.&lt;br /&gt;3. Pengadilan pelaku KKN sepanjang pemerintahan Soeharto, Habibie dan Abdurrahman Wahid,&lt;br /&gt;4. Pengadilan pelaku kejahatan HAM sepanjang pemerintahan Soeharto, Habibie dan Abdurrahman Wahid.&lt;br /&gt;5. desentralisasi atau otonomi daerah seluas-luasnya,&lt;br /&gt;6. reformasi perburuhan dan pertanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan gerakan politik kekuasaan yang menjadi ciri khas partai politik, dimana penetapan agenda dan target politik maupun pemilahan lawan dan kawan politik semata-mata sebagai urusan taktis dan strategis untuk memperkuat dan mengukuhkan posisi politiknya dalam percaturan kekuasaan sekarang dan di masa depan. Maka gerakan politik nilai yang menjadi ciri khas gerakan mahasiswa walaupun melakukan penetapan agenda dan target politik maupun pemilahan lawan dan kawan politik, tetapi samasekali tidak untuk memperkuat dan mengukuhkan posisi politiknya dalam percaturan kekuasaan. Contohnya, ketika gerakan mahasiswa menolak pemilu 1999 dimasa rezim Habibie, lebih disebabkan oleh perhitungan bahwa pemilu tersebut cacat demokrasi dan mnegkhianati agenda reformasi total. Tetapi, untuk 48 parpol peserta pemilu 1999, pemilu tersebut merupakan peluang untuk meraih dan mengukuhkan kekauasaan politik atau sekedar memperoleh legitimasi hukum untuk keberadaan partainya, bahkan sekedar memperoleh sedikit jabatan dan sejumput uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GERAKAN POLITIK NILAI UNTUK MENUNTASKAN REVOLUSI DEMOKRASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena berdiri sebagai gerakan politik nilai, maka gerakan mahasiswa angkatan 2001 sekarang pun dengan luwes menetapkan sejumlah agenda dan target politik baru yang menghindarkan mereka dari jebakan dan manipulasi kepentingan elite maupun partai politik tertentu. Melalui pertarungan gagasan yang cukup tajam antar kelompok dan gerakan mahasiswa, sekarang secara praktis semua elemen gerakan mahasiswa "bersatu lagi" sebagai gerakan politik nilai, membela dan mengawal revolusi demokrasi dengan memperjuangkan agenda reformasi total yang mereka cita-citakan bahu membahu. Kini, kita semua menyaksikan sinergi gagasan dan kekuatan gerakan mahasiswa "bersatu" memperjuangkan agenda reformasi total atau enam visi reformasi ditambah dengan agenda menurunkan Abdurrahman Wahid, menolak kenaikan harga BBM dan sembako dan menjadikan KKN orde baru -partai Golkar sebagai musuh bersama (Common Enemy).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Disarikan dari berbagai sumber&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Blog ini dikerjakan oleh Anick HT, arek Ciputat yang melanglang buana di dunia maya.&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25280484-114450222466456417?l=gerakanmahasiswa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/feeds/114450222466456417/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25280484&amp;postID=114450222466456417&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/114450222466456417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/114450222466456417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/2006/04/analisis-singkat-sejarah-gerakan.html' title='Analisis singkat sejarah gerakan mahasiswa Indonesia 1966-2001'/><author><name>admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25280484.post-114450158377861428</id><published>2006-04-08T06:04:00.000-07:00</published><updated>2006-04-08T06:06:23.793-07:00</updated><title type='text'>Kekerasan dalam Gerakan Mahasiswa: Demonstran/Pemberang?</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.bubu.com/kampus/maret99/fokus3.htm"&gt;http://www.bubu.com/kampus/maret99/fokus3.htm&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak kritik, gerakan mahasiswa belakangan ini dianggap tak lagi murni, dan sudah mulai memaksakan kehendak. Terutama karena merekapun mulai mempraktikkan kekerasan sebagai reaksi balik atas sikap represif aparat keamanan yang diterimanya. Kok bisa ya? Bukankah dulunya mereka semua adalah "anak-anak manis" yang berhasil didepolitisir oleh Orde Baru?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak pemberitaan pers, berbagai kesempatan perbincangan, atau sekedar nguping pembicaraan orang di bus, halte, atau mana saja, kemarin-kemarin ini memang sempat menguat kecemasan bercampur kecewa orang kebanyakan soal aksi-aksi mahasiswa belakangan ini. Keluhan mereka rata-rata sama: demonstrasi mahasiswa = macet di mana-mana, lalu soal turut beringasnya aksi-aksi mahasiswa dalam menyikapi perilaku represif aparat keamanan. Bahkan keluhan-keluhan ini kemudian bisa berkembang lebih parah lagi dan bermetamorfosis menjadi kecurigaan atas kemurnian motif dari setiap aksi mahasiswa, yang memang lebih banyak digelar dengan memenuhi-sesaki jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk keluhan yang pertama –tanpa berpretensi mewakili suara seluruh kawan-kawan mahasiswa yang menggantungkan kerinduannya di jalan raya— harap dimaafkan. (Barangkali –mirip yang dilakukan para pekerja galian telepon atau ledeng— besok-besok setiap kali diadakan demonstrasi, mahasiswa harus memasang plang: "Maaf perjalanan anda terganggu. Anda harap mengambil jalan lain. Indonesia masih dalam perbaikan") Menduduki jalan raya dengan massa dalam jumlah besar memang sejak lama lazim dipakai untuk memperagakan protes kepada para penguasa yang tuli hatinya, beku nuraninya, dan membenci perubahan. Tujuannya jelas, sekali lagi peragaan. Unjuk rasa –bukan pertama-tama unjuk kekuataan— bahwa ada suara-suara ketidakpuasan yang gagal diserap oleh dinding-dinding gedung parlemen dan para penghuninya. Soal efektivitas cara ini, semua orang boleh berargumen dengan bukti masing-masing. Tapi cara ini memang sudah terlanjur menjadi tradisi. Karenanya, barangkali memang perlu ada proses pencanggihan metode aksi di masa mendatang, tentunya dengan tidak mengabaikan urgensi untuk mengakomodasi berbagai dukungan dan kritik dari masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, masih ada banyak cara menyatakan protes. Sebagai contoh, dalam bukunya The Politics of Nonviolent Action (1980), Gene Sharp mencatat ada sekitar 198 metode aksi nirkekerasan yang berhasil dihimpun dari sejarah gerakan politik dari berbagai belahan dunia. Itu yang tertulis, masih banyak metode yang tidak tertulis melekat dalam budaya masyarakat yang belum ditemukan. Juga, dari ke-198 aksi itu kemungkinan bisa berkembang lebih banyak tergantung kreativitas manusia dalam mengembangkannya sesuai dengan rezim politik yang dihadapinya. Dengan bukunya itu, Sharp -- yang pernah dijuluki sebagai ''Machiavelli nirkekerasan'' itu -- menolak anggapan umum bahwa metode nirkekerasan Gandhi tidak taktis untuk gerakan perubahan praktis untuk gerakan perubahan politik. Sebaliknya, kajian historisnya menunjukkan bahwa umat manusia dengan cara mereka masing-masing telah melakukan aksi nirkekerasan ketika ditindas oleh rezim berkuasa. Memang ada sebagian yang gagal mencapai perubahan politik cepat, tetapi sebagian besar berhasil mengesankan.&lt;br /&gt;Dari sekian banyak macam metode aksi itu, Sharp membaginya ke dalam tiga bagian besar menurut derajat intensitasnya: (1) protes, demonstrasi, dan persuasi; (2) nonkooperasi ekonomi, sosial, politik; dan (3) intervensi tanpa kekerasan. Ketika dengan protes, demonstrasi, dan persuasi, sudah berhasil, metode nonkooperasi tidak dipergunakan. Metode intervensi dipakai hanya sebagai senjata pamungkas, ketika protes, persuasi, nonkooperasi, tidak berhasil.&lt;br /&gt;Metode pertama adalah penyampaian tuntutan dengan jalan komunikasi publik, agar penguasa menanggapinya. Komunikasi tidak terbatas verbal, tetapi juga simbolik dan interaktif. Terdapat sekitar 54 metode termasuk di sini, di antaranya pernyataan publik, deklarasi, petisi, slogan, karikatur, poster, leflet, lobi, simbol pakaian, warna bendera, gambar seseorang sebagai protes, doa protes, drama, musik, parade, upacara kematian korban represi, pengiriman deputi perwakilan, duduk di jalan, walk-out, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode nonkooperasi adalah aksi nirkekerasan dengan cara tidak mau kerjasama dengan rezim atau memutus hubungan dengan rezim sehingga kepentingan rezim terganggu. Sekitar 103 macam metode termasuk di sini. Di antaranya, boikot, penundaan dukungan, mogok, keluar dari lembaga tertentu, tinggal di rumah saja, pergi hijrah, boikot ekonomi, embargo, sanksi ekonomi, menolak mendukung, menolak membantu, memblok komando dan informasi, menolak rapat, menolak dialog, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode intervensi diambil ketika kedua metode di atas tidak berjalan. Ia sebagai cara terakhir karena di dalamnya memiliki risiko tinggi. Metode ini adalah menekan secara psikologis dan fisik tanpa kekerasan kepada pihak lawan atau penguasa. Terdapat sekitar 41 macam aksi masuk di sini. Di antaranya ialah puasa, mempuasai hari-hari jatuhnya korban, mogok makan, menduduki tempat strategis, membuat alternatif organisasi massa, blokade tempat simbol penindasan, membuka kedok agen rahasia, membebaskan tahanan politik, memutus hubungan penguasa dengan pendukungnya, memojokkan posisi penguasa dari pergaulan internasional, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar aksi di atas telah dipraktikkan mahasiswa dalam banyak aksinya sepanjang tahun 1998 dengan hasil yang cukup gemilang. Prinsip dari semua aksi itu adalah nirkekerasan. Aksi demikian bisa berhasil efektif tanpa pengorbanan massa yang besar. Namun, aksi demikian akan efektif bila dilakukan secara konsisten, keberhasilan yang satu mendukung lainnya. Aksi nirkekerasan secara konsisten dapat meruntuhkan struktur bangunan kekuasaan, karena kekuasaan pada dasarnya bersandar pada hubungan kooperatif antara penguasa dan yang dikuasai, yaitu rakyat. Bila hubungan itu goyah dan retak, maka penguasa akan kehilangan pijakan. Semua jenis aksi di atas sedikit banyak menggoyahkan hubungan penguasa dan rakyatnya. Penguasa yang cerdas biasanya sangat tahu bahaya ini. Mereka akan segera merespons munculnya aksi dengan segera, bahkan sejak metode pertama muncul, kalau tidak ingin kehilangan basis kekuasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara untuk keluhan yang kedua, jawabannya ternyata lebih sulit, dan sepertinya memang tidak cukup dengan sebuah permintaan maaf atau permakluman. Kalau dikatakan mahasiswa tidak mengerti politik tanpa kekerasan, itu tidak benar. Sebagian besar, kalau tidak dikatakan semua, protes mahasiswa selama ini sebenarnya demonstrasi tanpa kekerasan. Mahasiswa baru mengambil cara kekerasan, itu pun sangat minim seperti melempar dengan batu, sebatas untuk melindungi diri dari aparat yang brutal. Juga, demonstrasi mahasiswa selama Reformasi Damai antara Februari-Mei 1998 lalu yang berhasil menurunkan Soeharto hampir semua bersifat damai, tanpa kekerasan. Mengapa mahasiswa di Jakarta akhir-akhir ini tiba-tiba mengambil cara kekerasan? Melihat tindakan mahasiswa yang bersifat menyerang (offensive), mahasiswa kelihatan telah kehilangan daya kreasi dan terperangkap dalam cara kekerasan. Kawab-kawan mahasiswa sepertinya telah memasuki wilayah kekerasan. Mahasiswa telah menuntut perubahan politik dengan pemaksaan kehendak dengan kekuatan fisik (coercion by force) yang bisa mengerasi, melukai, bahkan menelan korban nyawa, mungkin nyawa mahasiswa sendiri, nyawa aparat, atau pihak lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah suara kritik bahkan sudah mencemaskannya begitu jauh hingga ada yang sampai membayangkan bisa jadi saja nanti akan berkembang faksi-faksi garis keras dari kalangan mahasiswa yang berkembang mirip Brigade Merah di Italia, Tentara Merah di Jepang, atau kelompok-kelompok teroris ternama lainnya yang memang banyak beranggotakan para mantan aktivis mahasiswa yang sudah terlanjut frustasi dan memilih kekerasan dan terorisme sebagai sarana perjuangannya. Kalau sekarang baru pentung versus pentungan, gas air mata dan pelor versus lemparan batu ala intifadah, jangan-jangan di kemudian hari berkembang menjadi bom bunuh diri, atau modus-modus lain yang tak kalah menyeramkan. Wow!&lt;br /&gt;Kalau mau disebut frustasi –sama seperti motivasi yang melatarbelakangi para anggota kelompok-kelompok penebar teror yang telah disebut di atas— barangkali memang ada sebagian kawan mahasiswa yang mengalaminya, tentunya dalam kadar dan tingkatan yang berbeda. Radikalisasi di mana-mana memang muncul dan berakar kuat dari menguatnya ketidakpuasan. Namun hal ini tidak bisa menjelaskan radikalisasi tiban –menjadi radikal dalam sekonyong-konyong— yang terjadi pada sekelompok besar mahasiswa Jakarta? Bukankah mereka terhitung "lebih miskin" tradisi aksi ketimbang banyak rekan mahasiswa di kota-kota "biang demo" seperti Bandung, Yogya, Semarang, Malang, Makassar, dan lain-lainnya?&lt;br /&gt;Sejumlah analisis barangkali bisa kita pinjam untuk menjelasnya. Tapi sebagian besar bersepakat bahwa ada ketidakpuasan yang akumulatif, terus bertimbun. Kemarahan dan kekecewaan yang menggunung seperti itu memang selalu menjadi "lahan persemaian" yang subur bagi pemikiran-pemikiran radikal. Nah, hal itu makin kondusif karena "diberi pupuk", ada situasi yang secara obyektif mendukungnya, yakni berlarut-larutnya krisis ekonomi yang membuahkan kehancuran kredibilitas pemerintah di hadapan rakyatnya. Hasilnya, muncul sebuah kesadaran baru yang fenomenal, sebuah kesadaran to do something. Nah, begitu kesadaran ini hampir mematang, secara terus menerus dibenturkan oleh kenyataan empirik bahwa suatu perubahan senantiasa bukanlah sebuah proses tawar menawar yang berjalan mulus. Ada konflik keras di sana, ada korban yang jatuh karenanya. Di saat seperti itu, kekesalan yang memuncak akibat terlalu gemas menyaksikan perubahan yang diharapkannya tak kunjung terjadi, rasa frustasi mulai muncul. Cara-cara lama menegoisasikan kehendak pun mulai dikaji ulang. Sebagian mereka yang belum sampai pada kepenuhan pemahaman bahwa perjuangannya itu adalah sebuah "pekerjaan jangka panjang", tidak segan-segan memangkas akal sehatnya. Tanpa pikir panjang, mereka merasa perlu mengelaborasi lebih lanjut prinsip-prinsip nirkekerasan –tanpa menutup sikap pembelaan diri tentunya—dengan mencari jalan lain yang bisa lebih efektif, sekalipun sedikit banyak hal itu mengandung prinsip kekerasan yang dikecamnya sendiri. Situasi ini diperparah oleh belum terkonsolidasinya secara baik kesadaran massa. Sehingga setiap aksi yang dilakukan selalu beresiko bakal dimuati oleh banyak "turis-turis politik", sejumlah mahasiswa yang ikut aksi tanpa didukung oleh kematangan refleksi atas aksinya dan hanya mengalaminya sebagai sebuah petualangan yang memacu adrenalinnya –sebuah kebutuhan eksistensial yang memang melekat dengan karakter kemudaannya.&lt;br /&gt;Penjelasan di atas dapat dengan mudah memperoleh pembenaran, cukup dengan mencermati betapa cairnya ikatan politis –apalagi ideologis— massa yang selama digelar. Harap maklum, setelah sekian lama didepolitisasi, sebagian besar kawan terlanjur menjadi mahasiswa yang mahal dan manja. Kehadiran sebagian mereka sebagai "penggembira" dalam setiap aksi sesungguhnya berbahaya –meskipun kuantitas mereka sangat signifikan untuk "menggentarkan" lawan. Dengan kesadaran politik yang masih sungguh cair, dan masih berkutat sebatas slogan, sulit bagi mereka untuk bisa menempatkan dirinya sebagai massa aksi.&lt;br /&gt;Pantas dipertanyakan bila sebagian aktivis menilai bahwa dialektika pemikiran tentang paradigma gerakan telah selesai, seolah-olah telah terbangun sebuah ideologi gerakan yang terlalu suci untuk selalu direevaluasi. Kita bisa bersepakat pada perubahan politik sebagai muara dari pergerakan ini, tapi visi mereka yang menempatkan mobilisasi untuk melakukan perlawanan terbuka dan frontal justru akan berhadapan dengan tembok yang terlalu keras untuk bisa ditembus saat sebagian besar anggota masyarakat dan kelompok-kelompok strategis lainnya belum siap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini jelas bukan penghakiman. Siapapun boleh saja setuju, atau berseberangan dengan analisis ini. Pahamilah, deras bergulirnya dinamika gerakan mahasiswa selalu membuka kemungkinan terjadinya perubahan-perubahan internal, ataupun pergeseran visi dalam memahami gerakan kita ini. Satu-satunya yang tak bakal berubah adalah kesepakatan kita bersama: kita akan terus bergerak sampai perubahan yang kita rindukan bakal terjelang. Setiap penindasan senantiasa akan mendatangkan perlawanan. Sepakat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Andreas Ambar Purwanto&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Blog ini dikerjakan oleh Anick HT, arek Ciputat yang melanglang buana di dunia maya.&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25280484-114450158377861428?l=gerakanmahasiswa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/feeds/114450158377861428/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25280484&amp;postID=114450158377861428&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/114450158377861428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/114450158377861428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/2006/04/kekerasan-dalam-gerakan-mahasiswa.html' title='Kekerasan dalam Gerakan Mahasiswa: Demonstran/Pemberang?'/><author><name>admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25280484.post-114440715633334410</id><published>2006-04-07T03:49:00.000-07:00</published><updated>2006-04-08T06:08:01.876-07:00</updated><title type='text'>Teologi Pembebasan dan Gerakan Mahasiswa</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.geocities.com/frontnasional/"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;www.geocities.com/frontnasional/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;teologi_pembebasan_dan_gerakan_m.htm&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Herwindo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan mahasiswa pada era rezim diktator Soeharto hingga saat ini, tidak sedikit pula yang memberikan label bahwa gerakan liberal mulai mengembang. Stigmatisasi kaum radikal mulai menjamur pada kalangan bawah (masyarakat biasa) dan menebarkan wahyu pemberontakan, juga hal yang sempat menjadi mitos terbesar dalam setiap gerakan mahasiswa. Namun tidak kalah banyaknya opini, bahwa mahasiswa Indonesia yang radikal dan progressiv dari berbagai lingkungan sosial serta lintas kultur mulai memainkan perannya, fungsi sosialnya melalui gerakan-gerakan pembebasan.&lt;br /&gt;Linkungan sosial di Indonesia mayoritas bangsa Indonesia yang religiusitasnya tinggi, menjadikan gerakan mahasiswa dengan misi pembebasannya dari penindasan totaliter Soeharto mendapatkan stereotip positif. Khususnya bagi umat Islam. Terideologisasi oleh teologi pembebasan. Tetapi di sini tidak berupaya untuk meng-klaim, bahwa gerakan penggusuran simbol orde baru (Soeharto) yang represif itu merupakan hasil kesadaran umat Islam yang menjadi mayoritas di Indonesia.&lt;br /&gt;Namun bila berbicara formasi sosial yang menindas dari rezim Soeharto, berekses lebih pada pemeluk Islam dan membentuk bola salju atas pegerakan pembebasan yang digulirkan oleh intelektual muda Indonesia merupakan bentuk geneologis dari violence yang dilakukan negara (state). Adanya sosial gap, kaya-miskin dan tumbuhnya konflik horisontal adalah, anak kandung dari kebijakan pemerintah maupun negara yang timpang. Tidak adanya pemerataan kesejahteraan sosial.&lt;br /&gt;Kemiskinan absolut yang bersumber pada minimnya pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan relatif yang merupakan akibat pertumbuhan ekonomi, menjadi abstraksi sosial yang nyata di Indonesia. Melalui “ideologi” pembangunan nasional, rezim Soeharto membangun kemiskinan dan krisis multi dimensional hingga sekarang. Kemiskinan adalah, sesuatu bisa (racun) disatu sisi dan memberi madu pada sisi lain.&lt;br /&gt;Monopoli, kolusi, korupsi dan nepotisme sedari sang diktator Soeharto sampai saat ini merupakan komoditas yang surplus. Relasinya dengan tekstual teologi pembebasan yang bersinggungan dengan wacana agama sangat jelas yaitu, pembebasan aspek atau dimensi sosial dari teologi pembebasan melarang keras adanya eksploitasi dan manipulasi diberbagai bidang, baik secara fisik maupun psikis oleh dan/atau siapapun.&lt;br /&gt;Bentangan relevansi dalam tulisan ini diberikan dapatlah disisipkan contoh seperti, dalam bidang ekonomi praktek riba dan monopoli yang mengedepankan nilai lebih dilarang keras (Qs. Al Baqarah 275-278). Segala bentuk zakat, infaq dan sedekah merupakan sugesti yang baik dan benar agar manusia tidak teralienasi atas dirinya dari lingkungan sekitarnya dan tidak mengadakan penimbunan harta yang mengakibatkan surplus yang pada akhirnya secara langsung mengeksploitasi manusia lainnya.&lt;br /&gt;Hal lainnya yang dapat dijadikan pijakan identifikasi nilai-nilai teologi pembebasan yaitu, manusia memiliki hak untuk hidup, manusia memiliki hak untuk bereproduksi, manusia memiliki hak untuk berpikir bebas dan manusia memiliki hak untuk mendapatkan keadilan. Empat pointer ini merupakan nilai-nilai teologi pembebasan dalam ajaran agama Islam yang mungkin juga merupakan ajaran agama-agama lain di dunia.&lt;br /&gt;Ada atau tidaknya korelasi antara pergerakan kaum intelektual muda atau mahasiswa dengan teologi pembebasan masih perlu dicari validitasnya dan kebenarannya. Namun jikalau berbicara humanitas, yang lekat juga dengan ajaran agama yang menjadi nilai-nilai teologi pembebasan dari pergerakan pembebasan untuk menciptakan perubahan sosial, yang dilancarkan mahasiswa bersama rakyat mungkin bukanlah hubungan yang insidental pula.&lt;br /&gt;Intinya perubahan harus tetap ada, apapun alasannya dan seperti apa perubahan yang menjadi kebutuhan mahasiswa ? Perubahan yang mendasar, Revolusi Sosial !!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Blog ini dikerjakan oleh Anick HT, arek Ciputat yang melanglang buana di dunia maya.&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25280484-114440715633334410?l=gerakanmahasiswa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/feeds/114440715633334410/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25280484&amp;postID=114440715633334410&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/114440715633334410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/114440715633334410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/2006/04/teologi-pembebasan-dan-gerakan.html' title='Teologi Pembebasan dan Gerakan Mahasiswa'/><author><name>admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25280484.post-114431001694182540</id><published>2006-04-06T00:47:00.000-07:00</published><updated>2006-04-06T00:53:44.463-07:00</updated><title type='text'>Buloggate II dan Progresivitas Gerakan Mahasiswa</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Kompas, Senin, 15 april 2002 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Ahmad Fuad Fanani&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Perkembangan kasus dana nonbudgeter Bulog, sampai saat ini masih terus menarik untuk dicermati. Terlebih lagi pascaperistiwa penangguhan penahanan Akbar Tandjung oleh PN Jakarta Pusat hari Jumat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Alasan dibebaskannya Akbar, menurut Humas PN Jakarta Pusat karena dia tidak lagi dikhawatirkan melarikan diri, menghilangkan bukti, ataupun mengulangi tindakan kejahatan lagi. Maka, keluarlah SK No 449.Pid.B/2002/PN Jak-Pus, yang menurut mereka berawal dari jaminan dari istri beliau. (&lt;i&gt;Kompas&lt;/i&gt;, 7/4/2002) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Seperti sudah banyak diduga, penangguhan penahanan tersebut pasti menimbulkan banyak pertanyaan dan kontroversi. Kontroversi itu paling tidak, bisa dilihat dari kenyataan tidak dibebaskannya tahanan lain pada kasus yang sama, yaitu Rahardi Ramelan, Wilfred Simatupang, dan Dadang Sukandar. Bahkan, yang lebih aneh lagi, Rahardi Ramelan justru diperpanjang masa penahanannya 60 hari, dengan dalih untuk mempermudah pengusutan dan penanganan kasus tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Sebetulnya, dari fakta yang ada, tampak dari awal bahwa penanganan kasus ini jauh berbeda dengan kasus terdahulu (Buloggate I). Bila dahulu proses perjalanannya di DPR tidak bertele-tele, maka sekarang tampaknya sedikit terulur-ulur, tidak ada kekompakan, dan terjadi perubahan keputusan politik tiap detik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Hal itu bisa terlihat tidak hanya di panggung politik saja, namun juga merambah pada penanganan hukum ataupun peliputan media yang tidak segegap-gempita masa lampau. Maksudnya, bila dahulu hampir semua media membangun wacana bahwa Gus Dur beserta kawan-kawannya harus diadili, maka yang tampak sekarang adalah seakan-akan terjadi politisasi pada kasus ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Meskipun publik akhirnya agak lega sedikit dengan ditahannya Akbar Tandjung pada 7 Maret 2002, tetapi itu tetap belum bisa memulihkan kepercayaan publik. (&lt;i&gt;Kompas&lt;/i&gt;, 8/3/ 2002). Karena, sebagian besar dari mereka menganggap bahwa penahanan itu tak lebih dari sebuah sandiwara murahan dan gampang basi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Apalagi, Akbar yang sudah jelas menjadi tersangka belum juga mau mundur dari jabatannya sebagai Ketua DPR. Jika ia tidak mau mundur dari Ketua Umum DPP Golkar, mungkin orang masih mau memaklumi, namun pada hal yang pertama tentu menimbulkan tanda tanya besar. Karena, persoalan moralitas politik dan keteladanan publik layak dipertimbangkan olehnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Fenomena gerakan mahasiswa &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Pemerintahan Indonesia yang sedang berjalan di era transisi, agar tidak menyimpang ke otoritarianisme kembali, haruslah bergerak secara progresif, dinamis, dan kalau perlu revolusioner. Maka, penanganan atas penyelewengan dana Bulog ini haruslah diusut secara tuntas dan maksimal. Dalam hal ini, gerakan mahasiswa banyak diharapkan geraknya untuk memberikan &lt;i&gt;pressure&lt;/i&gt; kepada pemerintah yang berjalan dengan lemah gemulai seperti saat sekarang. Namun, dalam menyikapi kasus Buloggate II, ironisnya gerakan mahasiswa mengidap penyakit yang tidak jauh berbeda dengan fenomena keadaan politik Indonesia di atas. Padahal, pada pemerintahan sebelumnya dan untuk kasus yang sama, gerakan mereka berjalan secara spektakuler, fenomenal, dan mengundang decak kagum sebagian rakyat Indonesia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Bila kita amati gerakan mahasiswa 2001, setidaknya akan kita jumpai tiga warna gerakan berdasarkan pemetaan isu yang diusung dan diperjuangkan. (Tabloid &lt;i&gt;Detak&lt;/i&gt;, Edisi Maret 2001) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Pertama, gerakan mahasiswa yang terkumpul dalam aliansi BEMI (Badan Eksekutif Mahasiswa Indonesia). Mereka terdiri dari PMII, Famred, Jarkot, Forkot, BEM PT Jawa Timur, serta sebagian gerakan kiri lainnya. Pada waktu itu, isu yang mereka perjuangkan adalah pembubaran Golkar, pengadilan Soeharto, dan desakan untuk percepatan pemilu. Dalam hal penurunan Gus Dur yang terlibat Buloggate I, mereka cenderung tidak larut serta bahkan terkesan membelanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Kedua, mahasiswa yang tergabung dalam BEMSI (Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia). Kelompok ini terdiri dari UI, ITB, Trisakti, UNJ, IPB, dan beberapa perguruan tinggi lainnya. Isu yang mereka usung dan perjuangkan adalah menuntut Gus Dur untuk turun, pembersihan KKN, pengadilan Soeharto, dan pelaksanaan enam agenda reformasi. Di antara beberapa elemen gerakan mahasiswa yang ada, merekalah yang paling gegap-gempita dan bersemangat untuk menurunkan Gus Dur. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Ketiga, kelompok yang tidak bergabung dengan mereka di atas dan berdiri membawa benderanya masing-masing. Mereka adalah KAMMI, HMI MPO, HMI DIPO, IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), Alfonso (Aliansi Lembaga Formal Seluruh Indonesia), Hammas, dan lain-lain. Kelompok ini menganggap bahwa Gus Dur hanyalah &lt;i&gt;entry point&lt;/i&gt; dari seluruh desakan untuk menegakkan &lt;i&gt;clean and good governance&lt;/i&gt;. Maka, yang lebih diperlukan adalah revolusi sistemik atas segala perangkat politik dan budaya Indonesia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Beberapa pengelompokan gerakan mahasiswa berdasarkan tipologi gerakan diusung, sampai sekarang masih bisa kita jumpai. Setidaknya sekarang ini ada kelompok mahasiswa kanan, kiri, dan tengah yang tampak muncul di permukaan. (Ahmad Fuad Fanani, &lt;i&gt;Republika&lt;/i&gt;, 16/3/2002). Namun, berbagai tipologi gerakan mahasiswa 2002 yang ada tersebut, dalam penyikapannya terhadap kasus Buloggate II, sangat jauh tertinggal dari gerakan mahasiswa 2001. Karena, sampai persidangan Akbar yang ketiga kalinya, hanya BEM UI yang bisa kita saksikan bersama-sama menuntut. Meskipun KAMMI melakukan demonstrasi juga, itu hanya terjadi di daerah-daerah. Malahan, sekarang ini KAMMI dan gerakan mahasiswa kanan lainnya seperti Hammas dan HMI MPO lebih menyukai dan merasa perlu untuk melakukan demonstrasi mengutuk penyerangan Israel atas Palestina. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Kemudian, gerakan mahasiswa yang sering diidentikkan radikal, revolusioner, dan garang dalam berunjuk rasa seperti PMII, Famred, Forkot, Jarkot, dan lain sebagainya juga terlihat diam dan tenteram melihat permainan politik dan hukum di balik kasus Buloggate II ini. Padahal, merekalah yang dahulu paling agresif mengutuk Orde Baru, menuntut pengadilan Soeharto, dan mendesak pembubaran Golkar. Namun, pada kasus yang merupakan momentum pembukaan kotak pandora atas tuntutannya di atas, mereka kurang terlihat pro-aktif untuk meresponsnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Lantas, ke mana pula perginya dan istirahatnya gerakan mahasiswa yang bertipologi tengah-tengah seperti IMM, HMI DIPO, PMKRI, GMNI, GMKI, dan sebagainya? Kenapa mereka belum melakukan demonstrasi mengutuk pembantaian negara Palestina dan tidak juga mendesak penuntasan kasus Buloggate II sebagai perwujudan visinya sebagai &lt;i&gt;agent of social change and moral control&lt;/i&gt;? Padahal, peran kesejarahan dan visi transformasi mahasiswa yang harum sepanjang sejarah dalam menegakkan keadilan dan demokratisasi, banyak ditunggu masyarakat banyak yang sudah jengah terimpit oleh krisis dan ketidakpastian politik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Tuntutan kesejarahan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Menurut M Hatta, pemuda yang di antaranya sebagian besar terdiri dari para mahasiswa adalah harapan bangsa dan pelopor dalam setiap perjuangan. Pernyataan itu bukanlah sekadar pujian atau isapan jempol belaka, tetapi sebuah fakta sejarah yang tidak bisa dimungkiri. Hal itu tampak terlihat pada gegap-gempita perjuangan para pemuda Indonesia yang berhimpun dalam Budi Oetomo pada 2 Mei 1908, para pemuda yang menggalang persatuan Indonesia lewat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, Hatta dan kawan-kawannya di Belanda yang menyosialisasikan negara Indonesia, serta perjuangan Soekarno beserta angkatannya lewat pendirian PNI di Bandung yang bergerak memperjuangkan nasionalisme dan menolak hegemoni Belanda. Begitu juga, ketika persiapan proklamasi kemerdekaan, para pemuda Indonesia yang dipandegani Sukarni adalah mereka yang meyakinkan Soekarno dan Hatta untuk segera melaksanakan proklamasi itu. (Ben Anderson,&lt;i&gt; Revoloesi Pemoeda&lt;/i&gt;, 1988) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Pernyataan Bung Hatta di atas relevan dengan keadaan sekarang, khususnya sebagai pemecut semangat kebangkitan dan progresivitas gerakan mahasiswa yang cenderung melemah. Karena, ketika partai politik sebagai organisasi politik resmi negara melemah fungsinya seperti saat ini, gerakan mahasiswalah yang dituntut untuk mengingatkan dan mendesak terus-menerus. Terlebih lagi partai politik Indonesia saat ini, tidak peka sama sekali terhadap isu-isu publik untuk pemberdayaan rakyat, pengentasan krisis, serta pencerdasan bangsa. Mereka lebih sibuk dengan isu-isu berdimensi aliran, uang, serta pembagian kekuasaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Oleh karena itu, tidak alasan lagi bagi gerakan mahasiswa untuk tidak bergerak dan menyatukan langkah dalam menegakkan kebebasan dan keadilan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Pada dasarnya, gerakan mahasiswa merupakan sebuah gerakan budaya, karena ia memiliki kemandirian dan berdampak politik yang sangat luas. Oleh karena itu, mereka tidaklah boleh cepat puas dengan hasil yang dicapai. Gerakan mereka juga harus senantiasa menegakkan asas kebenaran politik dan pengungkapan kebenaran publik sekaligus. Maka, budaya Indonesia yang cenderung cepat puas dengan keadaan dan tidak peduli dengan perkembangan karena sibuk sendirian, tidaklah patut menjadi paradigma gerakan mahasiswa. (Yozar Anwar, &lt;i&gt;Pergolakan Mahasiswa Abad ke-20&lt;/i&gt;, 1981) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Meskipun pemerintah, para politisi, anggota DPR, ataupun para eksekutif dan penguasa seperti tampak kita saksikan sehari-hari kurang berbudaya adiluhung, namun mahasiswa sebagai harapan bangsa terbesar tidaklah perlu terhinggapi virus tersebut. Terlebih lagi, budaya&lt;i&gt; patron-client,&lt;/i&gt; malu, sungkan dengan senior, dan bermuka dua (munafik) yang banyak menjangkiti politisi dan sebagian masyarakat itu, bukanlah contoh yang bagus bagi para aktivis gerakan mahasiswa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Agar gerakan mahasiswa menjadi progresif, dinamis, revolusioner, dan inklusif, menurut penulis, gerakan mahasiswa haruslah meniscayakan hal berikut ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Pertama, pro-aktif merespons keadaan dan teguh pendirian. Gerakan mahasiswa haruslah bersatu dalam visi penegakan keadilan dan penumpasan kemunafikan. Hal ini bisa dilakukan dengan saling memasok informasi untuk selanjutnya dilanjutkan pada penyusunan agenda aksi. Sedangkan teguh pendirian yang dimaksud di sini adalah gerakan mahasiswa haruslah bersifat independen dan tidak menjadi perpanjangan tangan para seniornya. Karena, hal ini biasanya hanya akan menimbulkan friksi di kalangan sendiri dan saling memperebutkan proyek demonstrasi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Kedua, melakukan dialog transformatif-meminjam istilah Jurgen Habermas-untuk menciptakan masyarakat komunikatif yang demokratis. Bila selama ini gerakan intelektual cenderung elitis dan menggunakan bahasa yang mengawang, maka gerakan mahasiswa yang juga gerakan intelektual plus, haruslah mencerdaskan, mencerahkan, dan memberdayakan masyarakat yang selama ini banyak ditindas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Ketiga, mendorong para aktivisnya untuk membentuk kapasitas intelektul yang memadai dan berjiwa intelektual organik-meminjam istilah Antonio Gramsci. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Hal ini berguna agar para aktivis gerakan tidak hanya sibuk di lapangan, kurang melakukan refleksi, dan cenderung bergerak secara pragmatis. Bila mereka mampu memiliki kapasitas intelektual yang tinggi, tentu saja akan berguna pada penyusunan strategi dan pengajuan alternatif konsep penyelesaian masalah yang dikritik secara lebih sistematis dan memadai. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Terakhir, ketidakpastian penanganan Buloggate II dan kelambanan pemerintah dalam melaksanakan agenda reformasi untuk menegakkan demokrasi adalah sebuah momentum yang baik untuk membangkitkan kembali progresivitas gerakan mahasiswa. Karena, kesempatan ini tidaklah bisa datang untuk kedua kali. Di samping, bila gerakan mahasiswa hanya diam dan tidak merespons secara kritis pada era kali ini, hal itu tentu saja mengkhianati kesadaran kesejarahan dan visitransformatif gerakan mahasiswa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Viva gerakan mahasiswa Indonesia, semoga sukses perjuangan kita! Wallahu A'lam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Ahmad Fuad Fanani &lt;i&gt;Redaktur Pelaksana Jurnal Progresif DPP IMM, Mahasiswa Fakultas Ushuluddin IAIN Jakarta&lt;/i&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Blog ini dikerjakan oleh Anick HT, arek Ciputat yang melanglang buana di dunia maya.&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25280484-114431001694182540?l=gerakanmahasiswa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/feeds/114431001694182540/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25280484&amp;postID=114431001694182540&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/114431001694182540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/114431001694182540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/2006/04/buloggate-ii-dan-progresivitas-gerakan.html' title='Buloggate II dan Progresivitas Gerakan Mahasiswa'/><author><name>admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25280484.post-114421401714235364</id><published>2006-04-04T22:12:00.000-07:00</published><updated>2006-04-04T22:13:37.303-07:00</updated><title type='text'>Gerakan Mahasiswa Tak Seperti Dulu</title><content type='html'>Kompas, 29 Janunari 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKSI-aksi mahasiswa yang belum lama surut dalam beberapa hari terakhir muncul kembali. Akumulasi mahasiswa yang terlibat dalam aksi turun ke jalan terus bertambah, tidak hanya di Jakarta tetapi juga di sejumlah kota besar lainnya. Gelombang mahasiswa yang bergerak menuju Gedung MPR/ DPR Senayan makin membesar dan diperkirakan akan terus memuncak dalam minggu ini. Mahasiswa dengan warna-warni jaket dan polah-tingkahnya kembali tampil di layar televisi, surat kabar, dan majalah-majalah. Akankah peristiwa dramatik yang masih sangat segar dalam ingatan kita, ketika mahasiswa berbondong-bondong menguasai gedung para wakil rakyat yang berakhir dengan tersingkirnya seorang presiden dari kekuasaannya, berulang kembali?GERAKAN mahasiswa tahun 2001 tidak sama sebangun dengan gerakan yang muncul di tahun 1998. Pada awal tahun 1998 belum ada tanda-tanda yang cukup berarti yang bisa ditangkap bahwa mahasiswa akan bergerak dalam jumlah yang masif dan cukup kuat untuk menantang penguasa otoriter Orde Baru yang telah bercokol selama 32 tahun. Ketika Soeharto dikukuhkan kembali oleh MPR yang dipimpin mantan Menteri Penerangan Harmoko untuk ketujuh kalinya sebagai Presiden Republik Indonesia, baru sejumlah kecil mahasiswa yang mulai resah dan melakukan konsolidasi. Namun, sekonyong-konyong gerakan itu muncul bagaikan bola salju, makin membesar dan makin cepat bergulir.&lt;br /&gt;Diawali dengan bentrokan dengan aparat kepolisian dan militer yang masih represif pada 2 Mei 1998, gerakan itu dengan cepat menular ke semua kampus. Penembakan terhadap empat mahasiswa Trisakti 13 Mei 1998, yang hingga kini belum tuntas diungkap, semakin mengobarkan semangat perlawanan mahasiswa. Puluhan ribu mahasiswa pada 18 Mei menyerbu Senayan dan gelombang itu makin membesar hingga Soeharto terpaksa meletakkan jabatan kepresidenannya.&lt;br /&gt;Aksi-aksi mahasiswa terus berlanjut hingga terpilih duet Presiden Abdurrahman Wahid-Megawati Soekarnoputri melalui pemilihan umum yang dinilai cukup demokratis. Setelah itu gerakan mahasiswa tinggal riak-riak kecil yang tidak jelas lagi target dan tidak didukung oleh visi yang luas. Namun, dalam beberapa hari terakhir gelombang aksi mahasiswa marak kembali.&lt;br /&gt;Berbeda dengan gerakan mahasiswa tahun 1998 yang lebih didominasi oleh gerakan di luar kampus, aksi-aksi mahasiswa saat ini diawali dengan keterlibatan para aktivis organisasi formal kampus, baik yang tergabung dalam senat mahasiswa, badan eksekutif mahasiswa, maupun keluarga mahasiswa. Mereka adalah para aktivis yang umumnya berafiliasi dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) atau Jaringan Mahasiswa Indonesia (JMI) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).&lt;br /&gt;Keterkaitan itu dapat dengan mudah ditangkap dengan mendengarkan yel-yel dan lagu-lagu yang dinyanyikan ketika aksi maupun dari ukuran yang dipergunakan, yakni enam visi reformasi. Enam visi reformasi yang dimaksud adalah pencabutan Dwifungsi TNI/Polri, amandemen UUD 1945, otonomi daerah, supremasi hukum, pembudayaan demokrasi, serta pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme yang dilakukan Soeharto dan kroni-kroninya.&lt;br /&gt;Sejak 15 Januari 2001, para aktivis lembaga formal kemahasiswaan ini bergerak dengan atribut-atribut kampusnya menyerukan dukungan terhadap Pansus Buloggate dan Bruneigate serta mengingatkan kembali enam agenda reformasi yang mereka perjuangkan. Para aktivis itu menolak dikategorikan dalam kelompok massa anti-Presiden Abdurrahman Wahid, meski dalam orasi mereka sangat kritis dan memberi nilai negatif kepada Abdurrahman Wahid. Bahkan dalam orasi maupun yel-yel mereka sering telontar tuntutan agar Abdurrahman Wahid mengundurkan diri.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;KESATUAN-kesatuan aksi yang tidak berbasis agama, seperti Forum Kota, Jaringan Kota, Gerakan Mahasiswa dan Pemuda untuk Reformasi (Gempur), Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Front Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi (Famred), Jaringan Kota, dan berbagai kesatuan aksi lainnya yang muncul setelah Soeharto tumbang belum memberikan sumbangan signifikan dalam gelombang aksi mahasiswa hari-hari ini. Mereka tengah berkonsolidasi untuk menyuarakan kembali tuntutan penghancuran Orde Baru, pengadilan Soeharto dan kroninya dalam mahkamah rakyat, dan pembubaran Partai Golkar. Dalam gelombang aksi yang berlangsung hingga akhir pekan lalu, baru sejumlah kecil mahasiswa yang turun ke jalan, sebagian lagi masih bersikap menunggu.&lt;br /&gt;Akan tetapi, Jumat 26 Januari, di tengah gelombang mahasiswa dan massa anti-Abdurrahman Wahid, muncul sebuah kesatuan aksi baru yang menamakan diri Komite Mahasiswa Indonesia (KOMI). Tidak berbeda dengan para aktivis organisasi formal mahasiswa yang dapat diidentifikasi dengan mudah dari kelompok mana, asal-usul mereka dapat ditebak dengan mudah dengan mendengarkan jargon-jargon, yel-yel, dan lagu-lagu yang dinyanyikan. Tokoh-tokoh gerakan yang ada dalam KOMI merupakan para pemain lama yang dulu bergabung dalam Forum Kota, Famred, dan lain-lain. Namun, sebagian besar yang terlibat dalam KOMI memiliki keterkaitan dengan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang memiliki hubungan erat dengan Nahdlatul Ulama (NU).&lt;br /&gt;Arif, aktivis KOMI, mengatakan bahwa kekisruhan politik yang terjadi selama ini dibuat oleh Orde Baru baik melalui teror bom, disintegrasi, maupun gerakan-gerakan politik lainnya. Orde Baru ingin agar kekuasaan kembali ke tangannya. Menurut Arif, mahasiswa yang terlibat dalam gerakan anti-Abdurrahman Wahid ada kaitannya dengan pudarnya organisasi kemahasiswaan berbasiskan agama dalam memonopoli sumber-sumber dana dari Bulog, Pertamina, dan badan-badan usaha milik negara lainnya. "Mereka lebih berorientasi pada kekuasaan," kata Arif yang juga ketua PMII Jakarta Timur itu.&lt;br /&gt;Kaum "veteran" gerakan mahasiswa tahun 1998 masih sangat menentukan dalam aksi-aksi mahasiswa tersebut. Ada di antara mereka yang terlibat langsung dalam aksi namun ada juga yang sekadar menempatkan diri sebagai pengatur strategi dan sumber referensi. Sebagian besar di antaranya adalah tokoh-tokoh mahasiswa yang kelulusannya tertunda-tunda dan kuliahnya terkatung-katung atau mereka yang telah lulus tetapi tidak kunjung memperoleh pekerjaan.&lt;br /&gt;"Gus Dur tidak bisa menjamin kehidupan saya. Sampai sekarang saya belum juga dapat pekerjaan," ujar seorang lulusan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat, yang ditemui saat berbincang-bincang dengan sejumlah aktivis mahasiswa yang akan menggelar aksi mendukung Pansus Buloggate dan Bruneigate.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;KEKUATAN gerakan mahasiswa yang bergerak saat ini tidak banyak berbeda dengan polarisasi yang terjadi yang terjadi di tingkat elite politik. Mereka terpecah dalam kelompok anti-Abdurrahman Wahid, pendukung Abdurrahman Wahid, dan kelompok di tengah yang masih ragu-ragu. Kehadiran mereka dimeriahkan dengan sejumlah massa demonstran bayaran dan massa yang digerakkan oleh partai politik, yang mungkin akan terus bertambah dalam pekan ini. Kemurnian gerakan mahasiswa sebagai gerakan moral makin diragukan. Mereka tidak banyak berbeda dengan massa rakyat yang mudah diombang-ambingkan oleh kepentingan elite politik yang mengutamakan kekuasan. Dalam keadaan seperti itu tidak mudah gerakan mahasiswa tahun 2001 dapat merebut hati rakyat pada umumnya. Peran sebagai gerakan moral jangan-jangan direduksi menjadi sekadar kerumunan massa pengikut.&lt;br /&gt;Dulu gerakan mahasiswa yang terserpih-serpih, tanpa pemimpin, menjadi sebuah mozaik yang membentuk kesatuan gerakan untuk meruntuhkan sebuah rezim yang lalim. Serpihan-serpihan itu kini tidak membentuk sebuah mozaik yang membuat orang kagum tetapi menjadi bagian dari sebuah kekuatan dan masyarakat yang terbelah.&lt;br /&gt;Agus Haryadi, mantan aktivis Forum Salemba, mencoba menjelaskan mengapa gerakan mahasiswa yang ada sekarang tidak satu seperti dulu. Gerakan Mei 1998, kata Agus, memiliki musuh yang jelas, yakni Soeharto. Apa yang terjadi sekarang tidak berbeda dengan gerakan tersebut. "Sama seperti dulu, semula banyak mahasiswa yang takut dan ragu-ragu. Sekarang ini kita tengah menuju kristalisasi pendapat di kalangan mahasiswa. Ketika angin berembus cukup kuat, saya yakin mereka juga akan ikut," kata Agus yang masih menjalin hubungan dekat dengan para aktivis organisasi formal kemahasiswaan.&lt;br /&gt;Fanni, aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung, mengemukakan, gerakan mahasiswa saat ini memang agak berbeda dengan gerakan tahun 1998. Pada tahun 1998 ada musuh bersama yang sama. Namun saat ini yang dipermasalahkan adalah tata nilainya. Namun, Fanni mengelak bahwa gerakan para aktivis organisasi formal kemahasiswaan yang ada saat ini terkait dengan KAMMI atau HMI. "Kami berjalan sendiri, kami punya visi sendiri, yang menjadi ukuran kami adalah enam visi reformasi. Ketika agenda itu tidak dijalankan, apakah oleh Presiden atau MPR, kami akan terus bergerak," ujarnya.&lt;br /&gt;Masinton, aktivis Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI), menuduh para aktivis organisasi formal kemahasiswaan telah menjadi partisan politik. Mobilisasi massa mahasiswa dengan isu Buloggate dan Bruneigate, menurut dia, patut dipertanyakan. Alasannya, kalau mau jujur DPR mestinya juga menuntaskan kasus penyelewengan dana bantuan likuiditas Bank Indonesia (BLBI) senilai ratusan trilyun rupiah, bukannya terpaku pada penyimpangan dana Yanatera Bulog. "Mahasiswa sekarang memang sudah jadi partisan politik. Mereka itulah dulu para pendukung kekuasaan BJ Habibie," kata Masinton.&lt;br /&gt;Namun, menurut Agus Haryadi, tuduhan itu tidak beralasan karena aktivis organisasi formal kemahasiswaan yang tergabung dalam Forum Salemba maupun badan-badan eksekutif mahasiswa bersikap kritis terhadap pemerintahan Habibie dan memperjuangkan terselenggaranya pemilu yang jujur dan adil. Itu justru tidak dilakukan oleh Forkot dan lain-lainnya yang justru menyuarakan penolakan terhadap pemilu.&lt;br /&gt;Fadjroel Rachman, anggota Presidium Forum Pascasarjana UI, berpendapat bahwa mayoritas mahasiswa yang menyuarakan pembubaran Orde Baru dan Golkar bukan berarti mereka pendukung Abdurrahman Wahid. Mahasiswa, kata Fadjroel, mengetahui bahwa dalang konflik elite politik saat ini adalah Golkar. Golkar memanfaatkan konflik politik untuk melindungi diri dari upaya-upaya semua elemen yang ingin menjalankan reformasi dan demokrasi.&lt;br /&gt;"Bila Gus Dur terbukti secara hukum terlibat, mahasiswa tentu akan menuntut ia mundur. Namun bila tidak, seruan mahasiswa terhadap pembubaran Golkar akan makin gencar," kata Fadjroel.&lt;br /&gt;Akan tetapi, Aznil, mahasiswa Universitas Mercu Buana yang pernah dihajar aparat saat bersama delapan kawannya hendak menerobos Istana semasa kekuasaan Habibie, menyatakan bahwa gerakan mahasiswa saat ini telah cacat. Mahasiswa terjebak dalam blok-blok politik, baik yang anti-Abdurrahman Wahid dengan dibungkus isu dukungan terhadap Pansus Buloggate dan Bruneigate ataukah para pendukung Abdurrahman Wahid. Mestinya gerakan mahasiswa sebagai gerakan moral berpihak pada rakyat, independen, dan tidak ikut dalam blok-blok politik.&lt;br /&gt;"Saya kira rakyat sudah muak dengan gerakan mahasiswa. Perjuangan mahasiswa selama ini hanya dimanfaatkan untuk kepentingan elite. Mereka lupa bahwa demokrasi ini dibangun di atas darah, keringat, dan nyawa teman-teman," kata Aznil. (wis/win)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Blog ini dikerjakan oleh Anick HT, arek Ciputat yang melanglang buana di dunia maya.&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25280484-114421401714235364?l=gerakanmahasiswa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/feeds/114421401714235364/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25280484&amp;postID=114421401714235364&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/114421401714235364'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/114421401714235364'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/2006/04/gerakan-mahasiswa-tak-seperti-dulu.html' title='Gerakan Mahasiswa Tak Seperti Dulu'/><author><name>admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25280484.post-114413601491601209</id><published>2006-04-04T00:32:00.000-07:00</published><updated>2006-04-04T00:33:35.346-07:00</updated><title type='text'>DARI JALANAN KE LSM: Kiprah Gerakan Mahasiswa dalam Pemilihan Umum</title><content type='html'>http://www.transparansi.or.id/majalah/edisi5/5profil_1.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika gerakan mahasiswa masih asyik masyuk dengan aksi-aksi turun ke jalan, sejumlah pengamat politik khawatir para calon pemimpin bangsa ini lalai merumuskan agenda reformasi lebih lanjut, sehingga kesalahan sejarah, saat mahasiswa sukses menumbangkan Orde Lama, tapi gagal menyusun platform Orde Baru, akan terulang. Namun, tampaknya selama bulan Ramadhan lalu, banyak para aktifis mahasiswa yang mengkaji ulang arah gerakan mereka, dan kini tampil lebih dewasa dengan menempatkan diri sebagai mitra tanding pelaksanaan pemilihan umum bulan Juni 1999. Salah satunya adalah University Network for Free and Fair Election (UNFREL). &lt;br /&gt;Resmi diumumkan pada tanggal 5 Desember 1998, University Network for Free and Fair Election atau dikenal juga sebagai Jaringan Perguruan Tinggi Pemantau Pemilu merupakan wujud kerjasama dari ---pada awalnya--- 14 perguruan tinggi di seluruh Indonesia untuk terlibat aktif dalam pemilihan umum bulan Juni mendatang. &lt;br /&gt;Gagasan untuk aktif memantau pelaksanaan pemilu dan mendidik masyarakat tentang hak-hak mereka dalam pemilu muncul beberapa bulan sebelumnya, dengan berkaca pada pengalaman mahasiswa di negara-negara tetangga, seperti Muangthai dan Filipina. "Ide pembentukan Jaringan Universitas Pemantau Pemilu ini sebenarnya sudah lama sekali dicetuskan sebelum Presiden menawarkan kepada mahasiswa," kata Rama Pratama, mantan Ketua Senat Mahasiswa UI yang merupakan salah satu penggagas, "Pembentukan JUPP yang nantinya diwujudkan dalam kerja-kerja konkret ini merupakan semangat mendukung reformasi, khususnya yang berhubungan dengan pelaksanaan pemilu."&lt;br /&gt;Motor penggerak UNFREL lainnya, yaitu pengacara Todung Mulya Lubis, SH menekankan bahwa dasar berdirinya JUPP antara lain memperjuangkan keinginan rakyat agar pemilihan umum berlangsung langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil sehingga terwujud pemerintahan yang demokrasi. Mulya Lubis khawatir, tanpa pengawasan yang ketat, keinginan masyarakat ini tidak akan tercapai. 'Dengan mesin birokrasi kementerian dalam negeri dari pusat sampai ke kelurahan, maka amat banyak peluang terbuka bagi penyalahgunaan kekuasaan dan keberpihakan,'' kata mantan pengacara LBH Jakarta ini, sebagaimana dikutip harian Republika edisi 5 Desember 1998.&lt;br /&gt;Sementara ahli sosiologi Dr. Riga Adiwoso Suprapto, dalam tulisannya dalam Pertemuan Nasional Pembentukan Jaringan Universitas Pemantau Pemilu 1999, menegaskan kewajiban moral sivitas akademika untuk menyukseskan pemilu. "Kekuatan perguruan tinggi adalah independensinya, kemampuannya bersikap netral, ketekadannya untuk mencari dan menyuarakan apa yang benar dan kejeliannya meneliti serta mengamati tindakan yang menyimpang," tulis Dr. Riga. &lt;br /&gt;Luwes, Bebas, Terkendali&lt;br /&gt;Sesuai dengan namanya pengorganisasian kegiatan dari UNFREL mengambil struktur organisasi jaringan (network organization). Masing-masing simpul jaringan memiliki kebebasan dalam menentukan kegiatan inti, hal yang didasarkan pada analisis kekuatan utama yang dimiliki. Dengan strategi demikian diharapkan timbul kesatuan yang bersifat saling melengkapi dalam setiap rangkaian kegiatannya.&lt;br /&gt;Organisasi ini juga menganut asas keluwesan dan kebebasan (desentralisasi) dari setiap simpul untuk menentukan tata cara dan program kerja. Ikatan dengan simpul akan berupa koordinasi, kebersamaan dan komunikasi antar simpul, sehingga pada akhirnya aktivitas organisasi menjadi sejalan dan senada tanpa masing-masing saling mengintervensi. Sifat hubungan dengan induk akan lebih berupa pemberian pertanggung jawaban terhadap kegiatan. Hubungan dengan induk tidak berupa upaya mendapatkan ketentuan yang baku dari kegiatan yang akan dilaksanakan.&lt;br /&gt;Organisasi induk (biasa disebut sebagi Tim Nasional) bertugas memfasilitasi proses komunikasi dan koordinasi dengan lembaga di luar jaringan serta jika perlu hubungan antar simpul. Dalam struktur organisasi, tim nasional dapat dianggap sebagai Information Clearing House sehingga kebutuhan informasi mengenai proses pemantauan yang diinginkan simpul-simpul dalam jaringan dapat diberikan begitu juga sebaliknya. &lt;br /&gt;Secara organisasional, tim nasional tidak berhak turut campur dalam setiap kebijakan simpul. Namun, secara operasional, tim nasional memberikan gagasan prinsip, kriteria serta prosedur pemantauan yang perlu dipelajari, diperhatikan dan diolah oleh masing-masing simpul dengan pertimbangan kondisi dan konteks setempat. Tim nasional berisikan presidium inti yang berkewajiban mengembangkan dan mengadakan kontak dengan pihak dan lembaga lain di luar jaringan. Disamping itu tim nasional juga terdiri dari simpul-simpul program kegiatan yang melayani setiap simpul dalam jaringan.&lt;br /&gt;Bukan Pemilu Belaka&lt;br /&gt;Sebagai lembaga yang bersifat nasional dan didirikan dengan tujuan mewujudkan kedaulatan rakyat, UNFREL melakukan hubungan yang mutualistis baik dengan pihak perguruan-perguruan tinggi, pemerintah maupun dengan lembaga pemantau lainnya. &lt;br /&gt;Tatanan organisasi UNFREL sendiri bersifat terbuka, bebas dan independen. Setiap anggota sivitas akademika boleh terlibat menjadi relawan gugus kerja, asalkan tidak terlibat secara aktif sebagai pengurus partai, tidak punya kepentingan golongan atau partai dan bukan anggota ABRI. &lt;br /&gt;Sesuai dengan namanya yang merupakan jaringan antar perguruan tinggi, UNFREL lebih memprioritaskan mahasiswa dan dosen sebagai relawan, "Karena mereka merupakan kalangan civitas academica yang masih aktif terlibat dalam dunia akademis," ujar salah seorang pengurus.&lt;br /&gt;Lingkup pantauan UNFREL tidak melulu berada pada urusan pemilu belaka. Lembaga ini memulai pekerjaannya semenjak masa-masa pra pemilu, yakni ketika proses penetapan UU pemilu, UU parpol dan UU Susunan dan Kedudukan sampai dengan proses registrasi pemilih dimulai hingga pada tahapan akhir pemilu. Tujuannya tentu demi menjamin agar pemilih dapat memilih dengan bebas tanpa tekanan dan dengan kerahasiaan yang terjamin sekaligus memastikan agar proses penghitungan suara dilakukan dengan jujur tanpa kecurangan.&lt;br /&gt;Sebagai lembaga yang sifatnya swadaya, sumber pendanaan UNFREL berasal dari sumbangan donatur yang dapat berupa individu maupun lembaga dengan beberapa syarat sesuai dengan semangat reformasi. Segala bentuk sumbangan, baik yang berupa uang maupun barang diterima dengan perjanjian yang pada intinya menjamin ketiadaan intervensi dari donatur. Sementara sebagai upaya transparansi penggunaan dana, UNFREL menggunakan jasa akuntan profesional untuk melakukkan pencatatan audit. Pencatatan yang dilakukan minimal dua kali dalam setahun tersebut akan selalu dipublikasikan secara terbuka melalui media massa dalam negeri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Blog ini dikerjakan oleh Anick HT, arek Ciputat yang melanglang buana di dunia maya.&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25280484-114413601491601209?l=gerakanmahasiswa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/feeds/114413601491601209/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25280484&amp;postID=114413601491601209&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/114413601491601209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/114413601491601209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/2006/04/dari-jalanan-ke-lsm-kiprah-gerakan.html' title='DARI JALANAN KE LSM: Kiprah Gerakan Mahasiswa dalam Pemilihan Umum'/><author><name>admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25280484.post-114405447968260540</id><published>2006-04-03T01:53:00.000-07:00</published><updated>2006-04-07T03:56:13.200-07:00</updated><title type='text'>Gerakan Mahasiswa sebagai Gerakan Pemberdayaan dan Identitas (Bagian Pertama dari Dua Tulisan)</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.transparansi.or.id/majalah/edisi20/20berita_4.html"&gt;http://www.transparansi.or.id/majalah/edisi20/20berita_4.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskurkus tentang mahasiswa dan gerakannya sudah lama menjadi pokok bahasan dalam berbagai kesempatan pada hampir sepanjang tahun. Begitu banyaknya forum-forum diskusi yang diadakan, telah menghasilkan pula pelbagai tulisan, makalah, maupun buku-buku yang diterbitkan tentang hakikat, peranan, dan kepentingan gerakan mahasiswa dalam pergulatan politik kontemporer di Indonesia. Terutama dalam konteks keperduliannya dalam meresponi masalah-masalah sosial politik yang terjadi dan berkembang di tengah masyarakat.&lt;br /&gt;Bahkan, bisa dikatakan bahwa gerakan mahasiswa seakan tak pernah absen dalam menanggapi setiap upaya depolitisasi yang dilakukan penguasa. Terlebih lagi, ketika maraknya praktek-praktek ketidakadilan, ketimpangan, pembodohan, dan penindasan terhadap rakyat atas hak-hak yang dimiliki tengah terancam. Kehadiran gerakan mahasiswa --- sebagai perpanjangan aspirasi rakyat ---- dalam situasi yang demikian itu memang amat dibutuhkan sebagai upaya pemberdayaan kesadaran politik rakyat dan advokasi atas konflik-konflik yang terjadi vis a vis penguasa. Secara umum, advokasi yang dilakukan lebih ditujukan pada upaya penguatan posisi tawar rakyat maupun tuntutan-tuntutan atas konflik yang terjadi menjadi lebih signifikan. Dalam memainkan peran yang demikian itu, motivasi gerakan mahasiswa lebih banyak mengacu pada panggilan nurani atas keperduliannya yang mendalam terhadap lingkungannya serta agar dapat berbuat lebih banyak lagi bagi perbaikan kualitas hidup bangsanya.&lt;br /&gt;Dengan demikian, segala ragam bentuk perlawanan yang dilakukan oleh gerakan mahasiswa lebih merupakan dalam kerangka melakukan koreksi atau kontrol atas perilaku-perilaku politik penguasa yang dirasakan telah mengalami distorsi dan jauh dari komitmen awalnya dalam melakukan serangkaian perbaikan bagi kesejahteraan hidup rakyatnya. Oleh sebab itu, peranannya menjadi begitu penting dan berarti tatkala berada di tengah masyarakat. Saking begitu berartinya, sejarah perjalanan sebuah bangsa pada kebanyakkan negara di dunia telah mencatat bahwa perubahan sosial (social change) yang terjadi hampir sebagian besar dipicu dan dipelopori oleh adanya gerakan perlawanan mahasiswa.&lt;br /&gt;Alasan utama menempatkan mahasiswa beserta gerakannya secara khusus dalam tulisan singkat ini lantaran kepeloporannya sebagai "pembela rakyat" serta keperduliannya yang tinggi terhadap masalah bangsa dan negaranya yang dilakukan dengan jujur dan tegas. Walaupun memang tak bisa dipungkiri, faktor pemihakan terhadap ideologi tertentu turut pula mewarnai aktifitas politik mahasiswa yang telah memberikan konstribusinya yang tak kalah besar dari kekuatan politik lainnya. Oleh karenanya, penulis menyadari bahwa deskripsi singkat dalam artikel ini belum seutuhnya menggambarkan korelasi positif antara pemihakan terhadap ideologi tertentu dengan kepeloporan yang dimiliki dalam menengahi konflik yang ada. Mungkin bisa dikatakan artikel ini lebih banyak mengacu pada refleksi diskursus-diskursus politik kekuasaan otoritarian Orde Baru yang sengit dilakukan di kalangan aktifis mahasiswa dalam dekade 90-an. Di mana sebagian besar gerakan-gerakan mahasiswa yang terjadi kala itu, penulis ikut terlibat di dalamnya. Tentunya, pendekatan analisis dalam artikel ini lebih mengacu pada gerakan mahasiswa pro-demokrasi jauh sebelum maraknya gerakan mahasiswa dalam satu tahun terakhir ini, yang akhirnya mengantarkan pada pengunduran diri Presiden Soeharto.&lt;br /&gt;Pemihakan terhadap ideologi tertentu dalam gerakan mahasiswa memang tak bisa dihindari. Pasalnya, pada diri mahasiswa terdapat sifat-sifat intelektualitas dalam berpikir dan bertanya segala sesuatunya secara kritis dan merdeka serta berani menyatakan kebenaran apa adanya. Maka, diskursus-diskursus kritis seputar konstelasi politik yang tengah terjadi kerap dilakukan sebagai sajian wajib yang mesti disuguhkan serta dianggap sebagai tradisi yang melekat pada kehidupan gerakan mahasiswa.&lt;br /&gt;Pada mahasiswa kita mendapatkan potensi-potensi yang dapat dikualifikasikan sebagai modernizing agents. Praduga bahwa dalam kalangan mahasiswa kita semata-mata menemukan transforman sosial berupa label-label penuh amarah, sebenarnya harus diimbangi pula oleh kenyataan bahwa dalam gerakan mahasiswa inilah terdapat pahlawan-pahlawan damai yang dalam kegiatan pengabdiannya terutama (kalau tidak melulu) didorong oleh aspirasi-aspirasi murni dan semangat yang ikhlas. Kelompok ini bukan saja haus edukasi, akan tetapi berhasrat sekali untuk meneruskan dan menerapkan segera hasil edukasinya itu, sehingga pada gilirannya mereka itu sendiri berfungsi sebagai edukator-edukator dengan cara-caranya yang khas".&lt;br /&gt;Masa selama studi di kampus merupakan sarana penempaan diri yang telah merubah pikiran, sikap, dan persepsi mereka dalam merumuskan kembali masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya. Kemandegan suatu ideologi dalam memecahkan masalah yang terjadi merangsang mahasiswa untuk mencari alternatif ideologi lain yang secara empiris dianggap berhasil. Maka tak jarang, kajian-kajian kritis yang kerap dilakukan lewat pengujian terhadap pendekatan ideologi atau metodologis tertentu yang diminati. Tatkala, mereka menemukan kebijakan publik yang dilansir penguasa tidak sepenuhnya akomodatif dengan keinginan rakyat kebanyakan, bagi mahasiswa yang committed dengan mata hatinya, mereka akan merasa "terpanggil" sehingga terangsang untuk bergerak.&lt;br /&gt;Dalam kehidupan gerakan mahasiswa terdapat adagium patriotik yang bakal membius semangat juang lebih radikal. Semisal, ungkapan "menentang ketidakadilan dan mengoreksi kepemimpinan yang terbukti korup dan gagal" lebih mengena dalam menggugah semangat juang agar lebih militan dan radikal. Mereka sedikit pun takkan ragu dalam melaksanakan perjuangan melawan kekuatan tersebut. Pelbagai senjata ada di tangan mahasiswa dan bisa digunakan untuk mendukung dalam melawan kekuasaan yang ada agar perjuangan maupun pandangan-pandangan mereka dapat diterima. Senjata-senjata itu, antara lain seperti; petisi, unjuk rasa, boikot atau pemogokan, hingga mogok makan. Dalam konteks perjuangan memakai senjata-senjata yang demikian itu, perjuangan gerakan mahasiswa --- jika dibandingkan dengan intelektual profesional ---- lebih punya keahlian dan efektif.&lt;br /&gt;Kedekatannya dengan rakyat terutama diperoleh lewat dukungan terhadap tuntutan maupun selebaran-selebaran yang disebarluaskan dianggap murni pro-rakyat tanpa adanya kepentingan-kepentingan lain meniringinya. Adanya kedekatan dengan rakyat dan juga kekauatan massif mereka menyebabkan gerakan mahasiswa bisa bergerak cepat berkat adanya jaringan komunikasi antar mereka yang aktif ( ingat teori snow bowling)..Oleh karena itu, sejarah telah mencatat peranan yang amat besar yang dilakukan gerakan mahasiswa selaku prime mover terjadinya perubahan politik pada suatu negara. Secara empirik kekuatan mereka terbukti dalam serangkaian peristiwa penggulingan, antara lain seperti : Juan Peron di Argentina tahun 1955, Perez Jimenez di Venezuela tahun 1958, Soekarno di Indonesia tahun 1966, Ayub Khan di Paksitan tahun 1969, Reza Pahlevi di Iran tahun 1979, Chun Doo Hwan di Korea Selatan tahun 1987, Ferdinand Marcos di Filipinan tahun 1985, dan Soeharto di Indonesia tahun 1998. Akan tetapi, walaupun sebagian besar peristiwa pengulingan kekuasaan itu bukan menjadi monopoli gerakan mahasiswa sampai akhirnya tercipta gerakan revolusioner. Namun, gerakan mahasiswa lewat aksi-aksi mereka yang bersifat massif politis telah terbukti menjadi katalisator yang sangat penting bagi penciptaan gerakan rakyat dalam menentang kekuasaan tirani.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Blog ini dikerjakan oleh Anick HT, arek Ciputat yang melanglang buana di dunia maya.&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25280484-114405447968260540?l=gerakanmahasiswa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/feeds/114405447968260540/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25280484&amp;postID=114405447968260540&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/114405447968260540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/114405447968260540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/2006/04/gerakan-mahasiswa-sebagai-gerakan.html' title='Gerakan Mahasiswa sebagai Gerakan Pemberdayaan dan Identitas (Bagian Pertama dari Dua Tulisan)'/><author><name>admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25280484.post-114405438399364598</id><published>2006-04-03T01:51:00.000-07:00</published><updated>2006-04-03T01:53:04.000-07:00</updated><title type='text'>Arah Gerakan Mahasiswa Islam</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.hidayatullah.com/2001/01/kolom2.shtml"&gt;http://www.hidayatullah.com/2001/01/kolom2.shtml&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Andi Rahmat*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Era Represi&lt;br /&gt;Satu penelitian pernah dilakukan oleh Dekmeijian terhadap fenomena maraknya gerakan Islam di berbagai kampus di Turki, sekitar era 80'an. Dalam penelitiannya, Dekmeijian menemukan bahwa terdapat hubungan yang erat antara dinamika aktivisme Islam dengan situasi politik yang berkembang pada saat itu. Dalam situasi dimana penguasa menerapkan kebijakan politik yang represif, menurut Dekmeijian, biasanya gerakan Islam lebih bisa eksis dan malahan makin memperlihatkan pertumbuhan yang luar biasa ketimbang gerakan-gerakan ideologis lainnya.&lt;br /&gt;Pada kasus Turki, sebelum militer melakukan kudeta, di era 70'an, aktivisme kampus-kampus pada umumnya di dominasi oleh kelompok “kiri”. Pada masa itu simbol-simbol aktivisme “kiri” demikian menonjol. Kumis yang dibiarkan memanjang, tanpa jenggot, dan penampilan yang lusuh merupakan “trade mark” aktivis kampus. Namun demikian, ketika represi politik menjadi lebih kuat memasuki tahun 80'an, secara pelan-pelan simbol-simbol ini berubah dan digantikan oleh simbol-simbol baru yang dibawa oleh aktivis-aktivis Islam. Jilbab, jenggot dan sebagainya dengan cepat menjadi fenomena yang mendominasi berbagai kampus di Turki.&lt;br /&gt;Mengapa hal yang demikian itu terjadi? Banyak jawaban yang bisa diberikan. Di antaranya yang relevan adalah bahwa fenomena maraknya aktivisme Islam pada era represi politik seperti itu sesungguhnya menunjukkan kemampuan bertahan dan adaptasi “wacana politik Islam” dalam beragam situasi yang berkembang. Islam menyediakan ruang yang relatif aman bagi banyak orang untuk mengartikulasikan ide-ide politiknya, yang paling oposan sekalipun. Dan memberinya kesempatan untuk memperluas gagasan tersebut menjadi satu formulasi sikap dan tindakan, yang dapat kita sebut sebagai “gerakan”, di bawah perlindungan citra religius yang kuat. Itu yang pertama.&lt;br /&gt;Kedua, biasanya bersamaan dengan menguatnya represi politik, terlihat pula usaha-usaha untuk mengobjektifkan ajaran-ajaran Islam ke dalam bentuk kehidupan praktis masyarakat juga kian marak. Pada saat seperti itu, biasanya penerbitan-penerbitan Islam, setelah melalui sensor yang ketat, dibiarkan tumbuh secara terbatas sebagai bentuk akomodasi yang mungkin bagi penguasa di negeri-negeri Islam untuk memperlihatkan “toleransinya” terhadap pelaksanaan kehidupan keagamaan yang dianut oleh mayoritas rakyatnya. Namun begitu, sekalipun dibatasi, tumbuhnya penerbitan Islam ini tetap menjadi suatu alternatif yang paling sehat dan aman bagi perluasan aspirasi-aspirasi Islam, sekaligus juga relatif dapat mengobjektivisikan gagasan-gagasan keIslaman dalam bentuk-bentuk yang tidak kelihatan konfrontatif.&lt;br /&gt;Kedua hal di atas tidak bisa dilakukan oleh gerakan-gerakan ideologis lainnya, seperti gerakan-gerakan “kiri”. Perlu pula diingat, sekalipun begitu, dalam situasi politik yang serba represif, hanya gerakan Islam yang membawa format moderat sajalah yang paling mungkin untuk tumbuh dan marak dikampus-kampus. Sebaliknya, gerakan-gerakan Islam yang cenderung radikal, biasanya juga menemui nasib mirip dengan gerakan-gerakan kiri.&lt;br /&gt;Alasannya, pertama, karena gerakan-gerakan radikal itu tidak memberi satu ruang yang aman bagi masyarakat yang tengah dikungkung oleh teror represi penguasa. Dan kedua, karenanya, gerakan-gerakan tersebut menjadi kelihatan tidak realistis dan jauh dari kenyataan sehari-hari yang dihadapi oleh mayoritas masyarakat, khususnya mahasiswa.&lt;br /&gt;Untuk konteks Indonesia, apa yang diteliti oleh Dekmeijian itu sedikit banyak memiliki hubungan-hubungan yang layak kita pertimbangkan. Betapapun juga, maraknya aktivisme Islam di berbagai kampus-kampus sejak era 80'an dan kemudian menjadi fenomena dominan di era 90'an, menunjukkan beberapa gejala yang mirip dengan apa yang dialami di Turki. Terlepas dari pelbagai teori mengenai sumbangsih politik akomodatif yang dilancarkan oleh Orde Baru terhadap ummat Islam, kita tetap saja dapat melihat bahwa sifat pertumbuhan tersebut sangatlah khas dan memiliki ciri-ciri independensi tertentu yang tidak cukup dijelaskan semata-mata dari sudut pandang teori-teori akomodasi Orde Baru semacam itu. Kita menemukan pada aktivisme Islam itu gejala oposan yang kuat terhadap Orde Baru, baik dari sudut wacana yang dikembangkannya, maupun dari sudut ide-ide dasar yang dianutnya, terutama sekali dalam menilai hubungan-hubungan mereka dengan penguasa Orde Baru. Dan ini terbukti dari sikap yang ditampakkan oleh mayoritas aktivis Islam yang tumbuh dikampus-kampus disepanjang era tersebut. Yakni pada saat menjelang akhir kekuasaan Orde Baru dan berlanjut hingga ke masa-masa berikutnya, pada era Habibie dan Abdurrahman Wahid.&lt;br /&gt;Di Era Liberalisasi&lt;br /&gt;Kalau kita melihat sepanjang era represi Orde Baru aktivisme Islam di kampus-kampus sedemikian marak, maka di era dimana keterbukaan politik menjadi suatu keniscayaan seperti yang tampak pada hari ini, kita perlu pula mencermati sejauhmana sesungguhnya kemampuan gerakan Islam untuk mempertahankan dominasinya dalam aktivisme di kampus-kampus. Hal ini penting, mengingat dari penelitian Dekmeijian diperoleh kesimpulan bahwa pada keterbukaan politik biasanya aktivisme Islam akan mengalami kemerosotan. Dan kemerosotan ini biasanya pula diikuti oleh bangkitnya aktivisme jenis lain, sebagai alternatif bagi aktivisme Islam yang dominan itu, yang pada umumnya merupakan varian-varian dari ide-ide gerakan “kiri”.&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini terlihat maraknya kembali mahasiswa di berbagai kampus yang menampakkan dan mempergunakan atribut-atribut dan simbol-simbol dari gerakan kiri. Tidak hanya itu, kita pun melihat bangkitnya antusiasme di kalangan mahasiswa untuk terlibat atau melibatkan diri dalam wacana-wacana kiri. Berbagai buku diterbitkan mengiringi bangkitnya antusiasme tersebut. Satu kemarakan yang menyerupai kemarakan yang sama dengan gairah aktivisme Islam di era 80 dan 90'an. Pada saat yang sama, nampak pula satu gejala dimana aktivisme Islam seperti kehilangan daya cengkramnya. Sekalipun barangkali masih dalam wujud kekhawatiran-kekhawatiran, namun melihat kecenderungan yang berkembang di kalangan aktivis Islam yang terlihat tidak serius menanggapi persoalan ini, bukan tidak mungkin dalam beberapa waktu mendatang, bandul fenomena aktivisme mahasiswa akan bergerak ke “kiri”.&lt;br /&gt;Mengapa demikian? Dalam hemat kami, era liberalisasi politik ini sedikit banyak telah pula menyedot perhatian mayoritas aktivis Islam untuk segera terlibat di dalamnya. Dan ini yang paling klasik. Biasanya, keterlibatan seperti ini mengandung implikasi sosial berupa biaya yang mesti ditanggung oleh Gerakan Islam dalam bentuk tersedotnya banyak tenaga dan pemikiran untuk mengiringi keterlibatan tersebut. Selain itu, pada saat yang sama, seringkali pula kita lupa. Yakni sekalipun aktivisme Islam di kampus-kampus tersebut berangkat dari suatu kesadaran yang memiliki bentuk dan arah yang jelas (manifest), akan tetapi kerangka kerja dari bentuk kesadaran tersebut masihlah berbentuk bahan baku yang mesti diolah lebih jauh lagi menjadi produk-produk jadi yang siap dikonsumsi. Dan di sinilah problem klasik gerakan Islam muncul, yaitu memformulasikan gagasan-gagasan politiknya menjadi serangkaian program dan tindakan-tindakan nyata, yang dapat diukur secara terbuka oleh masyarakat luas untuk diberi nilai, apakah gagasan tersebut realistis bagi mereka atau tidak.&lt;br /&gt;Masalahnya, kebiasaan-kebiasaan yang berkembang selama era represi militer dimana ide-ide pada umumnya dikembangkan dalam bentuk formulasi normatif, demi menjaga ruang aman gerakan dari intimidasi penguasa, berdampak pula hingga pada era liberalisasi. Salah satu kebiasaan tersebut adalah penawaran gagasan-gagasan dalam bentuk slogan dan jargon yang seringkali pula tidak realistis. Misalnya, yang paling sering ditemukan adalah jargon semisal “Hukum Islam Tegak Maksiat Hilang”. Dari sudut pandang syar'i saja jargon ini sudah bermasalah. Sebab sesungguhnya tujuan penerapan hukum Islam bukanlah melawan sunnatullah, yaitu hilangnya maksiat itu sendiri, tetapi tujuan sesungguhnya adalah membuat agar maksiat-maksiat tersebut tidak nampak secara terang-terangan di dalam masyarakat dan tidak menjadi fenomena yang umum. Kemudian dari sudut strategis, jargon ini juga bersifat millenerianistis, mengobral janji-janji dan karena itu mudah mengundang kekecewaan. Hemat kami, alangkah baiknya jika gerakan Islam lebih konsentrasi pada peneloran ide-ide yang terkait langsung dengan kehidupan praktis masyarakat.&lt;br /&gt;Karena hal-hal di atas, di era liberalisasi politik seperti sekarang ini, gerakan mahasiswa Islam (GMI) potensial untuk mengalami kebekuan manakala konsentrasi dan formulasi ide-idenya tidak berhasil dikukuhkan ulang. Perhatian yang sedemikian besar terhadap gejolak-gejolak sosial dan politik kontemporer yang mengiringi perubahan-perubahan besar dalam sejarah kehidupan bangsa Indonesia saat ini, selain merupakan kewajiban “kesejarahan” GMI, pada sisi lain sesungguhnya pula mengandung ancaman-ancaman serius. Bentuk ancaman ini beragam, mulai dari kemungkinan mengecilnya basis konstituen hingga pada bentuk kegagalan dalam mengadvokasi kepentingan-kepentingan ummat. Dalam hal mengadvokasi kepentingan ummat, lubang terbesar yang paling berpeluang menjerat GMI adalah keragu-raguan yang timbul dari ketiadaan rasa percaya diri terhadap usaha-usaha untuk mengangkat isu-isu ummat Islam, baik nasional maupun global, sebagai “isu identitas” yang dominan.&lt;br /&gt;Kerangka Kerja Gerakan Mahasiswa Islam&lt;br /&gt;Menghadapi perubahan-perubahan seperti di atas, GMI tidak pelak lagi mesti merumuskan kerangka kerjanya yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Ringkasnya, kerangka kerja ini merupakan rangkaian agenda-agenda mendasar yang secara sistematis menunjukkan Gamis untuk beradabtasi secara tepat dengan kondisi dan situasi yang terus berubah.&lt;br /&gt;Pada kesempatan ini, kami menganjurkan agar GMI mulai secara proaktif memandang keterlibatannya dalam setiap peristiwa sejarah sebagai satu kewajiban yang tidak terelakkan. Pertama, karena GMI hakikinya adalah manifestasi langsung dari cita-cita kebangkitan Islam yang memikul beban untuk menggerakkan kebangkitan itu mengikuti gerak waktu yang selalu kedepan. Kedua, bahwa GMI juga mewakili aspirasi paling mendasar yang dibawakan oleh cita-cita normatif Islam dalam mewujudkan masyarakat Islami yang menjamin terbentuknya formasi sosial yang mencerminkan cita-cita tersebut. Ketiga, terkait dengan isu-isu perubahan kontemporer, GMI juga memikul tanggung jawab sebagai garda depan (vanguard) dari usaha-usaha ummat Islam untuk mengarahkan bandul sejarah kearahm mereka, yang selama sekian lamanya berpihak pada kepentingan-kepentingan yang tidak sejalan dengan Islam.&lt;br /&gt;Dan untuk mewujudkan itu, usaha-usaha seperti mengkonsolidasikan formasi gerakan kedalam bentuk-bentuk yang lebih mengakar pada orisinalitas gagasan-gagasan dan metodologi gerakan Islam yang modern menjadi hal penting yang perlu dikedepankan. Betapapun juga eksistensi GMI memiliki ketergantungan yang sangat besar terhadap orisinalitas gagasan-gagasannya. Dalam hal ini, makin orisinil ia berpijak pada Islam dalam pertumbuhannya, maka akan makin mungkin baginya untuk tetap mempertahankan eksistensinya. Kemudian, agar pada saat yang sama GMI tidak terjebak dalam bahaya kebekuan, ketidak fleksibelan, ketidakrealistisan dan semacamnya, orisinalisme tersebut haruslah diarahkan pada bentuk-bentuk yang lebih dinamis. Artinya, GMI yang paling mungkin diwujudkan adalah gerakan yang mampu menampakkan sikap-sikap moderasi, toleran terhadap perubahan, dan cepat beradabtasi dengan situasi. Kedua hal tersebut akan semakin mungkin manakala ditopang pula oleh konsistensi gerakan mahasiswa Islam dalam membina dan melahirkan kader-kadernya. Hanya dengan konsistensi pembinaan kader maka gerakan tidak akan kehilangan iron stock-nya, dan pada saat yang sama akan lebih mudah baginya untuk mengantisipasi dampak pertumbuhan gerakan-gerakan yang tidak sejalan dengan Islam. Wallahu `alam bissawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Penulis adalah Ketua Umum KAMMI Pusat periode 2000-2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Blog ini dikerjakan oleh Anick HT, arek Ciputat yang melanglang buana di dunia maya.&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25280484-114405438399364598?l=gerakanmahasiswa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/feeds/114405438399364598/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25280484&amp;postID=114405438399364598&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/114405438399364598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/114405438399364598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/2006/04/arah-gerakan-mahasiswa-islam.html' title='Arah Gerakan Mahasiswa Islam'/><author><name>admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25280484.post-114405414081093832</id><published>2006-04-03T01:44:00.000-07:00</published><updated>2006-04-03T01:49:32.586-07:00</updated><title type='text'>Dilema Gerakan Mahasiswa Metropolitan</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.hidayatullah.com/sahid/9812/ihwal3.htm"&gt;http://www.hidayatullah.com/sahid/9812/ihwal3.htm&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapapun yang mencermati gerakan mahasiswa saat ini, terutama di Jakarta, sebenarnya sulit untuk tidak mengatakan bahwa agenda politik mahasiswa sangat bersinggungan dengan agenda politik di luar kelompok mahasiwa. Sebab, meskipun muncul pernyataan bahwa gerakan mahasiswa tidak ditunggangi, kenyataan di lapangan menunjukkan ada keterkaitan yang erat sebagian gerakan mahasiswa dengan sejumlah LSM.&lt;br /&gt;Saat ini ada sejumlah gerakan mahasiswa antara lain, Forum Kota (Forkot), Forum Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi (Famred), Komite Mahasiswa dan Rakyat Anti Dwifungsi ABRI (Komrad), Forum Bersama (Forbes), Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jabotabek (FKSMJ), Keluarga Besar Universitas Indonesia (KBUI), Front Jakarta, Forum Salemba (Forsal), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dan banyak lagi.&lt;br /&gt;Massa berbagai gerakan mahasiswa ini biasanya bersifat lintas universitas. Meski demikian ada universitas tertentu yang menjadi kantong-kantong utama. Paling tidak itu terlihat pada saat penggempuran Sidang Istimewa MPR-RI yang lalu. Misalnya kelompok mahasiswa Forbes, berintikan mahasiswa Universitas Nasional dan Universitas Trisakti. Forum Kota, meskipun anggotanya dari berbagai universitas, tapi basis massanya berasal dari Universitas Kristen Indonesia dan Universitas Katolik Atmajaya.&lt;br /&gt;Demikian juga Famred yang merupakan 'pecahan' dari Forkot sebagian besar massanya dari Universitas YAI Persada. Meski aspirasi gerakan mahasiswa tidak selalu seragam tetapi pola yang dipakai sering kali sama. Misalnya, Front Jakarta dan Famred yang merupakan pecahan dari Forkot, pola gerakan mereka sama dengan Forum Kota karena mereka satu induk.&lt;br /&gt;Dalam pelaksanaan di lapangan koordinasi mereka tergolong rapi. Misalnya dalam menggempur DPR selama berlangsungnya sidang istimewa mereka membagi berbagi rute menuju DPR menurut kelompoknya. Misalnya Famred, Komrad dan Kobar menggempur dari jalan Diponegoro. Forkot di samping menembus dari jalan Sudirman juga menggempur dari arah Jembatan Slipi yang sebelumnya mengambil jalan memutar dari Cawang ke tol Tanjung Priok. Sedangkan FKSMJ yang bermarkas di Universitas Dr Moestopo mengambil jalan Asia Afrika dan lain-lain. Ketika melakukan aksi menolak SI, berbagai elemen gerakan mahasiswa ini sempat menyatukan diri dalam wadah yang bernama Akrab.&lt;br /&gt;Keterkaitan gerakan mahasiswa dengan kelompok di luar mahasiswa yang paling mudah dilihat pada saat aksi bersama. Forbes dan Komrad misalnya sering menggelar aksi bersama dengan kelompok Aldera (Aliansi Demokrasi Rakyat, yang tokohnya Pius Lustrilanang pernah diculik), Yayasan Pijar, Partai Rakyat Demokratik (PRD). Ini terlihat pada aksi di depan gedung DPR dan Taman Suropati.&lt;br /&gt;Komrad dan Kobar malah sering menggunakan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) sebagai posko gerakan mereka. Forkot kabarnya sering menggunakan kantor sebuah surat kabar di Jakarta sebagai tempat rapat.&lt;br /&gt;Menurut Fahri Hamzah, mantan Ketua KAMMI, massa mahasiswa sebenarnya mudah diciptakan, apalagi ketika demonstrasi dan aksi massa menjadi kegiatan ekstra kuliah baru bagi mahasiswa. Karena itu untuk memperoleh massa yang berjumlah besar lebih banyak dipengaruhi isu yang dikedepankan pada saat demonstrasi berlangsung. Sementara pembuatan isu lebih banyak ditentukan oleh elit gerakan mahasiswa. Dengan kata lain, menurut Fahri, gerakan mahasiswa sangat ditentukan oleh elit mahasiswa pada kelompok itu.&lt;br /&gt;Meskipun massa mahasiswa tidak berhubungan dengan kelompok di luar gerakan mahasiswa, tetapi elit mahasiswa inilah yang sering mengintrodusir ide-ide dari luar ke dalam gerakan mahasiswa. "Mereka sering mendapatkan data-data yang baru dari sejumlah LSM," tambah Fahri Hamzah. LSM merupakan institusi yang paling banyak menampung persoalan yang berkembang di masyarakat, mulai dari kasus tanah sampai korupsi mega trilyun.&lt;br /&gt;Meskipun mereka nampak sering menyatu dalam berbagai aksi mahasiswa bahkan menyatukan diri dalam wadah yang bernama Akrab namun bukan berarti mereka tanpa konflik. Misalnya dalam menyikapi Deklarasi Ciganjur yang dicetuskan oleh empat tokoh yakni M Amien Rais, Abdurrahman Wahid, Megawati, dan Sri-Sultan Hamengkubuwono. Sebagian dari mereka tegas-tegas menolak deklarasi Ciganjur, karena dianggap terlalu lembek terhadap rejim Habibie.&lt;br /&gt;Demikian juga pecahnya Forkot menjadi Famred dan Front Jakarta menunjukkan adanya ketidaksamaan langkah dalam gerakan mahasiswa. Sebagaimana firman Allah, "Tahsyabuhum jamiah waqulubuhum satta, mereka seakan-akan menyatu padahal hati-hati mereka tercerai-berai." ·&lt;br /&gt;--Haryono&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Blog ini dikerjakan oleh Anick HT, arek Ciputat yang melanglang buana di dunia maya.&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25280484-114405414081093832?l=gerakanmahasiswa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/feeds/114405414081093832/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25280484&amp;postID=114405414081093832&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/114405414081093832'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/114405414081093832'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/2006/04/dilema-gerakan-mahasiswa-metropolitan.html' title='Dilema Gerakan Mahasiswa Metropolitan'/><author><name>admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25280484.post-6654004887020221408</id><published>2005-03-22T07:55:00.000-08:00</published><updated>2006-12-11T08:00:44.856-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gerakan Mahasiswa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BBM'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Orde Baru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mogok Makan'/><title type='text'>Politik Mogok Makan</title><content type='html'>&lt;span class="textreporter"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Didik Supriyanto&lt;/span&gt; - detikcom&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;     &lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Jakarta&lt;/strong&gt; - Berita mogok makan menentang kenaikan harga BBM, mengingatkan saya akan kejadian di Kampus Bulaksumur, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, pada pertengahan 1991. Saat itu, aktivis mahasiswa UGM sedang terbelah, menyusul keluarnya kebijakan SMPT (Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi) dari Menteri Fuad Hassan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan SMPT sebetulnya sudah lama dinantikan mahasiswa. Maklum, sejak diterapkannya kebijakan NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaa)oleh Menteri Daoed Joesoef pada 1978, praktis tiada lagi lembaga representasi mahasiswa di tingkat universitas. Dewan Mahasiswa yang memotori gerakan mahasiswa 1978 dibubarkan pemerintah, menyusul serbuan tentara ke kampus untuk menumpas gerakan anti-Soeharto menjelang SU-MPR 1978.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, penerapan kebijakan SMPT ternyata menimbulkan prokontra. Di satu pihak, sekelompok mahasiswa, yang dimotori oleh Senat Mahasiswa Fakultas (SMF) dan Badan Perwakilan Mahasisswa Fakultas (BPMF), bersikeras agar Senat Mahasiswa (SM) UGM segera dioperasionalisasikan. Kelompok ini percaya bahwa SM UGM akan efektif menyalurkan aspirasi mahasiswa dan mengontrol kebijakan rektorat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak, muncul sekelompok mahasiswa yang menentang operasionalisasi SM UGM, karena lembaga ini dinilai tidak memiliki otonomi sebagaimana dulu pernah dimiliki Dewan Mahasiswa. Kelompok ini khawatir, kehadiran SM UGM hanya akan dijadikan stempel oleh pejabat-pejabat kampus, sebagaimana DPR dijadikan stempel oleh pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prokontra itu berlangsung berbulan-bulan, lewat diskusi formal maupun nonformal. Pers mahasiswa UGM mendokumentasikan masalah ini dengan baik, demikian juga dengan media lokal, seperti &lt;i&gt;Kedaulatan Rakyat&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Bernas&lt;/i&gt;. Namun diskusi mesti diakhiri, dan aksi harus dimulai. Dan ketika rektor UGM mengesahkan SM UGM, kelompok yang tidak setuju pun memulai aksi penentangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok penentang ini, menggelar aksi lewat demo keliling kampus dan orasi-orasi di halaman Balairung Gedung Pusat UGM. Demi menjaga kelanjutan aksi penetangan mereka berkemah, mendirikan tenda di halaman Balairung. Ini pun masih belum cukup. Untuk menunjukkan keseriusan aksi penentangan, beberapa aktvis melakukan aksi mogok makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah, di bawah bohon bodi di halaman Balairung Gedung Pusat UGM, berdiri tenda kemah yang di dalamnya 'dihuni' beberapa mahasiswa yang sedang mogok makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin aksi mogok makan itu bukan kali yang pertama dalam rentang gerakan penentangan pada zaman Orde Baru. Namun, aksi ini cukup memperkenalkan bentuk-bentuk perlawanan baru yang diusung mahasiswa, selain yang konvensional, seperti orasi, demonstrasi dan juga apa yang disebut dengan &lt;i&gt;happening art&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jenis aksi baru ini segera kehilangan maknanya, paling tidak di lingkungan kampus UGM. Kenapa? Pertama, aksi mogok makan itu tidak sampai pada titik yang dramatik, misalnya pelakunya sampai meninggal, atau setidak-tidaknya sampai merepotkan tenaga medis sehingga publikasi runtutan kejadian tersebut bisa mengharibiru banyak orang; kedua, kenyataanya kebijakan yang ditentang tetap berjalan karena pengambil kebijakan 'tak tersentuh' oleh aksi mogok makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dimulainya aksi mogok makan menetang penerapan SMPT sebetulnya publikasi media lokal dan penyebarluasan infomasi dari mulut ke mulut lumayan seru. Namun, ketika memasuki hampir sepekan ternyata 'tidak terjadi apa-apa' dengan si palaku aksi mogok makan, maka keseriusan aksi mogok makan itu dipertanyakan. Mereka benar-benar cuma mau main gertak. Celakanya, ketika yang digertak tidak surut, mereka pun menurunkan derajat aksinya jadi sekadar main-main.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mengaku hanya mogok makan. "Ini kan aksi mogok makan, jadi minum dan merokok jalan terus," kata aktivis yang mendampingi mereka yang mogok makan. "Setiap malam kita kasih minum sari kacang hijau, biar fisiknya kuat....."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:'MS Sans Serif',Geneva,sans-serif;font-size:78%;"  &gt;&lt;b&gt;&lt;b&gt;(diks/)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/03/tgl/22/time/133903/idnews/323603/idkanal/10"&gt;Sumber&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Blog ini dikerjakan oleh Anick HT, arek Ciputat yang melanglang buana di dunia maya.&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25280484-6654004887020221408?l=gerakanmahasiswa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/feeds/6654004887020221408/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25280484&amp;postID=6654004887020221408&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/6654004887020221408'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/6654004887020221408'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/2005/03/politik-mogok-makan.html' title='Politik Mogok Makan'/><author><name>admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25280484.post-8393501741275707902</id><published>2004-08-04T08:03:00.000-07:00</published><updated>2006-12-11T08:08:01.495-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gerakan Mahasiswa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Orde Baru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soeharto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Reformasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Rekonstruksi Soliditas Gerakan Mahasiswa</title><content type='html'>Oleh&lt;i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; R. Andriadi Achmad&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa KM Universitas Andalas&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Mobilisasi pergerakan mahasiswa setiap dekade zaman dilekati karakteristik dan tantangan yang berbeda-beda. Terlihat pada masing-masing zaman menampilkan figur, isu, problem yang berbeda. Menarik benang example, pergerakan mahasiswa Angkatan 66 membumikan isu otoritarian state dengan ‘Ikon tritura’. Angkatan 74 (Malari) mengusung isu NKK/BKK dengan ‘Ikon otonomisasi’. Angkatan 78 mengangkat isu perlunya merealisasi demokrasi, transparansi, akuntabilitas, bahkan pelaksanaan pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen dengan ‘Ikon menolak Soeharto sebagai calon presiden’ (Demokrasi Suatu Keharusan, Anwari WMK, 2004). Angkatan 98 mengumbar isu reformasi dengan ‘Ikon enam visi reformasi’. Angkatan 2001 dengan isu reformasi jilid 2 berikon ‘Demokratisasi’. Akankah, angkatan 2004 harus mengusung isu revolusi dengan ‘Ikon Cut Generation (potong generasi) ?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Power pergerakan mahsiswa, terdeskripsi sungguh menakjubkan. Membukakan memori kita pada tesis filsuf Hanna Arendt ‘The Human Condition’ (New York 1956) bahwa instrumentalisasi dan degradasi politik takkan pernah berhasil membungkam pergerakan atau menghancurkan realitas masalah-masalah kemanusian terbukti dalam setiap gelombang pergerakan mahasiswa tiap-tiap angkatan. Hal itu juga, lantaran gerakan mahasiswa terbangun diatas etika no blesse oblige (Burhan D. Magenda, 1997) yang didefinisikan suatu previlese atau etika yang terbangun atas dasar semangat militansi dalam memperjuangkan kepentingan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggali alasan lain penyebab tumbuhnya kepekaan mahasiswa terhadap persoalan yang bertitik fokus pada perjuangan membela kepentingan rakyat. Menurut Arbi Sanit (1985) lima hal yang melatar belakanginya. Pertama, mahasiswa sebagai kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik memiliki persepektif atau pandangan yang cukup luas untuk dapat bergerak di semua lapisan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, mahasiswa sebagai golongan yang cukup lama bergelut dengan dunia akademis dan telah mengalami proses sosialisasi politik terpanjang di antara generasi muda.Ketiga, kehidupan kampus membentuk gaya hidup unik di kalangan mahasiswa, dan terjadi akulturasi sosial budaya tinggi di antara mereka. Keempat, mahasiswa sebagai golongan yang akan memasuki lapisan atas dari susunan kekuasan, struktur ekonomi, dan memiliki keistimewaan tertentu dalam masyarakat sebagai kelompok elit di kalangan kaum muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, mahasiswa rentan terlibat dalam pemikiran, perbincangan, dan penelitian pelbagai masalah yang timbul di tengah kerumunan masyarakat, memungkinkan mereka tampil dalam forum yang kemudian mengangkatnya ke jenjang karier sesuai dengan keahliannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Rapor Merah Gerakan Mahasiswa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ralita membahasakan 'reformasi jalan ditempat'. Artinya, mahasiswa gagal dalam mengisi dan mengawal reformasi. Padahal, daya dobrak Gerakan mahasiswa 1998 yang berhasil menggulingkan rezim Orde Baru merupakan momen penting sebagai starting point dalam rangka menyelamatkan bangsa dalam kondisi sedang sekarat. Pada kenyataan, mahasiswa lengah dan membuang kesempatan tersebut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena pergerakan melempemnya pergerakan mahasiswa pasca reformasi seolah kehingan roh merupakan rapor merah yang harus dihitamkan. Menurut hemat penulis, terdapat beberapa akar penyebab gerakan mahasiswa pasca reformasi kehilangan vitalitas perjuangan. Pertama, terjadinya fragmentasi (perpecahan) intern dalam gerakan mahasiswa. Menurut Dr. Alfian, dosen UI dan peneliti katalis menyebutkan bahwa salah satu penyebab terjadinya problema dalam pergerakan mahasiswa adalah fragmentasi lantaran prinsip ideologi yang menancap pada sekelompok mahasiswa yang condong mengarah pada “perbedaan Idealisme” sehingga mengerucut menjadi perpecahan dalam pergerakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, muncul kelompok mahasiswa oportunis, sehingga posisi mahasiswa dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok/individu tertentu. Gejala ini, terlihat pada isu terbaru yang mengatakan gerakan mahasiswa ---antimiliterisme, anti Orde Baru, anti pelanggar HAM atau anti yang lainnya --- ditunggangi kelompok tertentu. Padahal gerakan mahasiswa harus independen dan kudu konsisten dengan gerakan moral. Perihal inilah, membuat lemahnya pergerakan mahasiswa hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, apatisme kebanyakkan mahasiswa akan posisi dan peranya sebagai agent of change (agen perubah), moral force (kekuatan moral) dan iron stock (perangkat keras) suatu bangsa. Di tambah dengan sekelompok Mahasiswa melakukan pergerakan cenderung atas dasar kepentingan tertentu saja, problema ini membuat gerakan mahasiswa kehilangan roh dan mengalami dekadensi eksistensi di tengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan miring terlihat dari pernyataan Misbah Shoim Haris (1997) dikutip dalam bukunya. "Namun, selama ini yang kita lihat, realitas tidaklah seindah bayangan (idealisme) kita. Masih terlalu banyak mahasiswa yang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu tanggung jawabnya sebagai pengemban rakyat. Pandangan tersebut, tentunya berimplikasi pada posisi dan peran mahasiswa, sehingga eksistensi mahasiswa di mata masyarakat memudar." (Media Kampus, Senin, 15 /03/04)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Rekonstruksi Soliditas Gerakan Mahasiswa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengutip pepatah para ilmuwan francis La Historie Se Pete ( sejarah akan selalu berulang), mengoptimisisasi akan kembalinya roh pergerakan mahasiswa sebagaimana gerakan mahasiswa dekade sebelumnya . Adapaun lampu hijau yang harus ditempuh.. Pertama, membudayakan pemahaman sisi persamaan perjuangan dengan menerapkan sikap toleransi dalam perbedaan. Kedua, menjalin komunikasi antar sesama kelompok mahasiswa. Ketiga, meruntuhkan sikap saling curiga, dengki serta menepis jauh-jauh sikap high egoisme yang rentan menghinggapi mahasiswa. keempat, mengikis infantilisme (kekanak-kanakan) mahasiswa. kelima, membangun indepedensi pergerakan mahasiswa. Mengingat, mahasiswa adalah kelompok sejati, abadi, dan berada di barisan terdepan dalam jajaran generasi muda. keenam, membangun sikap kritis dan arif dalam memandang suatu permasalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengevaluasi format pergerakan mahasiswa selama ini, cendrung stagnan, vakum dan mengalami fragmentasi. The big work (pekerjaan besar) mahasiswa hari ini adalah merekonstruksi soliditas pergerakan, memulai gerakan yang lebih sistematis dengan menepis fragmentasi wacana, menghindari fragmentasi gerakan, menuju sinergitas bersama. Sekaligus mengawasi dan mempresure siapa pun pemimpin bangsa Indenesia dalam pemilu putaran pertama 5 Juli dan kedua 21 September mendatang agar merealisasi enam visi reformasi yang pernah ditawarkan mahasiswa. Sebagai pertanggungjawaban mahasiswa yang telah berani memulai ‘Reformasi 1998’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersimpul pada langkah dan tujuan pergerakan yang sama yaitu membawa bangsa ini keluar dari keterpurukan krisis multidimensi dan intimidasi kekuasan menuju titik Enlightment (pencerahan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini, pernah di muat di Kolom Mahasiswa Majalah SAKSI, Edisi 4 Agustus 2004&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://www.penulislepas.com/more.php?id=D440_0_1_0_M"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;ditulis oleh &lt;a style="font-weight: bold;" href="http://www.penulislepas.com/members/profile_view_ind.php?id=700"&gt;Al-Biruni&lt;/a&gt;  &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Blog ini dikerjakan oleh Anick HT, arek Ciputat yang melanglang buana di dunia maya.&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25280484-8393501741275707902?l=gerakanmahasiswa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/feeds/8393501741275707902/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25280484&amp;postID=8393501741275707902&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/8393501741275707902'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/8393501741275707902'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/2004/08/rekonstruksi-soliditas-gerakan.html' title='Rekonstruksi Soliditas Gerakan Mahasiswa'/><author><name>admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25280484.post-4152025847554472738</id><published>2003-02-10T08:18:00.000-08:00</published><updated>2006-12-11T08:23:02.523-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BEM'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BBM'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Editorial Media'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TDL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Demonstrasi'/><title type='text'>Eskalasi Unjuk Rasa</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:100%;color:red;"&gt;Eskalasi Unjuk Rasa&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;    &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Editorial Harian Pontianak Post, Kalimantan Barat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;p align="justify"&gt; UNJUK rasa mahasiswa memperlihatkan perubahan arah dan tujuan. Awalnya, aksi-aksi yang melibatkan badan eksekutif mahasiswa (BEM), OKP (organisasi kemahasiswaan pemuda), dan eksponen mahasiswa lain itu hanya memprotes kebijakan pemerintah. &lt;/p&gt;&lt;p&gt; Misalnya, keputusan pemerintah menaikkan harga BBM, tarif dasar listrik (TDL), dan telepon --meski kenaikan yang terakhir ini melalui Menhub Agum Gumelar dinyatakan ditunda sampai batas waktu yang belum ditentukan-- dinilai merugikan masyarakat sehingga didemo agar kenaikan itu dibatalkan. &lt;/p&gt;&lt;p&gt; Belakangan, dengan eskalasi yang terus meningkat, isu yang diusung gerakan mahasiswa bukan lagi penentangan terhadap kenaikan tiga komponen kebutuhan vital publik itu. Tema baru gerakan mereka adalah gagalnya duet kepemimpinan Presiden Megawati-Wapres Hamzah Haz dalam menjalankan pemerintahan dengan benar dan, karena itu, mereka menuntut keduanya mundur. &lt;/p&gt;&lt;p&gt; Perkembangan lebih baru, sebagaimana diberitakan Pontianak Post, gerakan mahasiswa lebih fokus lagi, yakni menargetkan jatuhnya pemerintahan Mega-Hamzah sebelum 2004. &lt;/p&gt;&lt;p&gt; Artinya, Mega-Hamzah tak perlu lagi diberi mosi tidak percaya melalui pemilu -dengan tidak mencoblos PDIP dan PPP-- melainkan harus didongkel di tengah jalan sebelum 2004. &lt;/p&gt;&lt;p&gt; Kita memahami mahasiswa masih merupakan kekuatan politik dan massa yang militan. Mereka sebagai orang muda memiliki semangat dan vitalitas tinggi untuk menciptakan perubahan politik. &lt;/p&gt;&lt;p&gt; Karya terakhir mahasiswa yang patut ditulis sejarah --meski tidak sendirian-- ialah menjatuhkan pemerintahan Presiden Soeharto bersama rezim Orde Baru yang berkuasa 32 tahun pada 21 Mei 1998. &lt;/p&gt;&lt;p&gt; Persoalannya ialah apakah setiap perubahan mendasar di negeri ini harus melalui gerakan di luar parlemen? Melalui aksi massa kaum muda dan jaringan pendukungnya? &lt;/p&gt;&lt;p&gt; Sangat banyak kalangan yang sepakat agar kita bersabar, tidak emosional dan terburu-buru menjatuhkan rezim Mega-Hamzah sebelum periode kekuasaannya berakhir pada 2004. &lt;/p&gt;&lt;p&gt; Benar, aksi mahasiswa cukup berhasil menciptakan perubahan dan melahirkan rezim politik baru. Namun, cara demikian bukanlah pilihan paling tepat. Mengapa? Sebab, jika cara-cara menghentikan kekuasaan rezim yang berkuasa senantiasa melalui aksi di luar parlemen, melalui mosi tidak percaya di luar pemilu, kita selalu berada dalam situasi tidak normal. Selalu menjalani keadaan darurat sehingga harus menempuh cara atau mekanisme darurat pula. &lt;/p&gt;&lt;p&gt; Tetapi, menafikan gerakan mahasiswa merupakan kebodohan yang berlanjut. Sebab, aksi-aksi mereka dalam sejarah negeri ini telah terbukti mendorong perubahan politik, sekaligus melahirkan rezim penguasa baru. &lt;/p&gt;&lt;p&gt; Karena itu, pilihan paling bijaksana ialah merespons gerakan mahasiswa sebelum aksi-aksi mereka menjadi masif dengan eskalasi yang sulit diredam. Perlu tenggang rasa politis untuk mendengarkan tuntutan gerakan mahasiswa. Perlu kesabaran untuk merespons berbagai aksi mereka, betapapun panasnya kecaman, cacian, dan tudingan anak-anak muda itu terhadap penguasa. &lt;/p&gt;&lt;p&gt; Kini eskalasi aksi-aksi mahasiswa mulai membuat kita waswas. Sebab, tingkat pelibatan massa pendukungnya sudah sangat luas dan besar. Karena itu, aksi-aksi tersebut tidak bisa dihadapi dengan cara-cara represif yang sekadar mengatasnamakan hukum. Perlu respons politis untuk membuka ruang lebih terbuka guna mendorong akomodasi yang demokratis.**&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Editorial&amp;id=20351"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Blog ini dikerjakan oleh Anick HT, arek Ciputat yang melanglang buana di dunia maya.&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25280484-4152025847554472738?l=gerakanmahasiswa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/feeds/4152025847554472738/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25280484&amp;postID=4152025847554472738&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/4152025847554472738'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/4152025847554472738'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/2003/02/eskalasi-unjuk-rasa.html' title='Eskalasi Unjuk Rasa'/><author><name>admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25280484.post-4293663594237838414</id><published>2000-05-29T03:15:00.000-07:00</published><updated>2006-11-29T03:17:26.988-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gerakan Mahasiswa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>GERAKAN MAHASISWA SEBAGAI GERAKAN PEMBERDAYAAN DAN IDENTITAS</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua;font-size:130%;"&gt;GERAKAN MAHASISWA SEBAGAI GERAKAN PEMBERDAYAAN DAN IDENTITAS&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua;font-size:85%;"&gt;(Bagian Pertama dari  Dua Tulisan)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua;"&gt;Diskurkus tentang mahasiswa dan gerakannya sudah lama menjadi pokok bahasan dalam berbagai kesempatan pada hampir sepanjang tahun. Begitu banyaknya forum-forum diskusi yang diadakan, telah menghasilkan pula pelbagai tulisan, makalah, maupun buku-buku yang diterbitkan tentang hakikat, peranan, dan kepentingan gerakan mahasiswa dalam pergulatan politik kontemporer di Indonesia. Terutama dalam konteks keperduliannya dalam meresponi masalah-masalah sosial politik yang terjadi dan berkembang di tengah masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua;"&gt; Bahkan, bisa dikatakan bahwa gerakan mahasiswa seakan tak pernah absen dalam menanggapi setiap upaya depolitisasi yang dilakukan penguasa. Terlebih lagi, ketika maraknya praktek-praktek ketidakadilan, ketimpangan, pembodohan, dan penindasan terhadap rakyat atas hak-hak yang dimiliki tengah terancam. Kehadiran gerakan mahasiswa --- sebagai perpanjangan aspirasi rakyat ---- dalam situasi yang demikian itu memang amat dibutuhkan sebagai upaya pemberdayaan kesadaran politik rakyat dan advokasi atas konflik-konflik yang terjadi &lt;i&gt;vis a vis &lt;/i&gt;penguasa. Secara umum, advokasi yang dilakukan lebih ditujukan pada upaya penguatan posisi tawar rakyat maupun tuntutan-tuntutan atas konflik yang terjadi menjadi lebih signifikan. Dalam memainkan peran yang demikian itu, motivasi gerakan mahasiswa lebih banyak mengacu pada panggilan nurani atas keperduliannya yang mendalam terhadap lingkungannya serta agar dapat berbuat lebih banyak lagi bagi perbaikan kualitas hidup bangsanya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua;"&gt;Dengan demikian, segala ragam bentuk perlawanan yang dilakukan oleh gerakan mahasiswa lebih merupakan dalam kerangka melakukan koreksi atau kontrol atas perilaku-perilaku politik penguasa yang dirasakan telah mengalami distorsi dan jauh dari komitmen awalnya dalam melakukan serangkaian perbaikan bagi kesejahteraan hidup rakyatnya. Oleh sebab itu, peranannya menjadi begitu penting dan berarti tatkala berada di tengah masyarakat. Saking begitu berartinya, sejarah perjalanan sebuah bangsa pada kebanyakkan negara di dunia telah mencatat bahwa perubahan sosial (&lt;i&gt;social change&lt;/i&gt;) yang terjadi hampir sebagian besar dipicu dan dipelopori oleh adanya gerakan perlawanan mahasiswa.    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua;"&gt;Alasan utama menempatkan mahasiswa beserta gerakannya secara khusus dalam tulisan singkat ini lantaran kepeloporannya sebagai "pembela rakyat" serta keperduliannya yang tinggi terhadap masalah bangsa dan negaranya yang dilakukan dengan jujur dan tegas. Walaupun memang tak bisa dipungkiri, faktor pemihakan terhadap ideologi tertentu turut pula mewarnai aktifitas politik mahasiswa yang telah memberikan konstribusinya yang tak kalah besar dari kekuatan politik lainnya. Oleh karenanya, penulis menyadari bahwa deskripsi singkat dalam artikel ini belum seutuhnya menggambarkan korelasi positif antara pemihakan terhadap ideologi tertentu dengan kepeloporan yang dimiliki dalam menengahi konflik yang ada. Mungkin bisa dikatakan artikel ini lebih banyak mengacu pada refleksi diskursus-diskursus politik kekuasaan otoritarian Orde Baru yang sengit dilakukan di kalangan aktifis mahasiswa dalam dekade 90-an. Di mana sebagian besar gerakan-gerakan mahasiswa yang terjadi kala itu, penulis ikut terlibat di dalamnya. Tentunya, pendekatan analisis dalam artikel ini lebih mengacu pada gerakan mahasiswa pro-demokrasi jauh sebelum maraknya gerakan mahasiswa dalam satu tahun terakhir ini, yang akhirnya mengantarkan pada pengunduran diri Presiden Soeharto. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua;"&gt;Pemihakan terhadap ideologi tertentu dalam gerakan mahasiswa memang tak bisa dihindari. Pasalnya, pada diri mahasiswa terdapat sifat-sifat intelektualitas dalam berpikir dan bertanya segala sesuatunya secara kritis dan merdeka serta berani menyatakan kebenaran apa adanya. Maka, diskursus-diskursus kritis seputar konstelasi politik yang tengah terjadi kerap dilakukan sebagai sajian wajib yang mesti disuguhkan serta dianggap sebagai tradisi yang melekat pada kehidupan gerakan mahasiswa. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua;"&gt;Pada mahasiswa kita mendapatkan potensi-potensi yang dapat dikualifikasikan sebagai  &lt;b&gt;modernizing agents&lt;/b&gt;. Praduga bahwa dalam kalangan mahasiswa kita semata-mata menemukan transforman sosial berupa label-label penuh amarah, sebenarnya harus diimbangi pula oleh kenyataan bahwa dalam gerakan mahasiswa inilah terdapat pahlawan-pahlawan damai yang dalam kegiatan pengabdiannya terutama (kalau tidak melulu) didorong oleh aspirasi-aspirasi murni dan semangat yang ikhlas. Kelompok ini bukan saja haus edukasi, akan tetapi berhasrat sekali untuk meneruskan dan menerapkan segera hasil edukasinya itu, sehingga pada gilirannya mereka itu sendiri berfungsi sebagai edukator-edukator dengan cara-caranya yang khas". &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua;"&gt; Masa selama studi di kampus merupakan sarana penempaan diri yang telah merubah pikiran, sikap, dan persepsi mereka dalam merumuskan kembali masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya. Kemandegan suatu ideologi dalam memecahkan masalah yang terjadi merangsang mahasiswa untuk mencari alternatif ideologi lain yang secara empiris dianggap berhasil. Maka tak jarang, kajian-kajian kritis yang kerap dilakukan lewat pengujian terhadap pendekatan ideologi atau metodologis tertentu yang diminati. Tatkala, mereka menemukan kebijakan publik yang dilansir penguasa tidak sepenuhnya akomodatif dengan keinginan rakyat kebanyakan, bagi mahasiswa yang &lt;i&gt;committed&lt;/i&gt; dengan mata hatinya, mereka akan merasa "terpanggil" sehingga terangsang untuk bergerak.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua;"&gt;Dalam kehidupan gerakan mahasiswa terdapat adagium patriotik yang bakal membius semangat juang lebih radikal. Semisal, ungkapan "menentang ketidakadilan dan mengoreksi kepemimpinan yang terbukti korup dan gagal" lebih mengena dalam menggugah semangat juang agar lebih militan dan radikal. Mereka sedikit pun takkan ragu dalam melaksanakan perjuangan melawan kekuatan tersebut. Pelbagai senjata ada di tangan mahasiswa dan bisa digunakan untuk mendukung dalam melawan kekuasaan yang ada agar perjuangan maupun pandangan-pandangan mereka dapat diterima. Senjata-senjata itu, antara lain seperti; petisi, unjuk rasa, boikot atau pemogokan, hingga mogok makan. Dalam konteks perjuangan memakai senjata-senjata yang demikian itu, perjuangan gerakan mahasiswa --- jika dibandingkan dengan intelektual profesional ---- lebih punya keahlian dan efektif. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua;"&gt;Kedekatannya dengan rakyat terutama diperoleh lewat dukungan terhadap tuntutan maupun selebaran-selebaran yang disebarluaskan dianggap murni pro-rakyat tanpa adanya kepentingan-kepentingan lain meniringinya. Adanya kedekatan dengan rakyat dan juga kekauatan massif mereka menyebabkan gerakan mahasiswa bisa bergerak cepat berkat adanya jaringan komunikasi antar mereka yang aktif ( ingat teori &lt;i&gt;snow bowling&lt;/i&gt;)..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua;"&gt;Oleh karena itu, sejarah telah mencatat peranan yang amat besar yang dilakukan gerakan mahasiswa selaku &lt;i&gt;prime mover&lt;/i&gt; terjadinya perubahan politik pada suatu negara. Secara empirik kekuatan mereka terbukti dalam serangkaian peristiwa penggulingan, antara lain seperti : Juan Peron di Argentina tahun 1955, Perez Jimenez di Venezuela tahun 1958, Soekarno di Indonesia tahun 1966, Ayub Khan di Paksitan tahun 1969, Reza Pahlevi di Iran tahun 1979, Chun Doo Hwan di Korea Selatan tahun 1987, Ferdinand Marcos di Filipinan tahun 1985, dan Soeharto di Indonesia tahun 1998. Akan tetapi, walaupun sebagian besar peristiwa pengulingan kekuasaan itu bukan menjadi monopoli gerakan mahasiswa sampai akhirnya tercipta gerakan revolusioner. Namun, gerakan mahasiswa lewat aksi-aksi mereka yang bersifat massif politis telah terbukti menjadi katalisator yang sangat penting bagi penciptaan gerakan rakyat dalam menentang kekuasaan tirani.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua;"&gt;&lt;a href="http://www.transparansi.or.id/majalah/edisi20/20berita_4.html"&gt;Sumber&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Blog ini dikerjakan oleh Anick HT, arek Ciputat yang melanglang buana di dunia maya.&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25280484-4293663594237838414?l=gerakanmahasiswa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/feeds/4293663594237838414/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25280484&amp;postID=4293663594237838414&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/4293663594237838414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/4293663594237838414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/2000/05/gerakan-mahasiswa-sebagai-gerakan.html' title='GERAKAN MAHASISWA SEBAGAI GERAKAN PEMBERDAYAAN DAN IDENTITAS'/><author><name>admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25280484.post-171355078343857371</id><published>1997-11-15T07:50:00.000-08:00</published><updated>2006-12-11T07:53:20.214-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gerakan Mahasiswa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Orde Baru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soeharto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Sang Pandito Orde Baru</title><content type='html'>Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Syamsuddin Haris&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:-1;"&gt;SEPANJANG sejarah kebangsaan kita, paling kurang ada dua pihak yang menolak, dan karena itu bisa dianggap sebagai "penghambat" berkembangnya gagasan demokrasi. Pertama, pemerintah kolonial Belanda yang setiap saat berupaya mematikan ide, gerakan, dan aktivitas dari kalangan elite pergerakan kebangsaan kita yang menuntut persamaan derajat, kebebasan, dan kemerdekaan. Melalui politik &lt;i&gt;rust en orde&lt;/i&gt;, kaum pergerakan yang mencoba mengangkat harkat rakyat nusantara dibungkam dan ditindas, dan tokoh-tokohnya dibuang serta dipenjarakan. Atas nama ketertiban, persamaan hak-hak politik dan ekonomi di antara berbagai unsur masyarakat, Hindia Belanda dinafikan. Masyarakat kita bahkan diperlakukan sebagai &lt;i&gt;inlander&lt;/i&gt;, yang memiliki hak-hak terbatas dan berbeda dengan golongan Eropa dan Timur Asing.  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:-1;"&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:-1;"&gt; Hambatan kedua datang dari sebagian elite pergerakan sendiri yang menolak ide demokrasi sebagai alternatif terbaik bagi susunan masyarakat Indonesia yang dibayangkan. Selama periode awal abad ke-20, kalangan yang paling vokal menentang ide demokrasi ini berkumpul di dalam organisasi &lt;i&gt;Comitee voor het Javaansche Nationalisme&lt;/i&gt; (Komite Nasionalisme Jawa) yang dipimpin oleh Raden Mas Soetatmo Soerjokoesoemo. Melalui komite yang sengaja dibentuk untuk menyebarluaskan gagasan "nasionalisme Jawa" ini Soetatmo menjadi juru bicara bagi upaya pembangunan kembali kebudayaan dan tradisi Jawa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:-1;"&gt;Dalam perdebatannya dengan Tjipto Mangoenkoesoemo--seorang demokrat dan penganjur emansipasi politik bagi kaum bumiputera--pada tahun 1918 misalnya, Soetatmo mempersoalkan kemampuan ide demokrasi mencapai masyarakat yang dicita-citakan. Menurut Soetatmo, ide persamaan dan pemerintahan rakyat merupakan khayalan belaka. Di dalam demokrasi, kata Soetatmo selanjutnya, "tidak akan ada persatuan, hanya perpecahan, tidak ada ketertiban, hanya kekacauan" (&lt;i&gt;Sabdo Pandito Ratoe, &lt;/i&gt;1929). Keadaan tertib, tenteram, adil, dan makmur (&lt;i&gt;tata tentrem karta raharja&lt;/i&gt;) hanya bisa dicapai apabila prinsip kearifan dan kebijaksanaan dikembangkan oleh sang ayah di dalam keluarga. Apa pun yang dikatakan ayah adalah arif dan ideal, baik untuk keluarga, demikian juga bagi negara. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:-1;"&gt;Cara berpikir Soetatmo memang berangkat dari penyamaan keluarga dengan negara. Soetatmo mengibaratkan negara sebagai sebuah keluarga, dan sang ayah yang berlaku sebagai kepala keluarga dianggap identik dengan kedudukan kepala negara. Bagi Soetatmo, tidak mungkin seorang anak mempunyai hak-hak yang sama dengan seorang ayah. Sebab, jika demikian itu yang terjadi, anak-anak akan melawan orang tuanya, dan itu berarti pertentangan serta ketidakstabilan di dalam keluarga atau negara. Karena itu, untuk menjamin ketenteraman dan ketertiban, keluarga (negara) harus dipimpin oleh seorang ayah, bapak, atau sang &lt;i&gt;pandito&lt;/i&gt; yang bijaksana. Tanpa seorang &lt;i&gt;pandito&lt;/i&gt; yang bijaksana, keluarga atau negara akan mengalami kekacauan.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:-1;"&gt;&lt;b&gt;Negara Integralistik&lt;/b&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:-1;"&gt;Simplifikasi atas konsep negara seperti inilah yang kemudian dilanjutkan oleh Profesor Soepomo ketika mengemukakan pemikirannya mengenai "negara integralistik" di dalam sidang-sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Sumber dan rujukan Soepomo memang tidak seluruhnya berasal dari Soetatmo. Tapi jelas sekali, Soepomo menentang hak-hak dasar manusia selaku warga negara khususnya, dan kedaulatan rakyat pada umumnya yang menjadi arus utama perjuangan kaum pergerakan dan diperjuangkan dengan gigih oleh Bung Hatta di dalam BPUPKI. Bagi Soepomo--yang didukung pula oleh Bung Karno, tidak ada dualisme antara negara dan individu, juga antara susunan hukum negara dan susunan hukum individu. Karena itu, negara harus bersatu dengan seluruh rakyatnya mengatasi seluruh golongan di dalam lapangan apa pun. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:-1;"&gt;Akar-akar geneologis pemikiran Soetatmo dan Soepomo bersumber dari gagasan bersatunya hamba dan tuan (&lt;i&gt;jumbuhing kawula-gusti&lt;/i&gt;) dalam pemikiran tradisional Jawa tentang negara ideal. Menurut perspektif yang berkembang pesat pada abad ke-16 sampai ke-19 itu, negara yang tenteram dan sejahtera hanya dapat dicapai apabila &lt;i&gt;kawula&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;gusti &lt;/i&gt;bersatu, sebagaimana menyatunya manusia dengan sang Pencipta.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:-1;"&gt;Gagasan yang kemudian "dipinjam" oleh Soekarno melalui Demokrasi Terpimpinnya, serta tumbuh subur di bawah Orde Baru itu, memang tidak bertolak dari ide demokrasi. Bahkan, seperti di atas, pemikiran yang kemudian dikenal sebagai konsep "negara kekeluargaan" ini dikembangkan untuk menolak ide persamaan, kebebasan mengeluarkan pikiran dan pendapat, kebebasan berserikat, dan kedaulatan rakyat pada umumnya yang menjadi benang merah gagasan demokrasi. Dalam pertumbuhan ide kebangsaan selama periode 1908-1945, kerangka pemikiran model Soetatmo dan Soepomo sebenarnya merupakan arus pinggiran yang "menyempal" di tengah arus utama perdebatan intelektual kaum pergerakan mengenai Indonesia yang dicita-citakan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:-1;"&gt;Oleh karena itu, agak mengherankan sekaligus memprihatinkan jika banyak kalangan, termasuk intelektual, ternyata merasa &lt;i&gt;safe&lt;/i&gt; dengan keinginan simbolik Pak Harto menjadi &lt;i&gt;pandito&lt;/i&gt;. Seakan-akan selama ini Pak Harto belum menjadi &lt;i&gt;pandito&lt;/i&gt; dalam arti yang sesungguhnya. Suka atau tidak, sejak dipilih kembali untuk ketiga kalinya sebagai presiden (1978), kita secara kolektif melalui MPR sebenarnya telah memperlakukan Pak Harto sebagai sang &lt;i&gt;pandito &lt;/i&gt; Orde Baru. Segenap kekuatan politik resmi dan para elite pemerintahan kehilangan kreativitas politik mereka, karena setiap kali harus memohon "restu", "petunjuk", dan &lt;i&gt;wicaksono&lt;/i&gt; dari Pak Harto selaku &lt;i&gt;pandito&lt;/i&gt;. Lebih dari itu, pernyataan dan pilihan politik Pak Harto hampir selalu dipandang sebagai cermin dari kearifan, kebajikan, dan kebijaksanaan beliau selaku "Bapak" bagi keluarga Orde Baru. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:-1;"&gt;&lt;b&gt;"Negara Kekeluargaan" &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:-1;"&gt;Akibatnya, pertama, hampir tidak ada sikap korektif dan kritis terhadap Pak Harto selaku Presiden Republik kita. Sikap demikian telanjur dipandang sebagai perlawanan terhadap "bapak" atau sang &lt;i&gt;pandito&lt;/i&gt; yang dianggap bisa membawa ketidakstabilan di dalam negara. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:-1;"&gt;Sejak gerakan mahasiswa bangkrut pada akhir 1970-an, kritik terbuka masyarakat terhadap Pak Harto bisa dikatakan berkurang secara drastis. Kritik terhadap Orde Baru hampir selalu berputar di sekitar partai dan DPR yang mandul, birokrasi (sipil dan ABRI) yang &lt;i&gt;over-acting&lt;/i&gt;, dan berbagai kebijakan politik serta ekonomi yang tidak&lt;i&gt; fair&lt;/i&gt; dan diskriminatif. Lembaga kepresidenan sebagai faktor determinan malah menjadi institusi politik yang sensitif dan seolah-olah "tabu" untuk dikritik. Pengalaman dan nasib kelompok Petisi 50 sejak tahun 1980--beberapa anggotanya bahkan akhirnya "bertobat"--sampai Sri-Bintang Pamungkas (1996) dan Subadio Sastrosatomo (1997) memperlihatkan dengan jelas kecenderungan tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:-1;"&gt;Kedua, dalam praktiknya, "negara kekeluargaan" benar-benar menjadi milik keluarga. Prioritas pertama bagi posisi-posisi politik adalah para anggota keluarga sendiri: anak, istri, menantu, dan seterusnya. Kalau bukan anggota keluarga, mereka harus memiliki komitmen untuk melindungi "keselamatan" keluarga utama, dengan sang &lt;i&gt;pandito&lt;/i&gt; di pucuknya. Kecenderungan serupa berlaku pula dalam pemberian fasilitas, proteksi, dan monopoli atas sumber-sumber ekonomi yang penting di dalam negara. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:-1;"&gt;Pada gilirannya, kecenderungan yang dikemukakan di atas berimplikasi luas. Batas-batas antara kepentingan negara dan &lt;i&gt;vested interest&lt;/i&gt; keluarga menjadi begitu kabur, sehingga acap tidak jelas, apakah titik berat loyalitas birokrat dan ABRI, misalnya, lebih kepada negara, atau justru untuk keluarga. Dan, dalam kerangka demikian, pilihan-pilihan politik yang mengatasnamakan negara hampir pasti terbebani dan terkait dengan kepentingan keluarga. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:-1;"&gt;Oleh karena itu, nasib Republik kita harus menjadi agenda serius para politisi dan anggota MPR dewasa ini. Kalau tidak, kita selamanya akan mengaku sebagai Republik dan negara demokrasi, tapi masih terperangkap pada sindrom &lt;i&gt;pandito&lt;/i&gt; negara patrimonial.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:-1;"&gt;&lt;b&gt;Majalah D&amp;R, 15 November 1997&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:-1;"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://www.tempointeraktif.com/ang/min/02/37/kolom2.htm"&gt;Sumber&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Blog ini dikerjakan oleh Anick HT, arek Ciputat yang melanglang buana di dunia maya.&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25280484-171355078343857371?l=gerakanmahasiswa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/feeds/171355078343857371/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25280484&amp;postID=171355078343857371&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/171355078343857371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25280484/posts/default/171355078343857371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerakanmahasiswa.blogspot.com/1997/11/sang-pandito-orde-baru.html' title='Sang Pandito Orde Baru'/><author><name>admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
